TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapter 07


__ADS_3

Alex mendekap Abigail disaat gadisnya itu memasuki ruangan dengan paper bag di tangan. Alex juga mengecup bibir Abigail singkat, sambil tersenyum tipis. Abigail hanya terpatung disaat dirinya yang baru masuk. Sudah diberikan sambutan yang hangat dan juga mendebarkan.


“Aku sudah menunggumu, Abigail. ” tekan Alex merengkuh pinggang Abigail untuk menuntun nya duduk di atas sofa. Abigail masih terdiam, namun ia menurut untuk mengikuti langkah jejak kaki Alex.


Alex mendudukan Abigail tepat disampingnya. Ia mengambil alih paper bag yang Abigail bawa, lalu mulai membukanya. Tawanya seketika hampir meledak, namun ia tahan untuk tidak membuat Abigail merasa malu.


Astaga, bagaimana bisa remaja sebesar Abigail, masih mengenakkan kotak bekal bergambar Mickie Mouse. Alex hanya menggeleng-gelengkan wajahnya tak percaya.


“Iiihh kenapa diliatin mulu.” rengek Abigail mulai risih, ketika Alex menatap kotak bekal miliknya. Alex mengangkat wajahnya, ia terpaku disaat wajah Abigail yang memerah, hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.


Abigail menyatukan alisnya bingung. “Kena-” Alex mengecup bibir Abigail ringan. Ia menyusupkan lidahnya, bertemu dengan lidah Abigail. Menggerakan nya sekilas. lalu ia menyentak majukan tubuhnya menjadi agresif. Bibir Abigail yang mulanya hanya ia kecup ringan, kini ia permainkan intens.


Alex mendorong punggung Abigail untuk meluruh jatuh di atas sofa. Kaki Abigail yang tadi menjuntai kelantai, ia angkat untuk memeluk kedua sisi pinggangnya. Sebelum itu Alex sudah menaruh paper bag dengan cekatan di atas nakas. Abigail menggeram pelan saat ciuman Alex turun ke leher. Kedua tangan Abigail yang berada diatas kepala gadis itu sendiri, Alex tahan dengan satu tangannya. Sewaktu-waktu agar Abigail tidak memberontak disaat kesadaran gadis itu mulai jernih.


“Ahh.”


Satu desahan lolos dari bibir mungil Abigail. Tangan Alex yang bebas dipergunakan nya unyuk meremas breast Abigail yang sekal dan tegak menantang. Abigail mengenakkan kemeja warna putih, yang mencetak jelas lekuk tubuhnya. Sedangkan bawahan gadis itu, mengenakkan rok span selutut.


“Kau sangat nakal menggunakan pakaian terbuka, Sayang.” Alex menggeram tak suka. Ia semakin meremas breast Abigail yang masih ada didalam kemeja dengan kasar. Mata Abigail membulat kaget saat merasakan perih dan geli disaat yang bersamaan.

__ADS_1


“Akhh! ” Abigail memekik bulat. Tangan nya yang masih ditahan oleh tangan Alex diatas kepalanya saling meremas satu sama lain. Saat ujung dadanya digigit keras oleh gigi Alex, dari luar kemejanya.


Alex terkekeh gemas. dengan ujung dada Abigail yang ia mainkan layaknya mainan. Abigail mulai bergerak gelisah, ketika Alex membuka kancing kemeja nya dengan mudah. Ketika kancing sudah berada di celah kedua dadanya, tangan Alex yang semula mengunci tangan Abigail. kini turun, merobek kemeja Abigail dengan begitu mudah. Menyembulah kedua payudara Abigail dibalik bra nya. Mata Alex menggelap saat kesekalan Abigail menjadi pemandangan di hadapannya.


“J-jangan.” Abigail menahan pundak Alex untuk tidak maju. Ia menggeleng-gelengkan wajahnya enggan. Tatapannya seolah memohon.


Bukannya berhenti. Gairahnya semakin memuncak, memandangi wajah Abigail yang sangat seksi ketika memohon. “Jangan berlama-lama kan? Oke. Aku akan segera memasuki mu, Darling. ” Alex langsung mengangkat Abigail di depan tubuhnya. Ia menggendong Abigail ala koala.


Tangannya menggapai gagang pintu, lalu memasuki kamar yang berada di ruang kerjanya. Seketika mata Abigail langsung saja terperangah melihat keadaan sekitar yang sangat memukau. Alex langsung mengunci pintu. Setelah itu ia lempar Abigail keatas kasur. Tubuhnya merangkak mensejajarkan dengan tubuh Abigail. Ia menahan kedua tangannya pada sisi kepala Abigail, agar tak sepenuhnya menimpa tubuh Abigail.


“J-jangan. Aku mohon.. ” tubuh Abigail melengkung indah. Lidah Alex sudah berada pada sekat *********** sekarang. Alex langsung melucuti pakaian Abigail dengan begitu mudah. Abigail masih tak sadar, ia terbuai dengan ciuman Alex pada dadanya.


“N-nanti kalau mama sama papa tahu.. ”


Abigail meracau kecil. Matanya sayup-sayup memandang Alex yang tengah turun untuk melepaskan pakaiannya. Pipinya bersemu merah, mendapati milik pria yang samasekali tak pernah ia lihat.


“Rileks sayang.. Aku akan pelan-pelan. ”


Abigail terperangah. Ia memang tak pernah mengetahui ukuran milik pria. Namun yang di depan matanya, kini memanglah- membuatnya ngeri. Alex kembali merangkak, ia menarik dasi yang teronggok di sisi kepala Abigail.

__ADS_1


“Jangan berteriak keras, oke? Nanti aku jadi tidak konsen. ” Abigail mengangguk cepat. Bibirnya melengkung membentuk seulas senyuman, sedangkan tangannya yang tadi berada diatas kepalanya ia kalungkan pada leher Alex.


“Berarti habis ini, kita akan menjadi sepasang kekasih kan? ”


Abigail bertanya dengan begitu semangat. Alex menghela nafas, dan mengangguk. Senyumnya menggambarkan kesedihan yang mengganjal.


Sungguh miris kehidupan gadis dihadapan nya. Abigail sangat mendambakan kasih sayang, namun tak pernah mendapatkan nya. Tak pernah Alex bayangkan jika fakta yang sedang kedua orangtua nya lakukan diluar negri. Pasti akan membuat hati nya hancur berkeping-keping.


Ia mainkan dada Abigail dengan lembut penuh kasih sayang. Alex lebih memilih untuk bermain lembut sekarang. Wajahnya mendekat kearah perut, menciumnya nya dengan begitu lihai. Bibirnya turun hingga menyentuh kewanitaan Abigail yang berada di bawah sana.


Punggung Abigail melengkung maju. Dadanya membusung menikmati. Wajahnya berusaha menatap Alex untuk melihat kegiatan yang sedang pria itu lakukan hingga membuatnya menggelinjang geli.


“Gelii, Hubby.” Abigail mendesah dengan begitu polos.


Hubby.


Bibirnya langsung saja memekik tersentak kaget saat Alex mencoba memasuki miliknya. Abigail linglung sesaat, dengan wajah yang menyeringit. Air matanya turun membasahi pipi. Kehormatan yang ia jaga selama sembilan belas tahun ini sudah hilang.


Erangan kesakitan Abigail mengalun indah pada telinga Alex. Namun saat rasa itu semakin pada puncaknya. Alex langsung menenggelamkan dasi yang sudah ia bentuk seperti gumpalan untuk masuk pada rongga mulut Abigail. Agar desahan Abigail menjadi tenggelam, tak sekeras yang diawal.

__ADS_1


“Aku akan belajar mencintaimu, Abigail. Aku akan belajar mencintaimu. ” bisik Alex dalam batinnya.


__ADS_2