TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapte 31 : waktu berlalu


__ADS_3

2 bulan kemudian....


Sebelum akhirnya sampai ke sidang perceraian terakhirnya dengan Jesse, Alex sempat-sempatnya menghubungi Abigail yang diseberang sana, juga sedang dag-dig-dug menyambut hari ini. bibi dari Alex masih menemaninya, namun kali ini ditemani oleh ibu dari Alex juga.


Ny. Lazuardi memang sangat cantik, wajahnya bersinar, hidungnya mancung, kedua matanya bulat, meskipun tak dapat melihat. pahatan wajah perempuan paruh baya disampingnya, membuat Abigail semakin rindu dengan kekasihnya.


“Kamu mau makan apa Abi? ” pertanyaan itu langsung membuat tubuh Abigail terlonjak semangat.


“Mau makan indomie! pakai telur! pakai sayur! pakai cabai! jangan lupa tambahain saus nya! ” pekik Abigail mengabsen keinginannya lewat indomie.


“Baiklah, ibu akan masak. tapi jangan malas minum air putih ya! habis makan mie gaboleh makan es, oke? nanti perutnya kaget lagi. ” ujar nyonya Lazuardi, yang tak lain adalah Lidya cahyo Lazuardi.


“Iya, siap ibu! ” ucap Abigail dengan semangat, bibi Alex yang berada disampingnya menggelengkan wajah geli, atas perilaku anak remaja disampingnya.


“Alex memang sudah besar. ia pintar sekali memilih istri yang lucu dan imut seperti ini. ” ujar Kartika dalam batinnya.


Disisi Lain...


Troy menghembuskan nafas gusar, baru kali ini ia berkesempatan untuk kembali melihat wajah Jesse setelah dua bulan lamanya. Mata Alex memincing melihat Jesse seakan tidak menganggapnya hadir dalam sidang yang sedang berlangsung.


Entah kenapa, secara refleks Troy bernafas legah, saat hakim sudah memutuskan, bahwa mereka berdua resmi bercerai. Tentu saja tidak ada raut wajah kebahagiaan, selain raut wajahnya yang tersenyum tanpa sadar.


Tadi Troy ikut dengan embel-embel akan mengantarkan Alex saja, namun ternyata Alex mengizinkannya untuk masuk kedalam ruang persidangan. Setelah sidang selesai, Troy sudah memanaskan mobil untuknya dan Alex, ia menunggu kedatangan Alex didalam mobil.


Matanya menyeringit menatap Alex yang sedang berbicara dengan Jesse di kejauhan sana, Troy perlahan mulai menjalankan mobilnya menuju tempat mereka berdua, kebetulan jok kemudi ada di posisi kiri, hingga akhirnya pas sekali berhenti di dekat mereka.


“Kau bisa pulang dengan Troy Jesse. Setidaknya khawatirkan kandunganmu! sangat memprihantikan kalau dari sini ke rumah, kau hanya berjalan kaki! ” seru Alex dengan nada sepelan mungkin, Jesse terkekeh hambar.


“Lebih baik kau pergi Alex. Tak ada gunannya memberikan saran padaku! ” balas Jesse cepat dengan mata yang memincing tajam.


Setelah mengatakan hal itu Jesse langsung melenggang pergi dari sana, Alex menghembuskan nafas gusar, sebenci apapun dirinya pada Jesse, tapi tetap saja ia memiliki rasa peduli. Apalagi setelah mendengar dari berita dari Roy, paman Jesse sendiri, yang mengatakan bahwa Jesse di asingkan oleh kedua orangtuanya setelah tahu bahwa Jesse hamil.


Untungnya kedua orangtua Jesse bijak, mereka tidak menuduh Alex, bahwa bayi itu adalah hasil dari hubungannya dengan Jesse. Karena orangtua Jesse sendiri tahu, bahwa sedari menikah saja mereka sudah pisah kamar.


Troy menunrunkan kaca mobil, Alex langsung mengarahkan Troy untuk mengejar Jesse saja. “Troy, Kau harus mengantarkannya pulang, kalian tidak boleh bertengkar diakhir pertemuan seperti ini. ” ujar Alex memberikan instruksi.

__ADS_1


“Akhir pertemuan? ” tanya Troy berupa gumaman kecil, Alex mengangguk meng-iyakan, “Maksudnya? ” tanya Troy lagi, setelah Alex belum menjawabnya.


“Besok Jesse akan dikirim ke rusia, untuk tinggal seorang diri disana. Kau jangan menyia-nyia kan waktu kecil seperti ini, kalian tidak boleh bertengkar diakhir pertemuan. ” ujar Alex menjelaskan, mata Troy membulat terkejut.


“B-baiklah! ” seru Troy cepat, Alex mengangguk sekilas, setelah ini ia akan menghubungi supir pribadinya saja.


Troy menaikkan kembali kaca mobil untuk seperti semula, sebelum memutar setir dengan kedua tangannya, matanya jatuh menatap cincin yang tersemat sejak satu bulan yang lalu, ia resmi menjadi seorang suami.


“Memperbaiki masalah bukan harus kembali berbubungan lagi Troy... kau harus dewasa. Berbicara dengan Jesse, bukan berarti kau berkhianat pada istrimu Troy.. ” ujar Troy dalam batinnya.


------------------


Alexander Pov.


Siang sudah ingin berlalu, aku segera memanggil supir pribadi untuk menjemputku dari sini, tujuanku sekarang adalah untuk bertemu Abigail, kekasih kecilku. Aku benar-benar sangat merindukkanya, dua bulan tidak ada absen untukku melewatkan percakapan via ponsel dengannya.


Dan sekarang sudah waktunya untukku dan Abigail bertemu, kulirik ponsel yang belum menampakkan notif apapun dari Abigail. Wajahku mengadah menatap langit mobil dengan rasa yang tak sabaran, namun saat bunyi notifikasi terdengar, aku segera mengangkatnya dengan cepat.


Ting!


Tuan, Mr. Kendrick sudah menunggu di depan, ia bilang kalau ada suatu hal yang perlu dibicarakan, menyangkut proyek kerja kemarin.


“Shit, aku melupakan pertemuan ini. ” gumamku merasa kesal sendiri.


Segera kuperintahkan supir untuk memutar balikkan arah, aku mendesah lelah saat harus menghadapi Mr. Kendrick, yang tidak pernah puas saat berbicara, pasti akan memakan waktu banyak untuk berhadapan dengannya. Ia memang pengusaha yang baik dan juga cekatan, hingga membuat diriku tertarik untuk bekerjasama.


Alexander Pov off.


-----------------


Pukul 22 : 30 Malam


Abigail membuka dompet nya yang terisi banyak lembaran lembaran nominal berjumlah besar. tidak ketinggalan dengan beberapa atm yang tampak menghiasi isi dompet nya. Abigail kembali menutup dompet itu kembali, saat setelah ia menghela nafas panjang.


“Duit nya kok makin banyak sih! ”- rutuk Abigail sewot sambil melihat terus tampilan luar dompet nya, yang terlapisi bahan kulit mahal. yang hanya ada lima diseluruh dunia.

__ADS_1


Tiba tiba saja, ada yang mengetuk pintu kamar abigail di tengah malam yang sunyi ini. abigail langsung saja waspada, ketika ketukan itu jelas semakin terdengar. ia memang tak percaya dengan hal-hal berbau mistis. namun, abigail itu anaknya parnoan. jadi gampang takut sama suatu hal yang buat dia enggak nyaman.


“Siapa sih. udah malem juga!”


Gerutu Abigail mencelos. ia langkah kan kakinya malas kearah pintu berwarna mocca, yang di lapisi oleh beberapa hiasan emas di sekitar nya. langkahnya sudah menapak jelas, beberapa centi dari jarak bedirinya pintu kokoh itu. dengan ogah ogahan, abigail membuka knop pintu.


Namun, alangkah kaget nya. saat yang bertamu ; adalah orang yang sangat menyeramkam menurutnya. memiliki cambang hitam disekitar rahangnya, lalu memakai kacamata hitam layaknya rentenir. juga, jangan lupakan topi hitam yang melekat indah pada kepala pria tersebut.


“Ih!! ngapain kesini !!”- seru Abigail kencang tanpa menyadari suaranya yang sudah naik pitam. mendengar ucapan keras yang keluar dari bibir gadis kesayangan nya itu. buru buru sang pria, langsung mendorong tubuh Abigail kencang. lalu, dengan gerakan cepat ; ia menutup pintu dengan mudah.


“iihh ngapain sii— mmmppsshh”


Mulut Abigail di bekap sang pria yang tiba-tiba datang kekamar nya. pria itu mendekap abigail erat, menyeret nya berbaring diatas ranjang berukuran kingsize. Abigail meronta ronta tak suka disaat ada yang memaksa nya melakukan suatu hal. Abigail mencengkram erat kedua pundak pria di hadapan nya. disaat seluruh pakaian nya sudah tertanggal.


“Panggil aku hubby, sayang! ”- Abigail mengangguk patuh dengan cepat. kedua tangan nya sudah terikat diatas kepalanya. ia memejamkan matanya refleks saat pria yang tak lain adalah Alex, mulai membuka bajunya.


“Kamu sudah sering melihat tubuhku bubu.. ”- ujar Alex menggoda Abigail yang memerah pasi. ia menggigit bibirnya disaat Alex mulai bermain dengan tubuh mungil nya yang molek.


“Tapi kan! papah belum izinin kita bertemu!!”- rengek Abigail menahan desahan nya saat tangan Alex mulai bergerak nakal di bawah sana. Alex tertawa hambar, lalu ia kembali melancarkan aksi nya.


“Aku sudah tidak sabar sayang.. ” serak Alex menatap abigail dengan pandangan menggelap.


“Emmm, nanti bayi nya jadi kesakitan! ” tolak Abigail masih enggan, untuk menerima ajakan calon suaminya.


“Aku akan bermain pelan. ” tekan Alex dengan suara lembut, abigail mulai pasrah, ia juga tidak ingin berbohong, bahwa dirinya merindukan sentuhan Alex disetiap jengkal tubuhnya.


Abigail ber 'oh' ria, saat kenyataan yang sudah seringkali ia dengar, menjadi jawaban untuk Alex. Abigail menggeleng-gelengkan wajahnya enggan, saat Alex mengambil dasi yang terletak di sisi tubuhnya.


“Iihhh!! bubu enggak mau di sumpel lagi pake daasiii!!!!! ”- rengek Abigail menatap marah Alex yang dengan santai nya, menaruh dasi itu. diatas perut rata miliknya.


Abigail memejamkan matanya, saat keringat membasahi pelipis nya. ia sedang menunggu di saat-saat Alex mulai memasuki nya. namun, keningnya menyeringit bingung— karena Alex yang masih belum, memasuki nya.


Saat Abigail ingin bertanya. disaat yang bersamaan, Alex melakukan penestrasi tersebut. membuat bibir abigail memekik bulat. “Akh!! ”- Alex langsung masukkan dasi yang sudah ia bentuk menjadi gumpalan, kedalam rongga mulut Abigail.


“Desahan mu sungguh keras bubu — tidak mungkin, aku tidak menyumpal mu.. ”- kekeh Alex gemas, menatap wajah Abigail yang ingin marah dalam penyatuan mereka.

__ADS_1


__ADS_2