
Alex meletakkan laptopnya dalam diam, ia melirik kekasih kecilnya yang masih terbaring lelah diatas ranjang dengan begitu pulas, sudut bibirnya berkedut menahan senyuman, mengingat bahwa dirinya sudah berpisah dari mantan istrinya, membuat perasaan Alex menjadi legah.
“Aku tidak tahu, mungkin kalau kau tidak datang dalam kehidupanku, hidupku akan datar-datar saja sayang. ” bisik Alex lirih terhadap dirinya sendiri.
Ia menghampiri Abigail yang masih tertidur, tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Abigail dengan sayang dan penuh kelembutan.
“I love you. ” bisik Alex lirih, tepat di telinga Abigail, dengan kecupan sekilas.
Alex berjalan mengambil pakaian dan juga celana kerjanya seperti semula, tadi ia sudah membicarakan tentang proyek baru bersama Mr. Kendrick , rekan kerjanya. Ternyata hasil yang mereka kerjakan, berbuah manis, karena setelah ini, tentu saja perusahaan nya akan semakin berkembang.
“Lulus dalam pekerjaan, perusahaan papah sudah Alex kembangkan dimana-mana, lalu proyek besar yang akan mencapai tujuan, sambil ditemani dengan perempuan cantik yang sedang mengandung anakku. Sungguh nikmat yang kau berikan, akan selalu kusyukudi Tuhan. ” ujar Alex dalam batinnya.
Setelah selesai berpakaian, ia akan turun untuk berbicara dengan Roy, membahas sebuah pernikahannya dengan Abigail, yang sudah dirancang sejak awal dua bulan yang lalu.
Alex menutup pintu kembali, ia menuruni anak tangga dengan jantung yang berdegup kecang, ini memang bukan kali pertama pertemuannya dengan Roy, bahkan sejak ia dan Abigail tidak boleh bersama dulu, Roy lah yang menjadi partner untuknya mempersiapkan pernikahan.
__ADS_1
Semuanya telah selesai, dari desain dan juga cincin, sekarang mereka hanya perlu menggerakan para petugas dibidang WO untuk mengurusnya, selebihnya disisakan oleh fitting baju saja, dan Abigail harus ikut andil didalamnya.
“Alex. ” panggilan itu membuat Alex langsung mempercepat langkahnya menuju ruang tamu, setelah sampai dan mendapati Roy disana, Alex segera memeluk pria itu dengan gerakan mainly.
“Kau disini? kenapa tidak menghubungiku? ” tanya Roy sambil duduk diatas sofa ruangtamu, Alex pun ikut duduk dihadapannya, jarak mereka dipisahkan oleh meja diantara keduanya.
“Aku sudah sangat rindu dengan anakmu Roy. ” balas Alex sambil terkekeh sejenak, Roy hanya manggut mengerti, ia membiarkannya saja, karena ujian yang ia berikan kepada Alex telah usai, dan Alex sudah melewatinya.
Ujian yang Roy berikan kepada Alex, tak lain dan tak bukan adalah tak bertemu dengan Abigail selama dua bulan penuh, dan hanya boleh bertemu dengan Abigail ketika ia sudah resmi bercerai, dan Alex memang berhasil akan hal itu.
“Abigail masih belum tahu kau sudah resmi berpisah Alex? ” tanya Roy sambil mengusap kedua pahanya ringan, Alex mengangguk meng-iyakan.
“Abigail menjadi periang Alex, ia sangat berbeda dengan Abigail yang dulu, tidak banyak berbicara, dan menghabiskan waktu di kamar sepanjang hari. ” Roy menarik nafasnya, lalu ia menghembus
kannya lagi, mengingat kenangan Abigail yang sudah pendiam, sejak masih kecil.
__ADS_1
“Tapi sekarang, Abigail bahkan tak segan menghampiriku diruang kerja, untuk makan siang bersama yang lainnya, ia selalu merengek meminta para maid untuk menyiram tanaman bunga, lalu Abigail dan bibimu akan menghabiskan waktu disiang hari dengan karaoke. ”
Jelas Roy seolau sedang membayangkan, ia terkekeh sejenak, namun pada akhirnya Roy menunduk dalam, tangannya melayang memijat kepalanya yang tampak pening.
“Aku tidak tahu, apa reaksinya ketika tahu bahwa aku dan ibunya telah bercerai, dan Abigail tidak sedang bersamamu. Aku sulit membayangakan itu Alex... ”
Wajah Alex menegang, ini pertama kali untuknya mendengar getar suara Roy yang serak, menandakan bahwa pria paruh baya itu ingin menangis. Roy dikenal dengan kegarangannya di bidang bisnis, hingga membuat banyak orang segan terhadapnya.
Tapi kini, dihadapan Alex pria itu tampak putus asa dan juga rapuh, Alex bangkit dari duduknya, lalu ia berdiri disamping kanan tubuh Roy yang masih terduduk sambil menunduk. Roy mengangkat wajahnya menjadi menatap lurus pandangannya, tangan Alex terulur untuk menepuk bahu Roy sekilas.
“Semuanya memang sudah menjadi rencana Tuhan. Aku bersyukur karena Abigail bertemu dengan orang bertanggung jawab sepertimu. ” ujar Roy sebelum menghembuskan nafas legah.
“Kau jangan terlalu memujiku Roy, andai aku bisa menahan hasrat ku pada putrimu, masa mudanya pasti tidak akan terenggut seperti ini...hhhh, tapi entah kenapa aku sangat senang jika membayangkan putrimu dan diriku, sedang bermain bersama anak-anak kami nantinya, aku akan sangat menghargai waktuku bersama Abigail disepanjang hidupku. Aku berjanji akan membuatnya bahagia. ”
Roy langsung berdiri dari duduknya, punggunya memutar hingga tubuhnya menghadap Alex yang lebih tinggi dari tingginya. Roy tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali ia tampakkan pada semua orang, selain untuk anaknya.
__ADS_1
“Kuberikan kepercayaan sepenuhnya padamu Alex. ” titah Roy menatap Alex dengan kedua mata tajamnya, Alex langsung mengangguk cepat penuh semangat.
_______________