
Author pov.
Alex sudah keluar dari kamar mandi. Sebelum kaki nya melangkah untuk mengambil baju di lemari, Alex menghampiri abigail dahulu yang sedang pulas dengan tidur nya. tangan nya terulur untuk mengusap wajah damai abigail, lalu ia kecup kening abigail pelan, agar tak membangunkan kekasih kecilnya.
Perasaan nya sedang runyam dan dihantui banyak sekali pertanyaan. Alex sudah berusaha tenang, dan memikirkan jalan kedepannya untuk hubungan nya dengan Abigail. kalaupun Abigail hamil pun, Alex akan sangat senang dan pastinya menerima adanya bayi itu dengan suka cita.
Namun ia takut akan Abigail yang justeru tak setuju, ia takut Abigail akan melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan jesse dulu. Alex takut, andai saja Abigail menyesal karena telah mengandung, di umur nya sekarang.
Ia gelengkan wajahnya keras. Alex meyakinkan hatinya bahwa Abigail bukan jesse. Abigail adalah gadis yang penyayang. Abigail tidak mungkin membunuh bayi mereka, seperti apa yang dulu dilakukan Jesse. walaupun memang bayi yang dikandung jesse bukanlah darah dagingnya, namun Alex tetap masih menyayangkan hal itu.
Alex dibesarkan dengan kasih sayang kedua orangtua nya, ia selalu dilimpahkan segala perhatian dan juga rasa peduli yang tinggi. membuat Alex juga ingin membangun sebuah keluarga kecil dalam hidupnya.
Setelah selesai berpakaian, Alex langsung merangkak menaiki kasur, ia mendekap Abigail kedalam pelukannya, Walaupun Alex bukanlah orang yang Taat' , tapi sejak ada Abigail dalam hidupnya, Alex menjadi lebih sering merapalkan doa dalam bibirnya, tanpa dirinya sadari.
05:00 Am
Abigail merenggangkan pelukan Alex pada tubuhnya. wajahnya sedikit ia condongkan untuk mencium kening Alex sekilas, dengan susah payah Abigail beranjak dari kasur ditengah-tengah dirinya yang masih belum sepenuhnya sadar.
Abigail tahu bahwa sekarang adalah jadwal tepat waktu nya Alex, dan tugasnya sebagai seorang asisten dan juga kekasih, harus mengingatkan juga disiplin atas semua yang alex kerjakan.
Abigail membersihkan dirinya terlebih dahulu didalam kamar mandi. tidak ada setengah jam waktu yang ia gunakan, dua puluh menit sudah cukup untuk Abigail selesai dengan kegiatannya. Handuk melilit di tubuhnya yang sintal, sambil mengeluarkan baju untuk ia kenakkan, Abigail juga menyiapkan jas serta kemeja dan perlengkapan yang Alex gunakkan untuk hari ini.
Abigail sudah lengkap dengan pakaiannya, ia langsung berjalan kearah kasur, dan membangunkan Alex yang sangat susah dibangunkan, walau harus dengan trik nakal. Yaitu memberikan Alex susu sekilas, akhirnya Alex beranjak dari kasur dengan penuh semangat. Abigail ingin memasak untuk sarapan mereka sekarang, namun sebelum itu ia sudah merapihkan tempat tidur dan juga barang-barang yang tidak pada tempatnya.
entah kebiasaan darimana ini, yang pastinya sedari kecil Abigail tak pernah melakukan hal-hal rumah tangga atau sejenisnya. Alex keluar dengan pakaian yang sudah lengkap, butuh satu jam untuk mereka selesai dengan kegiatan.
Abigail dan Alex menyantap makanan dengan bersih, apalagi abigail, gadis itu semakin bernafsu saja ketika sedang makan. dan itu samasekali tidak luput dari perhatian alex.
“Bubu.. ” Panggil Alex menyampirkan helaian rambut abigail dari samping, abigail menoleh kearah alex dengan mulut yang sedang mengunyah. “Nanti kita ke dokter ya. ”
__ADS_1
Abigail langsung menghentikkan kunyahan nya, ia lebih cepat menelan, lalu minum air untuk menutupi rasa gugup nya. “M-mau ngapain? ” tanya Abigail terbata-bata. alex mengusap sisa saus yang berada di sudut bibir Abigail, lalu ia cecap di bibirnya.
“Mau periksa kamu bubu. jangan nolak oke? ” Titah Alex lembut, namun tersirat ketegasan di dalamnya.
“tapi kan bubu enggak mau di suntik! ” abigail mengerucutkan bibirnya sebal.
“periksa dulu makanya sayang, kalo kamu ga sakit, nanti gabakalan disuntik. ” balas Alex menarik pinggang Abigail untuk berdiri dari duduknya. Abigail menghela nafas panjang, mau sekeras apapun dia menolak, keinginan Alex pasti akan terlaksana. lagipula tubuhnya memang seperti tidak fit akhir-akhir ini.
••••••
Disisi lain, seorang wanita berpakaian anggun dengan kemerlap nya pernak-pernik disekitar tubuhnya, sedang berlenggok gemulai di depan kamera. flash menyala begitu intens dalam sekejap, seolah dia adalah model professional, yang sangat cekatan dalam mengambil pose.
Setelah lamanya menjalani profesi nya sebagai model, wanita yang diyakini bernama Jesse itu, langsung menghampiri seorang pria berpakaian rapih, dengan kacamata
hitam yang bertengger di hidungnya.
“bagaimana? apakah kau telah menemukan informasi penuh dimana keberadaan paman ku. ” Jesse menyeret langkah kakinya keluar dari roomshoot, diikuti oleh pria itu dibelakangnya.
“baiklah. ayo berbicara!! ” Jesse memasuki kamar pribadi nya, diikuti oleh pria itu. Jesse hempaskan bokong nya diatas ranjang, sedangakan ia taruh kursi beberapa jarak dari hadapan nya.
“katakan!! ” bentak Jesse melihat pria itu yang menjadi tidak fokus.
“Abigail bersama dengan Tuan Al— ” ucapan gugup pria itu terhenti, saat Jesse kembali membentak nya keras.
“Jangan pernah memanggil dia Tuan di hadapan saya!! yang menjadi tuanmu sekarang adalah aku! ”
“B-baiklah nyonya. Abigail mendapatkan seluruh hak warisan dari kedua orangtua nya, namun hal tidak terduga terjadi, bahwa diatas kertas, nama abigail belum tercantum, dan jika saja nyonya mendapatkan hak itu, sudah dipastikan bahwa nyonya akan menggeser posisi abigail dengan begitu mudah. karena tandatangan kertas itu sudah ada, sedangkan label nama masih kosong. ”
Mata Jesse Melotot tak percaya. ia sungguh terkejut dengan hal yang dikatan suruhan nya barusan, kedua orangtua Abigail memamglah sangat rich, namun ia tak pernah berfikir, bahwa Abigail akan mendapatkan seluruh hak waris.
__ADS_1
Jesse tersenyum penuh arti, bawahannya adalah salah seorang yang bekerja dengan keluarga Abigail, jadi memungkinkan untuk dirinya, mengetahui dimana berkas itu berada.
•••••
Alex menatap pintu yang tertutup dengan was-was, tangan nya ia selipkan dikedua saku celana kerja nya, lalu ia senderkan punggung nya di dinding rumah sakit. ketika pintu sudah terbuka, dokter yang sudah sangat dekat dengan dirinya, mempersilahkan untuk masuk. matanya menangkap pergerakan Abigail yang masih diatas ranjang rumah sakit, sedang menatap nya cemas.
“Hubby...” Tanpa rasa canggung sedikit pun, Abigail mengulurkan kedua tangan nya minta di peluk. Abigail merengek memanggil Alex terus menerus, hingga ia melengoskan wajahnya, enggan menatap Alex yang mengabaikan nya.
Alex berdiri dihadapan dokter perempuan yang tadi memeriksa Abigail. Dokter itu tersenyum lebar, membuat Alex harus menyeringitkan kening nya bingung.
mereka terlibat percakapan kecil, hingga dokter itu menyuruh abigail untuk turun. dua orang suster membantu Abigail untuk turun, Alex mrnghampiri Abigail, lalu merangkul pinggang Abigail posesiv.
Tiba diruangan dokter, Abigail langsung duduk beserta Alex di samping nya. Dokter seperti sedang menata berkas-berkas yang ada diatas meja yang memisahkan mereka. hingga akhirnya dokter itu membuka suara, yang membuat Alex berteriak senang.
“Yes!! ” Alex langsung menoleh kearah Abigail yang masih mematung diam. ia memeluk Abigail dari samping. dokter yang melihat hal itupun hanya tersenyum,
“kandungannya sudah memasuki empat minggu. beruntung bapak segera membawa istrinya kesini, karena kalau si ibu tidak menyadari kandungan nya, bisa-bisa terjadi hal yang tidak diinginkan. ”
Alex melepaskan pelukannya, ia beralih menatap sang dokter dengan begitu serius. “apakah kondisi janin nya baik-baik saja? ” tanya Alex khawatir.
“Sangat baik pak, saya ingin anda terus memperhatikan zat-zat serta gizi yang baik, juga ber-protein untuk istri anda. ” jawab sang dokter sambil mengangguk juga menjelaskan.
“Lalu, apakah kami masih bisa bercinta dengan rutin? ” Tanya Alex gamblang, yang langsung dihadiahi cubitan oleh Abigail di pinggang nya.
“apansih! ” sergah abigail dengan kedua pipi yang merona. dokter terkekeh sambil menggeleng-gelengkan wajahnya geli, melihat pasangan muda yang ia kira, sudah menikah ini.
“Tidak perlu malu bu, wajar saja kalau suaminya bertanya seperti itu. ” dokter itu tersenyum, lalu kembali menjelaskan,
“untuk tiga bulan masa kehamilan, hubungan badan tidak diperbolehkan dulu ya, karena kondisi janin yang masih sangat rentan. ” lanjut dokter itu.
__ADS_1
Alex mengangguk sebagai jawaban, walau ada secercah rasa tak terima didalam hatinya, ia harus tetap menjadi calon ayah yang baik untuk anak nya kelak.