
Alex pergi dari mall kecantikan, setelah berhasil menaruh Abigail disana, untuk melakukan perawatan wajah. Ia sengaja melakukan ini, agar bisa bertemu Jesse di Coffeshop yang tak jauh letaknya dari Mall Kecantikan ini. sempat beberapa kali Alex mendesis, saat banyak perempuan disepanjang Jalan melemparkan tatapan nakal, juga godaan, yang samasekali tidak menggiurkan, ataupun bernafsu Tinggi.
Ketika kakinya sudah memijak diatas lantai coffeshop, semua pelayan langsung menyapa nya, namun kebanyakan dari mereka sih perempuan, yang diam-diam selalu menunggu kedatangan nya kesini. Jika dulu Alex selalu tersenyum Ramah hingga memberikan perhatian kecil, sekarang ia harus hindarkan, demi tak memberi harapan kecil pada perempuan disana. Jadilah Alex Hanya Tersenyum tipis, sambil mengedarkan pandangannya.
Setelah menangkap pergerakan dari sesosok orang yang Ia cari, Alex langsung menghampiri Jesse, yang ternyata datang tidak sendiri. Sebenarnya Alex sangat tak asing dengan pria yang menundukkan wajahnya, namun karena pakaian serba hitam yang menutupi pria itu, membuat dirinya tak dapat menangkap Jelas.
“silahkan, tanda tangani Tuan Alex. ” Ujar Jesse menekan ujung bolpoin, tepat diatas kepala berkas yang ber-map. Alex memincingkan matanya, saat menatap isi berkas itu, secara rinci.
Jesse kembali menegakkan tubuhnya, Ia bersedekap dada dengan Angkuh, Matanya mengerut saat mendengar kekehan Alex yang terdengan hambar juga menyeramkan, bukan seharusnya Alex marah, mengapa dengan santai-nya pria itu, justeru tertawa ringan seperti ini, sambil menggeleng wajahnya remeh.
“Hanya ini ? ”
Tanya Alex Ringan, menatap penuh kearah Jesse yang mengangguk cepat, Ia menarik sudut bibirnya, sedikit mencuri tatapan kearah pria yang masih tetap menunduk itu. Tanpa instruksi apapun, tangan nya meraih bolpoin yang berada di sisi atas map, lalu ia gerakkan jemari nya, menanda tangani berkas itu. mata Jesse Berbinar terang, menatap tangan Alex yang masih bergerak diatas kertas putih.
“kalaupun kau mengambil seluruh hak waris Abigail, ia juga tak akan miskin, aku-lah yang akan memberikannya banyak kesanggupan, seharusnya kau poroti saja aku, harta Abigail hanya secuil, dari harta yang kumiliki Jesse. ”
Alex berucap begitu tegas, jiwa otoriter dalam dirinya memang tidak pernah lepas. sebagaimanapun Jesse ingin menunjukkan sisi ke-angkuhan nya, tetap saja akan kalah telak, jika Alex sudah mulai menunjukkan sisinya yang lain.
Alex seorang presdir, dan bulan depan, ia akan naik jabatan menjadi ceo, seharusnya Alex sudah menduduki kedudukan itu sejak lama, namun Suami diatas status nya itu, tidak pernah menerima.
Alex lebih giat membangun perusahaan nya sendiri, hingga Jesse mengetahui, bahwa salah satu perusahaan yang yang ia jadikan target untuk bernaung didalam agensi model, adalah atas nama kepemilikan Alexander.
“aku tidak membutuhkan hartamu! cepat sewa pengacara mu! hari ini akan ku ajukan gugatan perceraian! ” Seru Jesse tanpa sadar mengundang tatapan para staff yang mengarah pada mereka.
Beberapa ada yang menutup mulutnya terkejut, mereka semua mengetahui Alex adalah seorang lajang, yang tak pernah memiliki pasangan kencan, namun tiba-tiba mendengar ucapan perceraian, menjadikannya topik hangat, sempat beberapa ada yang langsung berbisik,
__ADS_1
Alex tak menggubris itu semua, Ia berdiri dari duduknya, lalu melihat jam tangan Rolex di pergelangan tangannya.
“Minggu ini, semua berkas harus sudah selesai. persidangan akan dilakukan, minggu depan paling lambat, ” titah Alex berupa perintah yang mengintimidasi.
“Jangan pernah buang-buang waktuku!”
Tekan Alex sebelum akhirnya melenggang pergi dari hadapan Jesse. Jesse mengetatkan rahangnya bersamaan dengan kepalan tangan pria yang duduk disamping nya. Alex keluar dari coffeshop, ia langsung segera memasuki mobil, untuk kembali bersama kekasih kecilnya.
••••••
Alex memasuki mall kecantikan dengan berjalan santai, setelah sampai di room nya Abigail, Alex segera disuguhkan pemandangan menakjubkan, yang membuatnya tercengang sekejap. Abigail sangat cantik dengan polesan make up di wajahnya, belum lagi kekasih kecil nya itu, memakai dress peach diatas lutut, yang menampakkan kaki jenjanh nya.
“Hubbyyy!! ”
“Udah selesai? ” pertanyaan bodoh dari Alex terlontar, jelas saja Abigail sudah selesai, namun ia menanyakan nya, lantaran sedikit gugup dalam menghadapi Abigail yang jelas terlihat lebih dewasa.
“udaahh!! ”
“Temenin bubu makan sushi ! ” Abigail memasang puppy ayes nya, yang membuat Alex menjadi semakin gemas.
“as you wish bubu. ” Balas Alex langsung merangkul pinggang Abigail posesiv. Alex mengacungkan jempol nya sekilas, membalas tatapan mata perias salon, yang tak lain adalah tante nya sendiri.
Abigail dan Alex pun berjalan beriringan, mereka menyusuri mall besar ini, yang hanya di dominasi oleh barang-barang kecantikan saja. Abigail berlari kecil mendahului Alex yang menggelengkan wajahnya melihat tingkah kekanakkan Abigail.
Abigail dengan penuh rasa semangat yang membuncah, memasuki sebuah restaurant sushi yang sangat ramai dengan pengunjung. Alex memilih private room untuk mereka berdua, Abigail duduk dengan tak sabaran.
__ADS_1
Perutnya bergejolak ingin sekali makan sushi. Abigail tersenyum dengan pipi yang merona, saat sebelum Alex melenggang pergi untuk izin kekamar mandi, sempat-sempat nya pria itu mengecup kening Abigail sayang. sibuk menunggu makanan yang belum datang, juga menunggu Alex yang baru izin ke toilet. tiba-tiba saja nada dering ponsel Alex berbunyi.
kringg~~
kringgg~~~
Abigail nahan ketawa sebenernya, dengan nada dering yang keluar dari ponsel Alex tuh, kaya jadul banget. Ia nahan diri buat engga angkat telfon nya, karena takut mengganggu privasi Alex, tapi— semakin lama dering nya semakin bunyi terus. Abigail dengan berat hati ngangkat tuh telfon, matanya menyeringit melihat panggilan yang tercantum nama ayahnya.
“Ha——” Sebelum menyapa terlebih dahulu, sapaan nya keburu terpotong oleh suara di sebrang sana.
“Halo Alex, bagaimana kabar mu? saya berharap baik-baik saja. esok saya akan pulang kesana, terimakasih karena sudah menjaga putriku dengan baik. ”
Ucapan ayahnya sempat terputus, Abigail tersenyum hangat, namun sebelum ia kembali ingin menyapa ayahnya, suara kembali terdengar dari sebrang sana.
“oh ya, terimakasih karena kau telah memberikan pengacara terbaik untuk perceraianku bersama elliot, aku harap kau bisa menjaga rahasia ini sebelum waktunya tiba. aku akan datang kesana bersama istriku, juga anaku yang masih sangat kecil. sedangkan untuk elliot, dia akan menetap disini bersama anaknya juga. aku harap kau bisa menja---”
Tuuttt
Tubuh Abigail yang mematung kaku, kini terputar kasar. ponsel Alex yang berada di genggaman nya sudah berhasil direbut oleh pemiliknya. nafas Alex memburu dengan kedua matanya yang memerah, Ia terlambat, Terlambat untuk merebut ponsel nya. Posisi Abigail samasekali tidak berubah, Ia masih terdiam dengan mata yang memandang lurus jendela restaurant. Alex mengurut keningnya refleks, ia memberikan waktu untuk Abigail meresapi semua yang terjadi.
Sekian lama Alex menunggu, masih dalam posisi berdiri, baru satu langkah ia ingin mendekat kearah Abigail, untuk membawanya kedalam dekapan. kekasih kecilnya itu sudah berucap dengan begitu dingin, masih dalam pandangan kosong.
“pulang. ”
Abigail tidak menggeleng ataupun menangis, Matanya masih lurus, enggan menatap Alex. Alex menganggukan wajahnya cepat, “Bubu, mau makan dirumah? ” Tanya Alex sebelum akhirnya ia menyamakan langkah Abigail, yang sudah terlebih dahulu melenggang pergi.
__ADS_1