
Six month later..
Alex membuka matanya perlahan. Tangannya yang semula bertengger manis di atas perut Abigail, kini mengusap pipi Abigail dengan begitu lembut. Wajah Abigail sangatlah mirip dengan Ibunya, cantik dan menawan. Alex kerahkan bibirnya untuk menggapai pipi Abigail lalu mengecupnya. Abigail sangatlah manis.
Alex bukanlah pria yang seringkali mengencani para wanita. Kerap beberapa kali ia pacaran, hanya sebatas skinship no sex. Dimasa masa remaja nya dulu, Alex bukanlah pria yang pandai bergaul. Ia juga bukan seorang primadona di atas ketampanan yang ia miliki. Walau sekolah menengah keatas itu milik kakeknya, Alex samasekali tak pernah memanfaatkan situasi dan keadaan untuk menjadi nakal.
Baginya, kenakalan bukanlah suatu yang patut di banggakan. Maka dari itu, sejak ia SMA Alex sudah magang di kantor mendiang ayahnya. Ia turut serta dalam banyak kegiatan dan juga proyek. Alex pandai berbicara didepan orang-orang penting. Namun, Alex samasekali tak pandai berbicara dengan para wanita. Untuk merayu nya saja Alex enggan.
Kehadiran Jesse di hidupnya adalah satu hal yang membuatnya berubah. Ia menjadi semakin giat dalam bekerja, untuk menumpahkan segala emosi yang teredam dalam keterdiamannya. Alex tak bisa mengadu kepada sang Ayah, ataupun Ibunya. Ia sungguh takut jika kedua orangtua nya tahu bahwa ia menikahi Jesse bukanlah karena cinta. Melainkan permohonan dari sang paman. Yang tak lain adalah ayah dari Abigail.
Kekasih kecilnya.
Abigail membuat semangat hidupnya kembali menggebu-gebu. Abigail mampu membangkitkan rasa cinta nya yang sudah lama mati. Abigail mampu membangunkan sisi liar Alex dalam hal bercinta. Abigail adalah hal penting untuknya. mungkin setelah ini, Alex akan memilih jalannya sendiri. Persetan dengan janjinya pada Ayah Abigail, untuk menjaga Jesse.
Yang selalu membuatnya hidupnya dalam kesulitan. Kesulitan bukanlah soal materi, namun soal perasaan. Ia sangat kalap saat tahu bahwa janin yang menjadi alasan nya untuk bertahan dan menikahi Jesse. Dengan mudah wanita itu bunuh, tanpa ingat alasan mereka menikah karena apa.
Sulit bagi Alex untuk memulai semuanya. setelah lima tahun berlalu, wanita yang masih berstatus istrinya itu pergi dan menjadi model di majalah internasional. jangan harap Alex akan peduli, sekalipun wanita itu menjadi model majalah dewasa. Mereka telah lost kontak sejak lima tahun yang lalu. Dan tidak ada samasekali yang berusaha memulai untuk meluruskan semuanya. Pernah sewaktu-waktu Alex akan memberikan talak pada Jesse. namun disaat itu kesehatan Ibunya sedang memburuk. Tak memungkinkan untuk Alex menciptakan suatu masalah.
Dan disaat keadaan memungkinkan. Alex lebih memilih tak peduli ataupun berniat untuk memberikan talak pada Jesse. Ia fokus terhadap kariernya, mengembangkan banyak perusahaan yang sudah tersebar diseluruh penjuru dunia.
Sampai akhirnya Alex bertemu dengan Abigail. Gadis yang telah ia renggut kesuciannya. Seorang gadis yang sangat manis dimatanya. Ia bagaikan buah cherry menurut Alex. Alex sangatlah kagum akan paras yang dimiliki Abigail, hingga semuanya lamban laun mulai berubah. Mereka memiliki hubungan khusus, hubungan yang seharusnya tak mereka jalankan. Simpanan terlalu kasar untuk panggilan seorang Abigail. Abigail ada sosok perempuan yang sangat ia cari.
Penurut, penyayang, dan bisa memanjakan nya.
Bagi Alex, Abigail adalah seorang bidadari yang tuhan kirim ditengah-tengah kehampaan hidupnya.
__ADS_1
Sudah 6 bulan lamanya mereka merajut kasih. Alex memberikan jabatan asisten untuk Abigail. Tidak sulit untuk Alex memberikan Abigail arahan untuk melakukan suatu hal.
Karena Abigail adalah perempuan yang cerdas. Setiap saat mereka selalu bersama. Jika Alex ada pertemuan diluar negri, Abigail selalu ikut dengannya. Menemaninya di sepanjang waktu yang ada. Alex berharap jika suatu saat nanti Jesse akan kembali. Ia akan segera meluruskan hubungan mereka. Ia akan jujur pada kedua orangtua Abigail yang sedang pergi. Alex akan segera meminang Abigail sebagai istrinya.
...★★★...
Apartment Alex.
Seorang perempuan yang sedang mengotak-ngatik banyak peralatan dapur, tampak kebingungan. Saat suara nya yang sudah menggelegar hingga sudut-sudut ruangan. Tak mampu membangunkan sesosok manusia yang sudah menjalin hubungan terlarang dengannya selama enam bulan ini.
“Hubby... ”
“Hubby...”
Abigail terus saja memanggil Alex dengan tangan yang sibuk mencari garam. Ia memutuskan untuk berhenti sejenak, guna membangunkan Alex yang masih tertidur diruang tamu setelah tadi malam Abigail mengusir nya dari dalam kamar. Karena sebuah alasan.
“Iihh katanya udah janji gabakalan main sama Abigail lagi.”
“Bubu, Hubby udah ga tahan.”
“Enggak mau! Pokoknya tidur diluar aja.”
Brakk.
Abigail langsung menutup pintu kamar dengan keras. Alex yang tak berhasil membujuk Abigail langsung terduduk lemas, memandang suatu yang sudah menegang dibalik boxernya dengan miris.
__ADS_1
Abigail tertawa cekikikan mengingat kejadian semalam. Ia sebenarnya tak tega juga, jika harus menolak ajakan Alex. Namun ia juga harus ingat konsekuensi yang akan ia terima jika terus berhubungan intim dengan Alex. Maka dari itu Abigail enggan untuk menuruti kemauan Alex.
“Hubby, bangun dong.” Abigail merengek gemas. Sambil terus mengguncang-guncang kan pundak Alex yang memunggunginya. Alex menggeliat kecil, namun ia diam-diam tetap tertidur pulas.
“Hubby...” Abigail menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Alex. Ia membisikkan banyak kata-kata seolah sedang bercerita asal. Namun Alex tetap tak terbangun. “Hubbyy!” Abigail mulai panik seketika. Tangannya menarik pundak Alex, untuk berbalik menatapnya.
“Hubby.” Abigail menepuk-nepuk pipi Alex dengan cepat. Ia terus menggoyangan tubuh Alex agar terbangun. Bibirnya menggigit ujung jari Alex keras, namun masih tak ada pergerakan. Dengan cepat Abigail berfikir keras. Matanya yang sibuk mencari akal untuk membangunkan Alex, tiba-tiba saja terhenti.
Dengan jail, Abigail menggigit bibirnya girang. Menunggu saat-saat tangannya mendarat pas pada the little Alex. “Arrghh. ”
Alex menggeram kasar. Punggungnya langsung tertergak bangun, setelah saat miliknya di sentil oleh Abigail dengan tiba-tiba. Wajah Alex langsung merah padam. Matanya menyipit karena meringis. Abigail yang awalnya ingin memecahkan tawanya, menjadi diam seketika. memandang Alex yang mengerang kesakitan.
“Apa yang kau lakukan Abigail!” seru Alex membuat punggung Abigail terlonjak refleks. Abigail tergagap-gagap memikirkan jawaban untuk meredakan kemarahan Alex.
“Duuh, Hubby beneran marah! Kalau dia panggil Abigail pakai nama. Abigail harus gimana dong.”
Abigail tertunduk dalam akhirnya. Ia menyerah untuk mencari jawaban atas pertanyaan Alex. Abigail sudah siap sedia jika Alex akan menghukumnya. Namun, sebelum hukuman nya itu terjadi. Abigail berusaha membela dirinya dengan,
“K-kan bubu cuman sentil doang. Kok hubby marah sih.” cicit Abigail gugup. Ia masih tertunduk dalam. Tak berani melihat wajah Alex yang sedang marah.
Punggung Alex terhempas pada sandaran sofa. Ia merubah posisinya, kakinya menjadi menjuntai menyentuh lantai. Tangannya melayang mengusap pucuk kepala kekasih kecilnya dengan lembut. Alex harus ingat, bahwa yang sedang bersamanya adalah gadis manja, yang tak mengetahui hal-hal intim semacam ini.
“Kalau mau sentil pakai ini dong bubu. Jangan tangan..” Alex berseru lembut dengan suara nya yang serak. Ia menatap tajam Abigail yang masih menunduk, sambil menyentuh sekilas bibir Abigail.
Abigail tak paham dengan apa yang barusan Hubby-nya katakan. Namun pada akhirnya, ia mengangguk pelan. ssolah meng iyakan ucapan Alex yang sebenarnya membuat Abigail bingung.
__ADS_1