
...Author point of view....
Abigail sudah masuk kembali kedalam dapur. Sedangkan Alex tengah menyegarkan dirinya dengan mandi. Hari ini adalah hari sabtu, digunakan Alex untuk waktu santai dan bermanja-manja bersama Abigail.
Alex sangatlah enggan keluar untuk mengisi kekosongan waktu mereka. ia lebih memilih mendekap Abigail didalam apartemen. Menghabiskan seluruh waktu dihari sabtu, sebagai daya bagi tubuhnya untuk kembali bekerja esok.
Selesai dengan kegiatannya membersihkan diri. Alex segera keluar dari dalam kamar dengan menggenakan pakaian kasual. Ia menghampiri Abigail yang sedang menyiapkan makanan diatas meja sambil memunggunginya. Tubuh Abigail menjadi kaku seketika, disaat Alex memeluk nya dari belakang. Namun Abigail tetap berusaha fokus untuk menata makanan dengan begitu rapih.
“Bubu... ” panggil Alex sambil menyeruak masukkan wajahnya pada ceruk leher Abigail yang terlihat jelas karena gadisnya mencepol rambut panjangnya keatas.
“Apa hubby?” saut Abigail melepaskan pelukan Alex. Alex langsung menarik kursi untuk bisa Abigail duduki, lalu Abigail pun mendudukinya. Alex menarik jarak posisi kursi nya menjadi dekat sekali dengan Abigail. “Iih sempit tau!” rengek Abigail sambil menaruh nasi putih pada piring.
Alex tak menggubris rengekan Abigail. ia mulai memakan makanan nya dengan lahap, seperti tak ada hari esok untuk ia makan. “Pelan pelan hubby..”
Seru Abigal mengusap pundak Alex. Alex menghentikkan kunyahan pada mulutnya. lalu ia mengambil air putih, dan meneguk nya cepat. Tiba-tiba saja suasana menjadi hening diantara keduanya.
“Bubu... ”
Abigail masih sibuk dengan kunyahan nya. ia hanya mengangguk sebagai jawaban atas panggilan Alex pada dirinya. Ia terdiam sesaat, pikirannya seolah sedang berputar. Tangan nya mengepal, menahan sesuatu yang bergejolak dalam hatinya.
“Kita makan nasi goreng depan aja yuk?” ajak Alex berucap dengan ragu-ragu. Ia sulit mengerti dengan keinginan nya sendiri. Abigail yang tadinya mengunyah, kini menatap Alex di sampingnya.
“Masakan bubu engga enak ya?” Abigail melemparkan pertanyaan balik pada Alex. Bibirnya melengkung keatas, membentuk seulas senyum kesedihan yang dibuat-buat. “Yaudah deh ayo...” Abigail bangun dari duduknya. Alex langsung mencekal pergelangan tangan Abigail.
__ADS_1
“Engga gitu bubu. Masakannya enak banget. Tapi perut hubby lagi pengen nasi goreng.” jelas Alex mencoba menjelaskan. Abigail mengangguk paham, ia mengusap surai rambut Alex dengan posisi berdiri.
“Iyaa hubby. Bubu ambil jaket dulu, ” izin Abigail tersenyum gemas. Sangat jarang untuknya menatap wajah Alex yang memelas seperti ini.
Abigail kembali lagi keruang tamu dengan jaket yang sudah melekat pada tubuhnya. Tangannya juga menggenggam jaket kulit pria berwarna hitam, yang akan digunakkan hubby-nya nanti. Abigail menyeringit dalam, saat tak melihat Alex berada disana.
“Hubyy! ” Abigail berteriak seperti biasanya. langkahnya menyusuri sudut-sudut ruangan yang terdekat. punggung nya berhenti disaat menabrak sesuatu yang keras dibelakang nya. “Iihh ngagetin aja!” bibir Abigail mengerucut kesal.
Abigail balikkan tubuhnya menatap Alex. Matanya membulat terkejut. Bahkan bibirnya berhasil membentuk huruf O' melihat pemandangan dihadapan nya.
Alex sudah mengenakkan jaket kulit hitam, beserta jeans hitam. Dan juga sarung tangan berwarna hitam. Matanya jatuh menangkap Alex yang mengenakkan sepatu kulit berwarna hitam. Semuanya serba hitam. Wajah Alex tertutupi oleh helm yang menutupi hampir seluruh wajah pria itu. Hingga hanya bagian matanya saja yang terlihat beserta kedua alisnya yang tebal dan hitam legam.
“Hubby mau kemanasih sebenernya?” tanya Abigail sedikit kesal dan juga greget memandang Alex yang sangat rapih. Mirip sekali dengan pemain balap motor.
“Hubby mau cobain motor baru bubu. Ini sebenernya hubby beli udah seminggu yang lalu. Tapi baru mau hubby tunjukin sekarang.” jelas Alex dengan begitu santai. Tanpa memperhatikan wajah Abigail yang sudah pias.
“Nasi goreng nya cuman di depan hubby! Di lobby bawah.” rengek Abigail mulai lelah berdebat dengan Alex.
“Gamau nasi goreng luxury bubu. Udah bosen. Kita cari diluar aja. Oke? ” tanpa menunggu jawaban Abigail, Alex langsung menggandeng tangan Abigail untuk keluar dari apartement elite itu.
Baru saja melewati lobby. Keduanya sudah disambut oleh para penjaga yang tentu saja membungkuk sekilas tanda hormat. Abigail masih mengerucutkan bibirnya malas, tangan nya menggapai tangan Alex ketika mau menaiki motor tinggi itu.
Setelah mencari posisi pas diatas motor, Abigail langsung membenarkan dress selutut nya agar tertutup rapat. Beruntung ia mengenakkan celana pendek sepaha tadi. Alex yang menyadari ketidak nyamanan Abigail, memilih untuk melepas jaket kulitnya.
__ADS_1
“Taruh di atas paha bubu. Lebarin. ” titah Alex memberikan instruksi. Abigail mengangguk meng iyakan. Namun diam-diam ia tersenyum mendapati sikap Alex yang sangat perhatian padanya.
Setelah semuanya siap. Alex langsung melenggang pergi, membelah kota Amsterdam. Tangan Abigail melingkar nyaman pada perut Alex. Cuaca tidak terlalu dingin seperti pagi-pagi sebelumnya. Dan perlu diketahui bahwa ini kali pertama Abigail menaiki motor. Karena sebelumnya, ia selalu menggunakan mobil jika berpergian kemanapun.
Sekejap Abigail melupakan fakta bahwa kedua orangtua nya sudah pergi selama 6 bulan. Ia terlalu disibukkan dengan kisah cintanya sekarang. Tanpa menyadari bahwa kedua orangtua nya memang tak pernah menghubunginya. Dan dirinya juga tak pernah mencoba untuk menghubungi kedua orangtuanya.
Sampai di sebuah ruko berlantai dua. Abigail merapatkan dirinya pada Alex, ia takut jika sewaktu-waktu dirinya terpisah oleh Alex ditempat umum yang sangat ramai ini. Alex memesan makanan, layaknya orang yang sudah mengenal lama dengan sang pemilik ruko ini. Ruko nasi goreng. Abigail tersenyum membalas sapaan tukang nasi goreng itu. Alex menariknya kesalah satu bangku yang masih kosong, berada di pojok ruangan.
“Bubu gak nyaman ya? Apa mau pindah tempat lagi aja?” Alex bertanya setelah duduk dihadapan Abigail yang terhalang satu meja dengan nya. Abigal langsung menggeleng cepat.
“Engga. Bubu cuman heran aja, ko hubby bisa tau tempat ini? Padahal kan,”
“ Padahal kan aku sibuk? Aku dikantor mulu? Aku bolak balik nugas keluar mulu? ”
Abigail mengangguk dengan cepat. Yang dikatakan Alex memang benar. Ia sudah mengira bahwa Alex adalah seorang pekerjaan keras. lewat berita-berita pebisnis yang ia baca dikala bosan.
“Bubu, hubby bukan orang yang gila kerja. Disela-sela kegiatan, hubby selalu gunain buat having fun sama diri sendiri. Di jam makan siang hubby selalu cari tempat-tempat yang baru, Bubu. Aku engga sekeras apa yang kamu liat di majalah atau berita.”
Jelas Alex panjang lebar sambil mencubit gemas pipi abigail yang bertambah semakin chubby. “Ohh gitu... ” Abigail mengangguk-nganggukan wajahnya paham. Pantas saja Alex mengetahui tempat-tempat seperti ini, yang jarang sekali ia lihat.
“Sekarang makan yang banyak ya? Hubby lagi pengen liat bubu makan. ” ujar Alex menumpu dagunya dengan satu tangannya. Abigail lagi-lagi mengangguk polos, ia memulai santapannya dengan lahap. Sedangkan Alex hanya memandang wajah Abigail. Tanpa menyentuh makanan nya samasekali.
...Author point of view off....
__ADS_1