TEENAGE GIRL.

TEENAGE GIRL.
chapte 16 : merelakan


__ADS_3

Jesse sudah membawa surat perlengkapan untuk perceraian nya dengan Alex, dia tidak main-main soal itu, lagipula yang hanya ada di benak nya saat ini hanyalah harta, harta, dan harta. Jesse tak ingin membuang waktunya untuk bertahan.


lagipula banyak diluar sana, yang bisa dijadikan Jesse sebagai pendamping, salah satunya adalah mata-mata nya sendiri, Jesse tidak ingin berbohong dengan perasaan nya, ia mulai merasa nyaman dengan troy orang yang ia bayar untuk menguntit Alex bersama Abigail.


Seperti siang ini, Jesse akan menghubungi Alex untuk menandatangani berkas perceraian mereka, tepatnya siang ini juga, dan tentu saja troy ikut bersamanya, perawakan troy bukanlah mata-mata pria yang sudah tua, perut buncit, ataupun kepala yang botak plontos. ketampanan Troy yang membuat Jesse merasa lebih aman. lagipula troy juga tidak pernah berbuat aneh kepadanya.


“Troy, cepat siapkan mobil. aku akan menemui Alex. ” titah Jesse memberi perintah, namun troy tetap diam tak bergeming, ia berdiri dengan ponsel yang masih di genggaman nya.


“cepat troy! ” ujar Jesse tak sabaran, troy menjadi salah tingkah sendiri, ia ingin menolak karena sudah mempunyai janji dengan teman kencan nya, namun bos di hadapannya ini akan menyeramkan, jika saja perintah nya tidak dipatuhi.


troy langsung membuka pintu mobil yang sudah disiapkan didepan rumah, Troy menyeringitkan wajahnya bingung, saat Jesse duduk disebelah nya, padahal biasanya wanita itu selalu duduk dibelakang, karena masalah kasta.


••••••


Alex sedang menunggu abigail diluar ruangannya, ia sangat cemas sekarang, rasa takut yang sudah lama ia tidak rasakan, menjadi kembali hinggap dengan menggebu-gebu, seolah rasa takut itu, sedang menyerang nya sekarang.


setelah satu jam menunggu, akhirnya dokter yang memang ia pergunakan untuk konsultasi abigail, keluar dari dalam ruangan, wajah dokter itu tampak sekali muram, membuat alex yang sedang diambang kecemasan, menjadi semakin kalut dan juga takut.


“permisi pak, silahkan masuk kedalam. ” ujar dokter itu mempersilahkan alex untuk masuk.


hati alex terasa teriris-iris, saat melihat abigail yang terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, alex menolehkan wajahnya kesamping untuk menatap sang dokter, ia duduk berhadap-hadapan, dokter perempuan yang bernama Lita itu tampak tersenyum tipis.


“jadi gini pak... ”


“langsung to the point aja bu. saya mohon. ” pinta alex yang sudah merasakan nada berbasa-basi dari lita, lita tampak tersenyum kecil saat merasakan pria yang sudah dikenal dengan segala kemewahannya, menjadi cemas karena sang kekasih.


“Janin masih bisa diselamatkan. jangan biarkan si ibu terlalu mempunyai banyak tekanan, jiwa emosional ibu hamil itu tinggi pak, jangan buat dia semakin berat dengan keadaan yang sedang terjadi. stress sangat mempengaruhi kondisi janin yang masih sangat kecil. ” Jelas lita secara gamblang, yang disambut dengan wajah tegang alex.


Alex akhirnya menghela nafas, Ia sangat bersyukur karena janin yang sedang berada didalam perut abigail, masih dapat diselamatakan, alex sendiri juga merasa bersalah disaat yang bersamaan, ia hampir saja gagal menjadi ayah yang baik.

__ADS_1


“enghh” lenguhan terdengar dari perempuan yang sedang berbaring diatas ranjang, Alex menoleh bersamaan dengan dokter yang langsung sigap menge-cek kondisi Perempuan yang tak lain adalah Abigail.


Abigail tampak berat saat membuka kedua matanya, ia menyusuri kamar rumah sakit dengan raut wajah bingung, mengapa dirinya bisa berada disini - tanya abigail dalam batinnya.


“bubu! ” panggil alex khawatir, langsung mengusap pipi Abigail yang terlihat pucat. abigail mendongak, ia merengek pelan, seolah mengadu kepada alex, bahwa kondisinya sangat lemas sekarang.


“atiitt. ” cicit abigail pelan, dengan suara yang tidak jelas. dokter lita tersenyum, ia pamit keluar setelah memberikan resep dan juga petuah kepada alex, yang menyambut saran-saran dari dokter lita, dengan sangat serius.


Alex membantu abigail yang ingin bangun dari tidurnya, ia menuntun abigail untuk berada di posisi duduk, alex mengatur posisi penyanggah kepala abigail, untuk sedikit menjadi lebih bangun, hingga bisa membuat abigail duduk dengan posisi setengah tertidur.


“hubby, maafin bubu... ” cicit abigail dengan wajah semelas mungkin, alex tersenyum lembut, ia kecup kening abigail dalam. abigail memejamkan matanya merasakan kehangatan ditengah-tengah ciuman alex.


“seharusnya bubu enggak kekanak-kanakkan! ” rengek abigail merasa bersalah, alex langsung menggelengkan wajahnya cepat, ia taruh jari telunjukknya untuk menempel di bibir abigail.


“sstt” bisik alex, “bubu engga salah, ini semua emang sudah takdir. sekarang kita sebagai orangtua, harus lebih hati-hati lagi. ” jelas alex lembut, mencoba memberi pengertian kepada abigail.


“tapi kan— ”


Alex mengecup bibir mungil abigail yang ingin kembali berucap, abigail menundukkan wajahnya, ia usap perut nya masih datar, belum ada perubahan. “baik-baik aja, disana ya nak.... ” titah abigail dengan suara nya yang seperti anak kecil. alex terkekeh geli, memandang abigail yang masih saja terlihat polos, layaknya bocah sma.


“bubu ini, kecil-kecil udah bisa bikin aku punya anak kecil. ” goda alex mencolek dagu abigail jail.


“kan, kecil-kecil cabai rawit! wlee ”abigail menjulurkan lidahnya sekilas, namun dengan cepat alex sambut lidah itu dengan hisapan di bibirnya.


alex mencecap bibir abigail intens, seolah melupakan bahwa kondisi abigail masih lah terbilang lemah, ia menahan tengkuk abigail, lalu tangannya mendorong punggung abigail agar semakin rapat dengan dirinya. ciuman diantara mereka semakin menggebu-gebu, apalagi abigail mulai lihai mengimbangi cecapan bibirnya.


Ting!


Notifikasi yang masuk dalam ponsel alex, menghentikkan kegiatan diantara mereka berdua, nafas abigail terengah-engah, alex mengusap saliva yang ada di sekitar bibir abigail dengan ibu jarinya, namun seperkian detik kemudian, senyum mengembang di bibirnya yang belum samasekali tersentuh nikotin, setelah melihat pesan yang masuk.

__ADS_1


“Bubu, kita akan segera menikah! ” pekik alex senang, sambil merengkuh kedua rahang abigail. mata abigail membesar, ia terkejut dengan pernyataan alex barusan.


Abigail langsung menarik ponsel alex untuk berada pada genggaman nya, dengan seksama ia baca pesan yang dikirim atas nama Jesse . Ia langsung memeluk leher alex erat, ia sungguh bahagia saat ini, bibirnya melengkung indah. namun seperkian detik kemudian ia kembali murung, mengingat orangtua nya yang juga baru bercerai.


“Abi takut.. ” cicit abigail menundukkan wajahnya dalam-dalam, ia takut kalau hubungannya dengan sang kekasih, akan sama dengan kedua orangtua nya.


“Abi takut kaya mamah papah... abi udah ngerusakin rumah tangga orang lain. seharusnya engga kaya gini. abi takut dapet karma.. ” wajah abigail langsung menggeleng cepat, ia memeluk leher alex semakin erat.


Alex mengusap punggung abigail lembut, ia dapat merasakan kecemasan abigail, rasa bersalah pasti hinggap di hati kekasih kecilnya, namun bagaimanapun juga, tidak ada yang bersalah disini. perasaan memang tidak pernah bisa dipaksakan.


“ini berbeda sayang... aku dan Jesse sudah sepakat, — tidak ada guna nya lagi untuk mempertahankan hubungan yang tidak didasari rasa kepedulian atau cinta. — dan kau, adalah perempuan yang ku cari untuk menjadi pendampingku. karma itu memang berlaku, tapi kita harus percaya dengan kekuatan cinta diantara kita. ”


Alex merenggangkan pelukan diantara mereka, ia meraih kepala abigail, lalu mengecup kening abigail dalam. alex kembali berbisik, yang membuat perasaan runyam abigail, menjadi tenang dan mengerti.


“akan salah jika kita mempertahankan hubungan yang tidak dilandasi cinta. apa yang sudah terjadi dengan kedua orangtua mu, bukan karena penghianatan atau perselingkuhan. mereka satusama lain sudah saling menyadari, bahwa hati mereka memang tidak bisa bersatu. ”


Alex membawa kening mereka menjadi menyatu, hidung mungil abigail yang bangir itu, tampak memerah menahan kesedihan.


“dan sekarang, mereka sudah menemukan tempat untuk berlabuh nya hati mereka..” Abigail menarik nafasnya, ia melanjutkan ucapan alex yang memang benar adanya. Abigail tidak boleh egois, Abigail juga harus memahami situasi yang terjadi.


Alex tak ingin abigail larut dalam kesedihannya, ia kembali melemparkam pertanyaan dengan nada bercanda, namun tersirat keseriusan didalam nya.


“kapan, kau ingin aku nikahi, tuan puteri? ” tanya alex menaik turunkan alisnya menggoda. Abigail menggigit bibirnya, menahan senyuman.


“saat ini jugaa!! ” jawab abigail meninggikan nada suaranya dengan penuh semangat. alex sempat terkejut, walau akhirnya ia kembali tertawa.


“Baiklah! ”


•••••••••••••

__ADS_1


Baiklah.....


__ADS_2