Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-10


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Kuda yang melangkah itu menarik bendi yang aku tumpangi bersama dengan Kang Roy dan juga paman Karim yang masih mengemudikan bendinya sambil memegang dua tali yang digunakan untuk mengemudikan kudanya.


Aku sesekali melambaikan tanganku saat beberapa anak-anak desa yang menunjuk ke arahku dan bahkan ada beberapa pula orang-orang yang terlihat ikut melambaikan tangan ketika aku melintas di area persawahan.


"Selamat pagi paman Johor!" sapa Kang Roy saat bendi yang kami tumpangi melintasi seorang pria yang sedang memikul cangkulnya.


Pria itu menghentikan langkahnya lalu tersenyum menatap ke arah kami.


"Roy mau ke mana?"


"Mau ke kota."


"Mau cari pekerjaan?"


"Tidak, Paman Roy hanya mau jalan-jalan saja di kota ketemu sama teman Roy di Ujang!"


"Paman Johor!" teriakku yang tak kalah kerasnya membuat Paman Johor menoleh menatapku sambil melemparkan sebuah senyum.


"Loh, Abdul! Kamu juga pergi tidak pergi sekolah ya?"


"Tidak."


"Kamu mau ikut ke kota juga!? Mau jalan-jalan di kota?"


"Tidak paman Karim, Abdul hanya mengantar saja."


"Oh, aku kira kau ingin ikut juga ke kota."

__ADS_1


"Tidak," teriak aku yang semakin meninggikan nada suara saat bendi yang aku tumpangi sudah berada cukup jauh dari paman Karim.


"Ya kalau begitu hati-hati, ya!"


"Iya terima kasih," jawab aku dan Kang Roy dengan kompak.


Kami melanjutkan perjalanan. Kuda masih menarik bendi dengan langkah yang santai terguncang sedikit dengan pelan saat roda menginjakkan jalanan yang tidak rata.


Aku menarik nafas dalam-dalam hingga udara segar yang desa kumiliki ini begitu sangat menyegarkan. Aku bisa merasakan setiap tarikan nafas yang memasuki dan mengisi rongga kedua paru-paru ku, mengembang mengempis membuat setiap kali aku menjadi tersenyum.


Bersyukur sekali aku dilahirkan di desa ini yang disajikan pemandangan yang begitu sangat indah yang selalu saja memanjakan mata.


Selalu aku memanjatkan kata syukur diberikan lingkungan yang bersih seperti ini, tak ada sampah sedikitpun di desaku. Hanya ada hamparan sawah, kebun, pepohonan tinggi, gunung yang menghijau hanya dengan beberapa rumah-rumah para warga yang itu pun terbuat dari kayu.


Seakan tidak ingin menyakiti tanah kami tidak berniat untuk memiliki rumah yang terbuat dari batu karena jika memiliki rumah yang terbuat dari batu maka kami harus menggali pondasi dan itu berarti kami akan menggali tanah cukup dalam untuk membuat sebuah pondasi rumah, selain itu juga jalanan yang tidak mendukung menjadi halangan bagi kami untuk membawa perlengkapan pembangunan untuk membuat rumah yang terbuat dari batu itu.


Aku pernah mendengar cerita tentang perbedaan antara kota dan desa dimana perbedaan yang begitu sangat jauh, sangatlah bertolak belakang hingga tak bisa menyatu. Perbedaan yang membuatnya benar-benar menjadi sebuah perbedaan.


Kami juga punya itu, hanya saja bentuk dan kegunaannya yang berbeda. Aku juga tidak iri dengan jalanan yang kami lewati ini penuh dengan bebatuan-bebatuan sementara jalanan yang ada di kota merupakan jalanan beraspal mulus dengan lampu penerang.


Lampu lalu lintas dan rambu-rambu yang memiliki fungsi masing-masing. Kami tidak punya itu. Jangankan lampu jalan, listrik saja pun belum ada di desa kami.


Ya, sepertinya pemerintah melupakan desa kami. Aku juga penasaran bagaimana rasanya jika di rumah kami ada sebuah lampu mungkin kehidupan kami akan lebih bahagia atau mungkin sebaliknya.


Harapan demi harapan selalu aku tuliskan Aku ingin sekali desaku ini berkembang lebih sedikit setidaknya ada lampu serta aliran listrik, pembangkit air sehingga kami semua tidaklah bersusah payah untuk mengambil air dari sungai.


Aku juga selalu berharap suatu saat nanti ada pembangunan jembatan yang menghubungkan hutan ke desa kami jadi kami tak perlu bersusah payah menyeberangi sungai. Kami tak perlu juga menunggu air surut untuk melintasi jalanan.


Aku juga selalu berharap jika suatu saat nanti di desa kami terdapat beberapa kendaraan yang bisa mengangkut kami menuju ke sekolah. Ada begitu banyak harapannya.

__ADS_1


Aku juga berharap bangunan yang mirip dengan kandang hewan itu dirombak. Harapan yang telah lama kurancang pada kalimat sebelumnya seperti bangunan besar, bendera merah putih yang baru, papan tulis yang bagus dan lantai yang mengkilat.


Tidak seperti sekarang ini dimana kami harus menyatu dengan alam bahkan tak jarang kotoran-kotoran kambing turut menemani proses pembelajaran kami.


Aku juga selalu berharap jika tenaga pendidikan di sekolah kami turut ditambah kami tak bisa menggantungkan harapan hanya kepada ibu Fatimah saja yang bahkan jarang datang ke sekolah. Sekalipun hanya ibu Fatimah yang mengajar maka apakah tidak bisa dia memberikan kabar untuk kami agar dia memberitahu kami jika dia tidaklah datang untuk mengajar sehingga kami tidak perlu bersusah payah jalan cukup jauh untuk sampai ke sekolah dan tidak pula kami akan pulang ke rumah dengan tangan hampa.


Ini adalah sebuah rangkuman harapanku harapanku kepada desa kami ini. Bukan bermaksud untuk tidak bersyukur hanya saja harapan kecil kami ini untuk mencapai kemakmuran yang lebih tinggi.


Kami tak ingin terlalu terbengkalai dengan kecanggihan teknologi yang ada di kota-kota besar yang tumbuh pesat di kalangan kota.


Setelah cukup jauh perjalanan kini akhirnya bendi itu terhenti membuat aku dan Kang Roy melangkah turun tak lupa juga Kang Roy meraih tas sedangkan aku mengangkat beberapa kantong serta rantang yang dikhususkan untuk kang Roy.


"Terima kasih paman Karim."


"Ya hati-hati, ya. Paman Karim pergi dulu soalnya masih ada orang yang mau saya jemput. Abdul!"


"Iya paman," sahut aku cepat.


"Nanti pulangnya bagaimana?"


"Aku pulang sendiri saja."


"Oh iya hati-hati, ya semoga sampai di kota tujuan dengan baik. Jangan lupa oleh-oleh dari kota, roti! Roti!"


Aku tertawa kecil saat paman Karim menaikkan kedua alisnya. Pria tua itu masih saja bisa memberikan sebuah lelucon saat-saat perpisahan kami.


Aku melanjutkan langkah melewati sungai yang sering aku lewati untuk pergi ke sekolah. Kali ini kami tidak menunggu waktu sungai surut seperti saat kami pergi ke sekolah kini jam telah menunjukkan pukul tujuh sungai yang telah surut jika jam seperti ini.


Aku melangkahkan kakiku dengan pelan-pelan melewati beberapa batu yang sedikit berlumut. Aku tidak mau jika aku tergelincir dan membuat rantang-rantang beserta barang bawaanku ini jatuh ke sungai.

__ADS_1


Aku tak apa-apa jika aku yang terjatuh ke sungai tapi aku tidak mau jika barang-barang dan beberapa rantang ini ikut terjun ke sungai. Aku kasihan dengan Mama yang telah bersusah payah untuk membuatkan makanan untuk kang Roy dan tak ingin jika makanan ini hanya dicicipi oleh air sungai yang masih jernih.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2