Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-30


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Suara kicauan burung-burung terdengar. Kini matahari seakan memberikan sebuah kalimat perpisahan saat ia tak lama lagi akan benar-benar tenggelam di bagian gunung di sana.


Kini langit di bagian sana sudah berwarna orange membentang begitu sangat luas. Pantulan dari cahaya matahari menghasilkan warna yang begitu sangat indah memberikan suasana perpisahan antara bumi dengan matahari.


Aku hanya bisa memeluk kedua lututku saat duduk di atas rerumputan menatap dari kejauhan orang-orang yang masih sibuk memotong batang pohon mangga menjadi bagian kecil-kecil lalu dinaikkan ke mobil truk lalu diangkut dan entah dibawa pergi ke mana. Mungkin dijual di pasar.


Aku tidak mengerti mengapa mereka semua begitu tega menebang pepohonan. Apakah hatinya telah membeku? Ya aku tahu itu mereka lakukan karena pembangunan tapi apakah tidak bisa jika pabrik yang akan mereka bangun itu dibangun tanpa menebang pohon mangga itu.


Aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa karena tanah yang selalu tempati kami bermain adalah milik Bapaknya Mansur dan kami semua harus mengikhlaskannya begitu saja.


Mungkin Bapaknya Mansur membutuhkan banyak uang, lagi pula mungkin masih ada tempat lain yang bisa kami gunakan untuk bermain selain tempat ini.


Sekarang desaku ini memperlihatkan sebuah perubahan. Dulu hutan di sana begitu sangat gelap menghijau dengan suara keributan hewan-hewan yang bergantian bersahutan membuat orang-orang bahkan jadi ngeri sendiri untuk harus melewatinya begitu pula dengan Jono yang berdiri paling depan dengan tubuhnya yang besar sambil memegang parang memotong semak yang menghalangi jalan, itu pun karena terpaksa.


Niatnya kami hanya untuk menjaga jaga takut ada ular besar yang menghalangi jalan kami. Kini jalanan beraspal dimana-mana membentang begitu panjang. Pepohonan kini telah berkurang jumlahnya karena jalanan beraspal itu telah membelah hutan kami menyambungkan jalan utama menuju ke desa kami.

__ADS_1


Kendaraan-kendaraan juga semakin banyak yang terlalu-lalang padahal dulu hanya dilalui oleh bendi saja.


Sekarang juga banyak warga-warga desa yang telah membeli kendaraan seperti motor dan sepeda. Mobil-mobil mobil pick up pun tak ada henti-hentinya masuk ke desa kami membawakan barang-barang elektronik yang telah dibeli oleh warga desa untuk memenuhi kebutuhan mereka.


Ada yang sampai membeli mesin cuci sehingga kurang lah ibu-ibu yang biasanya mencuci di sumur besar dimana seluruh warga desa berdatangan untuk mandi dan mencuci pakaiannya di sumur ini kini mereka semua telah membeli mesin air dan air yang ada di sumur bisa langsung terbawa oleh pipa panjang menuju ke rumah masing-masing warga.


Jadi mereka tak perlu lagi bersusah payah untuk membawa ember berisi air menuju ke rumah mereka masing-masing.


Dan di saat itu pula kurang ibu-ibu yang berkumpul di sumur besar. Kabel-kabel listrik dimana-mana sehingga menghalangi pandangan.


Alam yang sejak dulu ku kagumi dihalangi oleh kabel-kabel panjang berwarna hitam itu. Tiang dimana-mana bahkan para petani sawah takut untuk mendekati tiang-tiang itu takut disetrum katanya.


Selain merampas tempat tinggal hewan-hewan kami mereka juga merampas tempat bermain kami bahkan sekarang kurang anak-anak desa yang ikut bermain melainkan mereka semua sibuk menonton TV yang orang tua mereka beli di pasar. Mamaku juga sering begadang untuk menonton TV padahal biasanya setelah salat isya dan makan ia langsung tidur.


...***...


Hari-hari berlalu begitu saja terus-menerus. Tempat-tempat yang dulu ditumbuhi dengan pepohonan kini ditebang dan didirikan sebuah rumah, bahkan beberapa rumah warga di desa ini juga direnovasi menjadi rumah yang terbuat dari batu bata dan tidak lagi terbuat dari kayu seperti biasa yang kami dulu lihat.

__ADS_1


Sekarang pagar besi dimana-mana bahkan sampai ada salah satu warga yang dulu rumahnya terbuat dari kayu kini dibuat menjadi lantai dua. Bukan hanya itu bahkan banyak orang-orang kota yang datang berbondong-bondong dan membangun rumahnya di desa ini.


Semakin banyak rumah yang dibangun maka semakin banyak pula pepohonan yang ditebang. Rusaklah, semua rusak. Pepohonan di tempat-tempat kami kini dijadikan sebuah rumah.


Apakah ini kemajuan dari teknologi? Sepertinya belum, ini bukanlah sebuah perubahan teknologi yang merusak kami melainkan sebuah kemajuan dan renovasi yang ingin mencapai sesuatu yang lebih baik lagi dari sebelumnya.


Lalu bagaimana dengan Kang Roy dan Mbak Santi? Ya keduanya tak kunjung pulang hingga akhirnya Bapak dan Mama menangis tersedu-sedu saat mendapatkan kabar jika kang Roy telah dimasukkan ke dalam penjara karena terjerat kasus narkoba. Ia menjadi salah satu dari pengedar narkoba yang akhirnya ditangkap di sebuah pelabuhan.


Lalu bagaimana dengan mbak Santi? Ya Mbak Santi rupanya bekerja sebagai wanita malam di kota dan karena kebenaran yang telah terungkap mbak Santi memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena malu dan memutuskan untuk menetap di kota itu.


Bapakdan Mama memang sangat sayang dengan Mbak Santi karena Mbak Santi adalah satu-satunya anak gadisnya tapi dengan kejadian ini membuat Mbak Santi seakan dijauhi oleh Bapak dan Mama.


Ini salah satu akibat jika tidak ingin mendengar omongan orang tua, padahal Bapak sudah melarang untuk tidak pergi ke kota namun, ia bersikeras untuk tetap pergi ke kota dan akhirnya sebuah penyesalan pun tentunya akan menjadi hal yang tidak bisa mbak Santi lupakan.


Kini hanya akulah anak yang menjadi harapan untuk Bapak dan Mama. Aku berharap bisa membanggakannya. Aku tidak ingin bernasib seperti Kang Roy dan juga Mbak Santi.


Aku ingin menjadi orang yang sukses. Meraih sebuah kemajuan dan kesuksesan tanpa merusak alam sebagaimana orang-orang lakukan di dunia ini.

__ADS_1


...🌏🌏🌏...


__ADS_2