Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-24


__ADS_3

🌏🌏🌏


Suara kicauan burung terdengar, embun yang menjadi pelindung desa kami juga terlihat. Matahari yang lama masih enggan untuk menghangatkan bumi menjadikan suasana menjadi dingin. Satu persatu warga desa telah keluar dari rumahnya memikul cangkul yang ada di bahunya berbondong-bondong menuju ke sawah.


Kurapikan rambutku, menyisirnya dengan rapi lalu setelahnya aku melangkah turun menuruni anakan tangga dimana teman-temanku sudah menunggu sejak tadi. Ya sepertinya mereka telah bersemangat untuk pergi sekolah sampai-sampai ia datang lebih dulu biasanya aku yang dibuat menunggu tapi sekarang mereka semua yang menunggu.


Di sana bukan hanya teman-temanku yang menanti tetapi gadis kota itu, Zaina. Aku menatapnya, memandanginya dari ujung kaki sampai ujung rambut yang terlihat begitu sangat rapi. Pakaian dan seragam sekolahnya pun juga berbeda dengan kami.


Jika penampilan kami terlihat lusuh berbeda dengannya yang berseragam lebih bersih dan pakaian yang putih. Kain yang ia gunakan pada seragam sekolahnya juga bukan yang tipis, tak seperti dengan seragam sekolah yang kami gunakan yang tipis.


Ya sebuah perbedaan antara anak-anak kota dan anak-anak desa dan juga perbedaan anak orang kaya dan anak orang miskin seperti kami. Ya kami adalah akan miskin tapi lihat saja desa kami, desa kami juga kaya. Kaya dengan kekayaan, kekayaan yang melimpah.


"Apa kalian sudah siap?" tanyaku.


"Siap," jawab mereka dengan kompak.


Ya kami semua akhirnya melangkah, melangkah bersama-sama menuju jalan beraspal. Andai saja jika gadis kota ini datang di saat belum ada pembangunan aspal mungkin ia akan terkejut setelah melihat jalanan yang kami lintas itu cukup jauh.


Kini kami melangkahkan kaki, melintasi jembatan besi yang begitu tinggi. Di bawah sana ada sungai yang mengalir airnya begitu jernih.


"Wah, di sini indah sekali, ya!" kagum Zaina membuat kami semua hanya mampu menggelngkan kepala. Kasihan sekali gadis kota ini. Dia bahkan begitu kagum dengan sungai yang memiliki banyak buaya padahal kami semua menakuti sungai ini.


Ya siapa yang suka dengan sungai yang dipenuhi dengan anak-anak buaya bahkan kami begitu ketakutan jika harus menyeberanginya.


"Apakah di sini masih jauh?" tanya Zaina di saat-saat kami masih berjalan kaki.


"Masih jauh."


"Berapa menit perjalanan?"


"Bukan menit tapi jam!" tegurku.


"Berapa jam perjalanan kira-kira?"


"Biasanya dulu hampir memakan waktu tiga jam tapi sekarang mungkin hanya satu jam," jelasku lagi.


"Satu jam?" paniknya dengan kedua mata yang membulat.


"Kenapa?"


"Itu terlalu jauh."


"Tidak terlalu jauh karena jalannya sudah di aspal andai saja tidak di aspal mungkin perjalanan kita akan semakin jauh."


"Oa ya?" ujarnya dengan wajah yang begitu sangat khawatir.


Sepertinya ia khawatir jika harus berjalan cukup jauh. Selama perjalanan monyet-monyet berlompatan dari pohon ke pohon, tidak terlalu banyak sepertinya setelah penebangan hutan serta pepohonan pada hutan ini kera-kera sepertinya masuk ke hutan yang lebih dalam sehingga sudah jarang aku melihat kera-kera yang melompat.


"Wah, itu monyet ya!" tunjuk gadis itu ke arah pepohonan membuat kami dengan serentak mendongak menatap kera yang sedang menggendong anaknya.


"Wah, imut sekali," gemas Zaina sambil menyentuh kedua pipinya dengan gemas sementara Jono nampak melongo.


"Imut apanya?" tanya Jono yang garuk-garuk kepala.


"Itu bukan monyet! Itu kera," ujar Mansur yang membenarkan.

__ADS_1


"Memangnya beda monyet dengan kera apa?"


"Monyet dan kera memang mirip, tapi faktanya kedua hewan ini sangat berbeda. Monyet dan kera adalah primata, yang membentuk bagian dari silsilah keluarga manusia. Kera cenderung lebih mirip dengan manusia-"


"Kayak si Samal mukanya mirip sama kera," ejek Jono membuat Samal mendecapkkan bibirnya kesal dan nyaris memukul kepala Jono namun, dengan cepat ditegur oleh Leha.


"Misalnya kera memiliki usus buntu, sedangkan monyet tidak," lanjut Mansur sedangkan kami semua dengan asyiknya melangkah.


Aku bisa melihat orang kota itu yang nampak begitu terkejut setelah mendengar penjelasan dari Mansur.


"Wah, dari mana kamu tahu perbedaan itu?"


"Tentu saja dia tahu. Aku kan sudah bilang kalau dia itu pintar," jariku begitu dengan bangga sambil merangkul kedua pundak Mansur.


"Aku tidak pintar hanya sekedar tahu saja. Aku membacanya dari buku Fatimah."


"Ibu Fatimah?"


"Iya ibu Fatimah itu guru yang mengajar kami di sekolah."


"Wah, selain guru ibu Fatimah siapa lagi yang mengajar?"


Sontak aku dan teman-temanku langsung berpandangan.


"Memangnya siapa lagi yang mengajar? Guru kami ya ibu Fatimah. Dia yang mengajarkan kami semua ilmu."


"Ibu Fatimah?" tanya Zaina yang begitu tak percaya.


"Iya ibu Fatimah. Dia mengajari kami di sekolah."


"Selain ibu Fatimah sudah tidak ada lagi, sahut Jono.


"Tentu saja. Kenapa? Kalau di sekolah kau banyak yang mengajar, ya?"


"Iya banyak. Ada guru bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, seni budaya, biologi dan masih banyak lagi."


"Wah, kamu sangat beruntung kami di sini hanya punya satu guru yaitu, ibu Fatimah saja," ujarku.


"Ibu Fatimah sangat hebat, dia menguasai semua mata pelajaran dari matematika bahasa Inggris, bahasa Indonesia, sosial dan masih banyak lagi," jelas Jono.


"Ibu Fatimah sangat hebat. Saya tidak sabar ingin bertemu dengan ibu Fatimah."


"Iya kami juga tidak sabar mempertemukan kau dengan teman-teman kami di sana," sahut Samal.


"Oh ya ada berapa anak di sana?"


"Di sana banyak. Kami tidak pernah menghitungnya," ujarku sementara Samal dan Jono sibuk menghitung dengan jemari tangannya.


"Kenapa?"


"Kami tidak pernah menghitung karena tidak menentu murid-murid yang sekolah di sekolah kami. Kadang hari ini datang lalu hari kemudian tidak datang lagi bahkan dia datang sekali dalam sebulan jadi kami tidak tahu apakah dia sekolah menetap atau tidak," jelas Leha.


"Ah kalau di sekolah saya mungkin dia sudah dikeluarkan."


"Yang benar?"

__ADS_1


Kami terus melaju melangkahkan kaki kami hingga akhirnya kami semua tiba di siring jalan. Kami juga tidak perlu bersusah payah untuk melewati kumpulan kerbau-kerbau dan juga kambing-kambing milik pengembala karena jalan beraspal langsung menghubungkan ke jalan besar.


Kami juga tak perlu bersusah payah untuk menghindari kotoran-kotoran kerbau yang menghalangi jalan.


"Apakah kita sudah akan sampai?"


"Tidak masih jauh lagi."


"Masih jauh?"


"Iya masih."


"Terus kenapa kita berhenti?"


"Seperti biasanya kami semua akan menunggu Paman jago."


"Paman Jago?"


"Iya dia yang akan mengantarkan kami ke sekolah."


"Iya jadi kita menunggu mobil," sahut Leha.


"Mobil? Maksudnya bis?"


"Bis?"


"Iya bis di sekolah. Kami punya tumpangan gratis yaitu bis. Bis itu yang akan mengantarkan dan menjemput kami dari sekolah ke rumah begitu juga sebaliknya."


"Wah, keren sekali. Apakah itu gratis?" tanya Jono.


"Gratis tapi kebanyakan anak-anak yang sekolah tidak mempergunakan bis."


"Kenapa?"


"Karena mereka akan diantar oleh orang tua mereka sendiri."


"Wah, enak sekali kalian kami bahkan tidak pernah diantar oleh kedua orang tua kami ke sekolah," ujar Jono.


"Heh, mereka tidak mengantar kita karena mereka sibuk bekerja," sahut Samal dengan wajahnya sedikit marah.


Cukup lama kami berdiam duduk di sini menanti kedatangan paman Jago membuat gadis kota itu menunduk menatap jam tangan yang ada di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lewat.


"Seperti sekarang sangat terlambat."


"Ini tidak terlambat. Biasanya ibu guru akan datang di jam 9."


"Oh ya?"


"Iya bahkan ia pernah datang di jam sepuluh bahkan nyaris pulang karena ibu Fatimah yang terlambat."


"Kenapa bisa seperti itu?"


"Rumah ibu Fatimah sangat jauh dari sekolah jadi mau tidak mau kami harus menunggu dan bahkan ibu Fatimah tidak akan datang ke sekolah."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Banyak alasan karena ibu Fatimah yang sering terjebak oleh pasang surutnya sungai ataupun motornya yang mogok," jelasku.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2