Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-18


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Hari ini kami memutuskan untuk tetap pergi sekolah walaupun jalanan kami masih di aspal sehingga aspal yang masih hangat itu belum bisa diinjak. Aku berbondong-bondong bersama dengan teman-teman melewati sungai sambil sesekali mendongak menatap bagian atas yang terlihat dibuatkan jembatan walaupun masih butuh beberapa tambahan lagi.


"Kira-kira kapan jembatan ini bisa digunakan ya? Aku sudah tidak sabar ingin lewat jembatan."


"Kalau jembatan sudah bagus, apa itu berarti kita bisa lewat di sana dan menggunakan bendi untuk ke sekolah?" tanya Leha lagi.


"Iya mungkin saja," sahut Mansur membuat aku mengganggukan kepala. Jika Mansur yang menjawab maka semuanya sudah benar.


Sepanjang perjalanan kami hanya bisa lewat di sirin jalanan tak berani menginjakkan kaki kami pada aspal-aspel yang mengkilat membentang begitu panjang membelah hutan yang masih berisik dipenuhi dengan hewan-hewan liar.


Selama kami melangkahkan kaki, selama itu pula kami menoleh ke arah kiri kanan dan membuat kami tertawa saat Jono yang berniat mencoba untuk menyentuh permukaan aspal. Aku melepaskan tawaku saat Jono berusaha untuk berbaring di atas aspal itu. Namanya juga orang desa tidak pernah melihat jalan beraspal di dalam hutan.


"Jangan mau berbaring di situ Jono! Kalau aspalnya masih basah lalu kau berbaring di situ kau akan tenggelam!" ujar Leha menakut-nakuti membuat Jono dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari aspal.


Seiring perjalanan kami melewati satu persatu tenda yang berada di sirin jalan hingga akhirnya suara tawa dan sendau gurau yang kami lakukan terhenti setelah mendengar suara jeritan kera yang terdengar seakan ia sedang merasa kesakitan.


Hal itu sontak membuat langkah kami terhenti dengan cepat lalu kami saling berpandangan berusaha mendengar suara kera itu lebih jelas.


"Apakah kalian mendengar suara itu?" tanya Mansur membuat kami semua menganggukkan kepala.


"Sepertinya suara kera itu berasal dari tenda itu!" tunjuknya membuat aku dan teman-teman yang lain memberanikan diri mendekati tenda.


"Astaga itu ada kera yang dikurung!" panik Leha yang dengan cepat berlari menghampiri kera yang terlihat dikurung pada sebuah kandang besi.


"Kami semua tidak mengerti mengapa kera ini bisa berada di dalam kandang."


"Lihat sepertinya kera ini masih kecil tapi kenapa kera ini bisa ada di dalam kandang, ya?" ujarku ikut bertanya.

__ADS_1


"Lepas saja! Kan kasihan kalau keranya dikurung seperti ini!"tunjukku membuat leha menatap ke arah kandang berusaha mencari pintu yang terdapat pada kandang itu.


"Tidak bisa dibuka. Kandangnya digembok."


"Jadi harus bagaimana?"


"Kalau ada gembok berarti ada kunci dan salah satunya adalah mencari kuncinya," jelas Mansur membuat kami semua terdiam.


"Kira-kira dimana kuncinya, ya?"


Lama kami terdiam berusaha mencari jawaban, tak berselang lama Mansur melangkah mendekati sebuah meja yang tak jauh dari tenda itu.


"Ini kuncinya," ujar Mansur yang kemudian berlari kecil mendekati kami dan memasukkan kunci itu ke dalam lubang gembok.


"Yeeee, sudah terbuka!!!" teriak kami sambil melompat-lompat bahagia hingga kera itu berlari pergi.


"Hei! Apa yang kalian lakukan di situ?!!"


Suara teriakan itu terdengar dari belakang membuat kami sontak menoleh menatap beberapa pria ya masih mengusap-ngusap kedua matanya yang memerah serta wajah yang masih mengantuk.


Kami dengan serentak melangkah mundur hingga kandang yang telah kosong itu terlihat jelas membuat kedua mata pria itu membulat.


"Loh, keraku! Dimana kalian melepaskan keraku?" paniknya.


"Kera apa? Kera yang di dalam kandang ini?" tanyaku sok berani.


"Iya, itu keraku."


Kami melangkah mundur seakan menjaga jarak antara kami dengan pria itu sementara suara isakan tangis kecil terdengar tentu saja Leha kembali menangis.

__ADS_1


"Sejak kapan bapak ini melahirkan kera? Kera ini tinggal di hutan bukan di dalam kandang, lagi pula kenapa Bapak ini menangkap kera?" tanya Mansur.


"Iya, pak seharusnya Bapak tidak boleh menangkap kera dan memasukkannya ke dalam kandang, ini namanya merusak alam."


"Satu kera yang bapak ambil sama dengan menghancurkan ribuan generasi. Kalau bapak mengambilnya maka punahlah kare di hutan ini."


"Alah, anak desa sok-sokan ingin menegur," kesalnya.


"Pak, kami memang anak desa dan kami memang masih kecil tapi kami tidak sebodoh seperti bapak." Tunjuk Mansur membuat nyaris jantungku lepas begitu saja.


Aku memang marah dengan pria ini tapi tidak berani mengatakan bodoh kepada orang kota itu.


"Berani kau, ya! Sini biar kupukul!" teriaknya membuat aku dan teman-teman yang lain sontak terkejut bukan main.


"Kabuuuur!!!" teriakku sambil tertawa cekikikan membuat kami semua berlari.


Hari ini lumayan sangat melelahkan kami bahkan berlari terbirit-birit dan kami semua tanpa sadar berlari di atas aspal yang mulus itu membuat Jono yang berlari paling belakang berteriak kegirangan karena niatnya untuk menginjakkan kakinya pada aspal ini terwujud.


"Wah, lihat aku seperti burung yang sedang terbang!!!" teriak Jono merentangkan kedua tangannya di kedua sisi lalu berlari sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya.


"Lihat ada kera!!!" teriak Samal membuat aku menoleh menatap ke arah Jono yang berlari seperti kera.


Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah Jono itu, baru sedetik yang lalu ia berlari seperti burung sekarang ia berlari seperti kera sambil memoyong-monyongkan bibirnya dan mengeluarkan suara mirip kera.


Kebahagiaan kami hanyalah berlari di atas aspal yang masih baru. Ini pertama kalinya kami melihat aspal yang baru saja dibuat dan kami adalah orang pertama yang menginjaknya.


Aku yang masih tertawa ketika itu mendongak menatap kera yang telah kami lepaskan tadi sedang melompat-lompat dari pohon ke pohon seakan mengikuti langkah kami. Aku tersenyum dan kemudian ikut berlari beradu balapan dengan teman-temanku yang tidak menyadari jika kera yang telah kami selamatkan itu mengikuti kami.


...🌏🌏🌏...

__ADS_1


__ADS_2