Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-11


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Kang Roy lebih dulu tiba di Siring sungai lalu ia menoleh menatapku sambil menanti kedatangan aku yang masih bergelut dengan beberapa pijakan batu. Entah karena memang peduli denganku atau ia hanya memastikan jika rantang yang akan ia bawa ini selamat sampai di seberang.


Setelahnya kami melanjutkan perjalanan melewati hutan yang sering aku lewati, kembali lagi terdengar suara keributan alam hewan-hewan seakan menyambut kedatangan kami.


Aku mendongak menatap monyet-monyet lucu yang melompat kiri dan kanan seakan ikut menatap perjalananku bersama dengan kang Roy. Entah mengapa aku merasa sedikit serta takut saat melewati hutan bersama dengan Kang Roy padahal biasanya aku sangat berani jika aku melewati hutan ini.


Ya mungkin saja karena saat itu ada teman-temanku seperti Jono, Mansur, Samal dan Leha. Apalagi dengan Joni yang memang tubuhnya begitu sangat gendut jadi dia seakan aku jadikan sebagai pelindung terutama dengan parangnya yang digunakan untuk berjaga-jaga. Ah, dia seperti pahlawan. aku bangga dengan teman gendutku itu.


Aku sedikit kebingungan saat menatap Kang Roy yang melintasi jalan yang biasanya tidak kulewati saat pergi sekolah membuat aku menghentikan langkah menoleh menatap ke arah depan dimana tempat yang selalu aku lewati sementara Kang Roy sudah memasuki semak-semak yang cukup tinggi.


"Kang Roy! Kang Roy mau ke mana bukannya jalan ini adalah jalan menuju ke bukit padang rumput iya kan?"


"Iya tapi ini jalan pintas."


"Jalan pintas?"


Kang Rey mengangguk membuat aku dengan cepat berlari mengikutinya, takut ditinggal oleh kang Roy.


Selama perjalanan melintasi jalan semak-semak itu aku dibuat berpikir memangnya ada jalan pintas? Bagaimana aku tidak tahu jika selama ini jalan yang aku anggap tidak berguna dan dipenuhi dengan semak-semak liar ternyata merupakan jalan pintas.


Aku terus melajukan langkahku memeluk rantang erat-erat rantang dengan kedua mataku yang membulat kiri kanan berusaha memastikan jika tidak ada hewan buas yang mengancam.


Aku melihat setiap inci pada jalanan yang aku lewati. Aku takut ada hewan buas yang menerkam kakiku begitu saja lalu menarikku masuk ke dalam semak-semak.

__ADS_1


Aku mungkin bisa saja berteriak tetapi hewan buas itu pasti akan lebih cepat mengigit mulutku agar aku berhenti berteriak. Ah, sungguh mengerikan. Aku berkedit ngeri sendiri.


Aku buru-buru berlari kecil di belakang kang Roy berharap agar aku tidak jauh darinya bahkan jika bisa aku ingin sekali menggelantung di kakinya saja. Aku pikir jalan lintasan yang aku lewati ini merupakan jalan yang terlalu panjang namun, sudah cukup jauh aku melangkah mengikuti kang Roy hingga aku belum menemukan tanda-tanda jalanan besar sedikit.


"Kang Roy! Apa masih jauh? Dari tadi kita belum sampai-sampai."


"Sedikit lagi."


Aku menghela nafas, menelan ludah saat jantungku berdetak lebih cepat. Andai saja jika pria di hadapan yang aku ikuti ini bukanlah Kang Roy atau saudara kandung mungkin aku sudah lari pergi dan aku akan mengira jika ia akan menculik atau membuang aku di hutan yang lebat ini.


Hutan yang dipenuhi dengan hewan-hewan buas. Tentu saja aku merasa khawatir hutan ini begitu lebat bahkan salah jalan sedikit maka akan tersesat butuh waktu berhari-hari untuk mencari jalan keluar.


Tak bersama lama cahaya di depan sana terlihat lebih jelas seakan menemukan jalan keluar dari tempat yang begitu gersang.


Pepohonan mengurang satu persatu dan telah aku lalui hingga akhirnya penurunan bukit terlihat dengan jelas yang selalu aku tempati untuk menunggu mobil yang dikendalikan oleh Paman jago. Ya, si supir yang baik hati itu. Tidak cukup baik karena dia tidak memberikan tumpangan gratis.


Dari sisi kanan aku bisa melihat padang rumput dimana segerombolan kerbau-kerbau dan beberapa pagar panjang yang membatasi antara gerombolan kerbau dan gerombolan kambing terlihat.


Aku pikir jalan pintas itu jauh lebih memakan waktu yang banyak ternyata tidak seperti yang aku pikirkan. Aku menyeringai kecil memikirkan teman-temanku, sepertinya aku sudah punya hal baru yang akan aku bahas kepada teman-temanku. Tak sabar rasanya ingin memberitahu teman-temanku jika selama ini kita terlalu lelah untuk berjalani kaki cukup jauh sementara ada jalan pintas untuk menuju ke pinggir jalan dan kami tak perlu melewati gerombolan kerbau kerbau dan kambing yang membuat kami semua akan menjadi was-was.


Kang Roy menghentikan langkahnya lalu duduk di atas bebatuan yang ada di siring jalan besar. Rupanya orang yang ingin menjemput Kang Roy menuju ke kota belum lah tiba hingga akhirnya kami memutuskan untuk duduk di siring jalan.


Inilah kebiasaan orang-orang kota yang selalu mengabaikan waktu. Dia berjanji untuk datang pukul delapan namun, jam tangan yang ada di pergelangan tangan Kang Roy telah menunjukkan pukul setengah sembilan namun, mereka tak kunjung datang.


Kami telah tiba hampir sejam lebih menunggu bagaikan orang bodoh di siring jalan ini.

__ADS_1


Iya kata orang-orang, orang-orang desa adalah orang-orang bodoh justru sebaliknya. Ah, tidak perlu dipikirkan semuanya selalu menganggap dirinya pintar dan cerdas.


Ibarat kata, orang kota akan terlihat bodoh di orang desa sementara orang desa akan terlihat bodoh di mata orang kota.


Mengenai penjelasannya adalah seperti orang kota akan histeris jika berada di desa sementara orang desa akan histeris melihat kota.


Orang kota akan kagum pemandangan di desa sementara di desa akan kagum dengan pemandangan di kota begitu saja terus sebaliknya.


Saling melengkapi memiliki ciri khas masing-masing yang tentu saja semua orang akan mengetahuinya tanpa perlu diberi tahu.


Aku memang belum pernah melihat kota-kota besar tempat dimana semua orang datang berbondong-bondong di sana mencari sebuah pekerjaan.


Aku pernah melihat gambar bangunan-bangunan kota di buku pelajaran yang ada di sekolah. Buku yang usang itu bahkan warnanya hitam putih namun, masih bisa menggambarkan bagaimana kondisi kota yang begitu sangat memukau.


Suatu saat nanti aku berniat ke kota melihat dan membuktikan gambaran orang-orang mengenai keadaan kota.


Apakah benar dongeng bangunan tinggi itu? Dimana bangunan menyentuh langit?


Apakah benar ada banyak lampu yang berjejer untuk menerangi kendaraan-kendaraan yang terlalu lalang?


Apakah benar juga banyak kendaraan di sana bahkan tak mampu lagi terhitung jumlahnya dan ada juga yang mengatakan jika kendaraan-kendaraan bisa menyebabkan kemacetan.


Ah terlalu banyak kendaraan di sana hingga harus menyembabkan kemacetan. Sepertinya orang-orang kota memiliki kendaraan sehingga menyebabkan kemacetan panjang.


Ada juga yang mengatakan ada jembatan di atas laut. Hah, lagi-lagi aku berpikir bagaimana bisa jembatan itu berada di atas laut?

__ADS_1


...🌏🌏🌏...


__ADS_2