Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-29


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Aku terlihat begitu sangat tidak sabar sat jemari tanganku telah menyentuh tombol on, tidak sabar rasanya untuk menyalakan TV baru yang telah dibeli oleh Mama di pasar tadi.


Bapak melangkah mundur menjauhi TV setelah ia menyambungkan TV itu dengan lubang colokan.


"Coba tekan!" pintanya membuat aku dengan cepat menekan tombol on dan tadaaa, sebuah gambar persis tak jauh beda dengan layar TV yang ada di rumah Leha.


Begitu sangat membahagiakan sekali. Aku bahkan memakan makanan malamku di depan TV bersama dengan Bapak dan Mama. Andai saja ada Mbak Santi dan kang Roy mungkin dia juga akan bahagia makan malam sambil menonton TV seperti ini.


Ya, entah bagaimana kabarnya sekarang. Mereka bahkan tidak mengirimkan sebuah pesan apapun untuk kami. Aku berharap semoga saja mereka cepat pulang dan kami akan berkumpul kembali seperti dulu.


Kini malam telah menunjukkan pukul sepuluh malam biasanya kami semua sudah tidur, tetapi Mama rupanya sedang asyik menonton film sinetron yang menampilkan adegan marah-marahan. Aku tidak mengerti dengan jalur kisahnya.


Setelah film kartun itu habis aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamarku. Kubuka jendela menatap pemukiman warga ini yang begitu sangat terang. Banyak lampu yang berjejer di pinggir jalan bahkan banyak anak-anak muda yang ikut nongkrong di pinggir jalan sambil tertawa cekikikan. Mungkin saja mereka senang karena desa ini sudah memiliki lampu. Sekarang banyak anak-anak muda yang berkeliaran, ya tetapi aku tidak mengerti apa yang mereka lakukan di sana.


...***...


"Wah, apa boleh kami lihat?" tanya Jono yang menatap kagum pada ponsel yang dimiliki oleh Zaina.


Ya setelah bulan dari sekolah kami semua memutuskan untuk duduk pinggiran jembatan untuk beristirahat sejenak sekaligus Zaina yang ingin memotret pemandangan yang ada di sungai ini.


Entah mengapa Zaina begitu sangat kagum dengan pemandangan yang ada di sungai ini padahal sungainya punya banyak buaya. Mungkin dia tidak tahu kalau sungai ini memiliki banyak buaya jika ia tahu semua ini punya banyak buaya mungkin ia tidak mau lagi untuk memotret.


"Berapa harganya kamu belikan ini?"


"Saya juga tidak tahu. Ayah yang belikan."


"Oh," jawab kami sambil mengangguk.


"Nanti kalau aku punya uang aku juga ingin membeli ponsel seperti ini," ujar Jono tak sabar.


"Canggih sekali, ya," puji Lena.


"Namanya juga alat kemajuan teknologi," sahut Mansur.


"Wah, kalau anak kecil seperti kita juga sudah bisa memainkan ponsel, ya?" tanyaku begitu penasaran.

__ADS_1


"Sebenarnya juga tidak cuman Ayah memberikan ponsel ini agar aku bisa menghubunginya. Ayah takut terjadi apa-apa saat berangkat ke sekolah. Apalagi


Ayah tahu kalau berangkat ke sekolah jaraknya cukup sangat jauh."


Kami semua hanya terdiam dengan kedua mata kami yang fokus menatap ponsel yang masih dipegang oleh Jono.


"Oh iya, biasanya banyak kera yang ada di sini tapi kenapa sekarang sudah tidak ada lagi?"


tanya Zaina yang mendongak kiri kanan.


"Semuanya karena penebangan hutan. Andai saja tidak ada penebangan hutan mungkin kera-kera semua masih ada."


"Sebenarnya kera-kera di hutan ini masih ada cuman dia melompat ke tengah hutan jadi tidak ada lagi kera-kera yang ada di pinggiran jalanan ini," jelas Mansur lalu ia bangkit.


"Sudahlah, ayo kita pulang! Aku juga ingin memberikan minum kepada kerbau-kerbauku itu!" ajak Mansur membuat kami semua bangkit.


"Bagaimana kalau kita sekalian bermain. Aku akan singgah untuk mengganti seragam sekolahku dulu lalu kita akan bersama-sama!" usulku.


"Baik, kita akan bertemu di bawah pohon mangga, tempat biasa kita bermain," ujar Jono.


...***...


Setelah makan siang kini aku memutuskan untuk berlari keluar rumah menepati janjiku seperti awal perjanjian bersama dengan teman-teman yang lain jika kami semua akan berkumpul di tempat perbukitan dimana kami selalu bermain di sana.


Ya tidak jauh dimana tempat Samal menggelinding di bagian bebukitan saat berlari untuk mencari bola yang nyaris hilang itu.


Aku berlari cukup kencang melewati orang-orang yang sedang asyik mencangkul di sawahnya. Sesekali para petani meneriaki aku membuat aku hanya bisa membalasnya dengan senyuman.


Akhirnya langkahku yang cepat itu menjadi pelan hingga aku bisa berdiri di samping Mansur, Jono, Samal, Leha dan Zaina menatap gerombolan orang yang sedang menebang pohon dengan mesinnya yang super tajam itu


Pohon mangga yang selalu kami tempati bermain itu kini ditumbang. Buah mangganya juga berhamburan membuat orang-orang penebang pohon itu berlarian untuk memungutinya.


"Kenapa pohonnya ditebang?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Jono yang nampak begitu sangat sedih.


"Untung saja Bapak sudah mengambil kerba-kerbaunya jadi kerbau-kerbauku tidak terkena pohon yang telah ditumbang itu. Kerbau ku tidak bisa merumput lagi di sini," jelas Mansur.

__ADS_1


"Tapi kenapa mereka menebang pohon mangga itu? Di situ, kan kita selalu bermain."


Semuanya terdiam tak ada sedikitpun yang menjawab. mereka semua hanya nampak terdiam dengan raut wajah sedihnya.


"Aku mau bertanya!" ujarku berniat untuk menghampiri mereka dan berniat untuk menanyakan mengapa mereka menebang pohon mangga ini, tetapi dengan cepat Mansur memegang pergelangan tanganku.


"Kau mau ke mana?"


"Aku mau tanya kenapa dia menebang pohon mangga itu. Di sana kan tempat bermain kita."


"Jangan!"


"Kenapa? Ayo ikut aku!" ajaknya lalu melangkah pergi membuat aku menoleh menatap pohon mangga yang telah ditumbang rata di sana.


"Mereka telah membeli tanah itu."


sontak kedua mataku membulat setelah mendengar jawaban itu dari Mansur.


"Siapa yang menjualnya?"


"Bapakku yang telah menjual tanah itu kepada orang kota dan orang kota yang membelinya. Dia ingin membuat pabrik di sana."


"Pabrik apa?"


"Aku juga tidak tahu. a aku tahu mereka hanya membelinya."


"Jadi kerba-kerbau kamu itu mau makan di mana?"


"Bapak masih punya padang yang lain mungkin akan ditempatkan di sana."


"Lalu tempat bermain kita?"


"Aku juga tidak tahu."


Aku menghela nafas panjang lalu menoleh menatap ke arah tempat bermainku yang kini sudah rata. Lalu kami akan bermain dimana sedangkan tempat itu adalah tempat satu-satunya yang selalu kami tempati bermain.


...🌏🌏🌏...

__ADS_1


__ADS_2