Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-27


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Aku menyentuh permukaan saklar yang ada di dinding rumah membuat lampu yang sejak tadi menyala itu kini menjadi mati. Senyumku merekah kembali lalu kembali menekan sakral itu hingga lampu yang baru saja aku matikan kini kembali menyala.


Ya rasanya begitu sangat bahagia bisa menyalakan dan mematihkan lampu seperti ini. Mungkin ini cukup aneh tapi aku begitu menyukainya. Aku terkadang sering memikirkan bagaimana dan mengapa bisa ada yang dikatakan dengan kata listrik. Bagaimana listrik itu bisa ada dan mengapa bisa lampu menyala karena aliran listrik?


Aku melangkahkan kakiku menatap Mama dan Bapak yang nampak sedang bersiap-siap. Entah mau kemana. aku menatap kebingungan menyandarkan bibiku di sebuah tiang rumah menatap Mama yang terlihat mengusap pipinya itu dengan bedak.


"Mama mau ke mana?"


"Mau ke pasar."


"Ke pasar? Untuk apa ke pasar?"


"Mama mau beli TV."


"Beli TV? Untuk apa beli TV?"


"Mau saja, mumpung ada listrik jadi kita bisa menonton televisi. Listrik kan sudah ada jadi kita sudah bisa membeli TV."


"Mama mau pergi dengan siapa? Dengan Bapak?" tebak aku.


"Iya juga dengan tetangga yang lain, semuanya mau pergi ke pasar. Kamu di rumah saja, ya! Jaga rumah kalau Mama pulangnya magrib ayam-ayam tolong masuk ke dalam kandangnya!"


Aku mengganggukan kepalaku lalu melangkahkan kaki menuju keluar rumah. Ku gunakan kedua sendalku itu hingga saat aku sibuk menatap kedua sendal yang sudah ada di kedua kakiku aku menoleh menatap sebuah kendaraan berwarna putih yang nampak membawa beberapa kardus yang bergambarkan televisi di sana. Ada begitu banyak.


Sepertinya warga-warga desa telah memesan barang-barang elektronik untuk digunakan.


"Abdul! Abdul!"


Suara panggil yang menyebut namaku itu terdengar membuat aku bisa melihat sosok Jono yang kini berada di dekat semak-semak.


"Ada apa?"


"Cepat kemari! Leha punya TV baru," ujarnya memberitahu membuat aku berlari menghampiri Jono yang lebih dulu memimpin jalan.

__ADS_1


Dari kejauhan aku sudah bisa melihat sendal-sendal milik kawan-kawanku itu yang bertebaran di depan tangga rumah milik rumah Leha.


"Siapa yang bilang kalau Leha sudah beli TV baru?"


"Leha sendiri yang bilang. Ayo cepat naik!" tintanya yang tak begitu sabar lalu berlari menaiki anakan tangga disusul juga dengan aku.


Tombol on ditekan menghasilkan sebuah gambar serta suara yang ada pada layar televisi. Samal, Jono, Leha, Mansur dan aku menatapnya begitu sangat kagum, benar-benar kagum. Kami di sini bisa melihat orang yang sedang berbicara, ada musik yang mengiringi dialog mereka, begitu sangat luar biasa.


"Kenapa bisa ada orang di situ, ya?"


"Mungkin orangnya ada dalam situ," tebak Jono yang kemudian menyentuh dengan hati-hati TV yang masih menyala itu.


"Tante berapa a belikan TV ini?"


"Dua juta."


"Dua juta?" kagetku.


"Mahal juga," sahut Samal dan setelahnya kami melongok.


"Bukannya Mama kamu juga pergi beli TV, ya?"


"Bener kah?"


"Iya memang. Mama aku juga pergi beli," sahutku.


"Wah Mamaku tidak memberitahu kalau dia mau pergi beli TV di kota."


"Bukan di kota tapi di pasar."


"Iya aku kan juga mau ikut."


Aku melangkah turun dari rumah setelah berjam-jam duduk di hadapan televisi milik Leha yang menampilkan film kartun itu. Hari ini kami begitu bahagia bisa menonton gratis di TV milik Leha.


"Kau tidak ingin bermain?" tanya aku saat Leha yang berada di bibir pintu.

__ADS_1


"Tidak, aku ingin menonton film kartun lagi," jelasnya lalu berlari masuk ke dalam rumah.


Aku, Jono, Samal dan Mansur seketika terdiam lalu kami saling berpandangan.


"Masa kita hanya bermain berempat saja?" tanya Jono tidak terima.


"Sudahlah ayo!" panggilku membuat teman-temanku itu mengikut.


"Apakah menonton tv lebih seru daripada bermain dengan kita semua?"


"Jangan masukkan ke dalam hati!" tegur ku membuat Jono hanya bisa mendecakkan bibirnya dengan kesal.


"Sudah kubilang kan ini yang namanya keburukan dari teknologi. Orang-orang lebih asik menonton walaupun sendiri daripada bermain dengan kita semua," jelas Mansur.


"Maklum saja itu kan TV baru kalau sudah bosan pasti juga Leha ikut bermain dengan kita. Iya kan?"


Aku tersenyum saat Jono menggerakkan kedua alisnya.


"Betul juga, ayo main!" ajaknya.


Kini kami melangkah di bagian bebukitan dimana kami akan bermain sambil menjaga kerbau-kerbau milik si Mansur.


"Nanti kalau kamu sudah beli TV baru jangan lupa untuk tetap bermain dengan kami semua!"


"Tentu saja. Aku akan bermain dengan kalian. Aku tidak akan terus menonton TV seperti Leha," ujarku membela diri.


"Aku juga aku tidak akan berhenti bermain walaupun ada TV, kecuali kalau ada makanan," ujar Jono.


"Ah, kamu itu hanya tahu makanan saja yang kau tahu," ujar Samal melirik dengan ejekan.


"Memangnya apa? Kalau tidak tahu makan, ya mati!"


Sontak kalimat yang diujarkan oleh Jono membuat kami semua tertawa. Otak si Jono itu kalau makanan selalu lancar.


...🌏🌏🌏...

__ADS_1


__ADS_2