Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-06


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Cangkul dihempas-hempas dan berhasil mengoyakkan permukaan tanah yang begitu subur. Bapakku membuat lubang demi lubang pada Liang tanah yang telah ia gali dan berjejer panjang dengan lahan tanah yang cukup luas.


Matahari sekitar pukul delapan pagi sudah memancarkan cahayanya namun, karena desa kami terbilang cukup sejuk karena berada di daerah pegunungan membuat cuaca masih terasa dingin.


Jika menunggu waktu panas maka hawa panas matahari akan lebih terasa jika tepat pada pukul sebelas siang hingga pukul dua siang.


Hari ini aku sedang membantu Bapak untuk menanam jagung yang kemudian nanti hasil panennya akan dijual kepada pedagang yang kemudian akan diantar ke kota lalu dijual kembali dan tentunya dengan harga yang berbeda.


Para pedagang membeli jagung-jagung Bapakku dengan harga sesuai dengan berat timbangan sementara jika mereka menjualnya kembali ke kota maka akan dijual dengan hitungan perbuah.


Kali ini tugasku adalah memasukkan beberapa biji jagung yang telah dikeringkan ke dalam liang-liang yang telah dibuat oleh Bapak.


Hari ini adalah hari minggu waktunya kami anak-anak desa membantu para orang tua berkebun. Hari minggu pula merupakan hari yang disukai oleh orang tua karena disaat itu anak-anak mereka akan turut membantu pekerjaan sehingga pekerjaan yang dilakukan jauh lebih cepat selesai.


Tak heran jika orang tua sengaja mengambil pekerjaan banyak dengan alasan agar pekerjaan yang seharusnya dilakukan sebanyak 3 hari bisa diselesaikan hanya dalam satu hari karena mendapat tenaga yang jauh lebih banyak.


Untungnya aku tidak sendiri karena ada teman-teman yang membantu aku hari ini. Beruntungnya juga teman-teman tidak memiliki kesibukan lain jadi mereka punya waktu untuk membantu aku di kebun.


Aku yang memiliki tugas untuk menaburkan beberapa biji ke dalam liang yang telah digali oleh Bapak sambil menenteng ember yang berisi biji-biji jagung. Bukan hanya aku yang bertugas memasukkan biji-biji ke liang tanah tetapi Jono juga melakukan hal yang sama.


Sementara samal, Mansur dan Leha mendapatkan tugas yang lebih mudah yaitu menutup liang yang telah terisi dengan biji-biji jagung dengan tanah.

__ADS_1


Tidak sembarangan orang yang melakukan tugas ini. Kami punya cara tersendiri saat melakukannya.


Biji-biji jagung yang kami masukkan ke dalam setiap lubang hanya diisi dengan 3 atau 4 tidak boleh lebih atau kurang.


Sementara tugas teman-temanku yang lain yaitu menimbun setiap lubang yang telah aku dan Jono isi dengan biji jagung menggunakan tanah yang sejenis dan tidak menekannya turun. Jika terlalu ditekan maka biji jagung yang seharusnya tumbuh malah hanya akan membusuk.


Saat ini Mbak Santi tidak membantu ikut membantu Bapak menanam jagung. Mbak Santi kini berada di rumah membantu Emak memasak makanan yang akan ia bawa ke tempat kami bekerja. Sementara Kang Roy ditugaskan untuk membawa pisang-pisang hasil panen kemarin ke rumah menggunakan bendi yang Bapak punya.


Setiap hari minggu memang Bapak selalu membagikan tugas-tugas kepada anaknya bahkan jika bukan menanam jagung di hari minggu maka Bapak selalu menugaskan aku untuk menanam bibit kol yang juga akan dijual ke pedagang.


Aku sesekali menghentikan langkahku beralih menopang pinggang setelah meletakkan ember ke bawah lalu memukul-mukul pinggang yang telah lelah menopang ember berisi biji-biji jagung ini.


Butuh kekuatan ekstra jika harus melakukan tugas ini. Itulah mengapa aku lebih memilih Jono, si gemuk itu untuk menabur biji jagung. Tubuh gemuknya pasti tidak akan merasakan lelah jika membawa ember berisi jagung itu.


"Apa di sana masih banyak?!!" teriakku membuat Jono ikut berteriak.


Dari sini aku bisa melihat sosok Jono yang rupanya tak istirahat seperti apa yang aku lakukan. Jono memang seperti itu walaupun ia kuat makan tapi ia juga kuat bekerja. Baginya pantang istirahat jika pekerjaan belum selesai. Aku sungguh salut kepadanya.


Tepat pada pukul jam dua belas siang disaat suara adzan berkumandang, kami semua memilih untuk istirahat di bawah pohon mangga yang berbuah lebat.


Ini adalah aturan pekerja dari dulu sampai sekarang jika suara azan berkumandang maka berhentilah bekerja di saat itu juga. Aku mengambil kesempatan untuk membaringkan tubuhku di atas karung putih yang aku gelar. Rasanya tulang-tulang seluruh tubuhku ditarik berlawanan arah. Nikmat sekali rasanya. Rasa lelahku seakan berhambur di atas karung bekas biji-biji jagung dipikul oleh Bapak sampai ke tempat ini.


"Hei! Jangan tidur, Cepat bangun! Ganti baju dan kita pergi sama-sama ke masjid!"

__ADS_1


Suara perintah itu dengan cepat aku turuti sebelum Bapak marah besar. Bapak suka sekali marah jika aku bermalas-malasan untuk sholat.


Karena pernah sekali sebuah kejadian yang tidak mengenakan terjadi. Aku tak akan pernah melupakan sosok Bapak yang mengamuk saat aku tidak sholat subuh.


Saat itu bapak telah membangunkan aku dan memanggil namaku dengan lembut namun, justru kubiarkan karena rasa kantuk yang tak bisa lagi terkendalikan hingga Bapak marah besar lalu ia meraih bambu tipis dan menghantam seluruh tubuhku. Aku bahkan tak diberi ampun saat itu.


Sejak saat itu aku tak mau lagi melalaikan yang namanya sholat. Bapak pernah bilang sholat adalah hal yang paling penting. Untuk apa punya sekolah tinggi jika tidak sholat.


Katanya juga sholat itu adalah kewajiban. Tuhan hanya tidak ingin kita merasa bosan dengan hidup di dunia hanya terus melakukan sholat maka Tuhan memberikan kesibukan kepada kita untuk mengisi waktu untuk menunggu datangnya waktu sholat namun, terkadang orang-orang lebih mengutamakan pekerjaan lain dan melalaikan yang namanya sholatnya.


Kami berjalan bersama melewati area persawahan dan ladang-ladang yang begitu sangat luas. Perbukitan tinggi bahkan terlihat beberapa orang sedang mencangkul di sana. Beberapa orang juga nampak menghentikan kegiatannya lalu kami semua melangkah menuju ke arah masjid dengan berbondong-bondong.


Sendal-sendal berjejer rapi memenuhi area di bawah bagian tangga masjid yang terbuat dari kayu ini. Desa kami memang masih memegang keagamaan yang bisa dikatakan sangat kental.


Semuanya pergi ke masjid walaupun jarak rumah mereka cukup jauh bahkan ada beberapa warga yang nampak menggunakan bendi dan banyak dari mereka yang menumpang hanya untuk bisa melaksanakan sholat secara berjamaah.


Aku mengambil air wudhu dari aliran sungai kecil yang tidak jauh dari pinggiran masjid. Jangan salah, air sungai yang ada di pinggiran masjid begitu sangat bersih bahkan airnya selalu diambil lalu dimasak dan diminum jadi air yang kami pakai ini tidak diragukan lagi kebersihannya sumbernya langsung dari gunung.


Aku sangat suka pada bagian ini dimana kami semua menghadap ke sang pencipta melaksanakan sholat dengan khusyuk, tak ada anak-anak yang seusia dengan kami bermain-main saat sholat. Jika kami kedapatan bermain-main saat melaksanakan sholat maka bukan hanya Bapak yang marah tapi satu desa, itu sebabnya tak ada yang berani bermain saat sholat sedang berlangsung.


Suara anak kecil yang berteriak, menangis ataupun tertawa terdengar berbaur dengan suara lantunan ayat suci yang dibawakan oleh imam masjid.


...🌏🌏🌏...

__ADS_1


__ADS_2