Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-13


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Suara kebisingan terdengar berhasil membuat tidurku terganggu. Aku yang sejak tadi terlelap dalam tidurku dibuat terbangun dan terduduk saat suara kebisingan terdengar.


Aku bangkit dari tempat tidurku lalu menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan saat aku telah berada di jendela. Aku bisa melihat di bawah sana terlihat banyak orang-orang yang sedang berkerumunan.


Aku tidak mengerti apa yang sedang mereka lakukan di sana hingga aku beralih kecil keluar dari ruangan kamar mendapatkan anggota keluargaku yang tak berada di rumah membuat aku kembali berlari menuruni anakan tangga dengan pelan saat aku bisa melihat segerombolan masyarakat yang sedang berbincang-bincang.


Entah apa yang mereka bahas, aku pun tidak mengerti. Kini aku berlari saat berhasil melihat sosok teman-temanku yang juga terlihat berkumpul seakan mereka juga sedang sibuk mencari informasi.


Mengapa keributan ini bisa terjadi? Baru kali ini aku melihat para masyarakat desa kami berkumpul tanpa melakukan sesuatu seperti kerja baktin atau sibuk berkebun.


Mereka hanya sibuk berbincang-bincang membuat Leha yang sedang sibuk mendengarkan pembicaraan orang-orang menoleh.


"Kenapa? Kenapa banyak sekali orang yang berkumpul? Apa ada acara lagi?"


"Tidak orang-orang semua berkumpul bukan karena ada kegiatan tapi karena katanya besok akan ada tamu dari kota."


"Tamu dari kota? Siapa?"


"Aku juga tidak tahu. Ayo kita ke Jono, Samal dan Mansur! Mereka sepertinya sudah menunggu di sana!" ajaknya lalu berlari pergi membuat aku terdiam sejenak menatap satu persatu orang yang masih berbincang-bincang.


Aku tak mengerti apa yang mereka sedang bahas dan mereka nampak menunjuk ke arah bagian tanah yang ada di depan rumahku bahkan Bapak dan Mamaku juga sedang sibuk-sibuknya di sana. Biasanya mereka hanya akan berkumpul di kebun-kebun tapi kali ini mereka berkumpul di pemukiman warga membuat aku semakin bertanya-tanya tentang apa yang mereka bahas.


Aku berlari mengejar Leha menuju tempat di mana kami selalu bermain bersama-sama. Aku melangkahkan kakiku menaiki bukit rerumputan yang tidak terlalu tinggi. Teman-temanku sudah sedang asyik bermain di sana.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Jono yang sibuk makan buah mangga.


Aku tahu buah mangga itu adalah hasil kebunnya hari ini.


"Aku tidur."


"Iya kau tidur dan kau tidak ikut membantu aku untuk memanen buah mangga."

__ADS_1


"Maaf aku ketiduran capek sekali setelah pulang dari mengantar Kkang Roy."


Aku menundukkan tubuhku pada permukaan rerumputan menatap segerombolan kerbau yang sedang sibuk memakan rumput di padang yang luas. Kerbau-kerbau ini adalah milik si mansur. Selain dia memiliki otak yang cerdas dia juga punya banyak kerbau dan hanya dia yang bertugas untuk mengurus kerbau-kerbaunya.


Aku juga sering membantunya memandikan kerba-kerbaunya itu di sungai dan setelah pulang nanti kami akan diberikan telur itik dari itik-itik milik si Mansur, baik sekali hati si Mansur ini.


"Oh iya aku lihat ada banyak kerumunan di depan rumahku itu, kenapa ya?"


"Aku juga tidak tahu sahut Jono yang hanya sibuk makan."


"Iya kau tidak tahu karena kau hanya sibuk makan. Orang bercerita kau sibuk makan, suaranya terlalu berisik," cerocos Samal membuat Jono melirik sinis.


"Ada orang kata yang datang ke desa ini. Dia ingin membangun rumah."


"Membangun rumah?" tanya aku sedikit terkejut sambil menatap ke arah Mansur.


"Kenapa harus bangun rumah di desa ini bukannya di kota lebih indah. Di sana kan mereka bisa membangun rumah yang jauh lebih besar sedangkan di sini mau buat rumah kayu mereka di sini."


"Tidak, sepertinya bukan rumah kayu, dia akan membuat rumah besar seperti yang ada di kota," jelas Mansur.


"Asal kalian tahu juga teman-teman kalau orang kota itu tidak hanya sekedar datang membangun rumah ini tapi juga akan membeli beberapa tanah yang ada di desa ini."


"Membeli tanah? Siapa yang menjualnya?"


"Tanah milik bapaknya si Marcel," sahut Lena.


"Samal kenapa? Kenapa kau menjualnya?"


"Bukan aku yang menjual tapi bapakku," Samal membela diri.


Aku hanya mengangguk. Kalau urusan orang tua aku tidak berani untuk ikut campur.


"Orang kota itu tidak pikir apa, ya? Kalau membangun rumah di desa itu susah. Kita saja membangun rumah kayu susah apalagi kalau orang kota ini ingin membangun rumah batu di desa, ini batunya harus lewat mana?'

__ADS_1


"Di sini, kan tidak ada jembatan, lagi pula hutan di desa ini melimpah mau lewat mana dia?"


"Aku juga tidak tahu," ujar Jono sementara Mansur hanya terdiam. Ya, sepertinya otak cerdasnya itu sedang berpikir.


"Di sana!"


Tunjuk Jono sambil sesekali menatap Mansur dan juga yang lainnya memastikan aku dan yang lainnya melihat ke arah mana aku menunjuk.


Mansur terdiam menatap orang-orang yang masih berkerumunan di bawah sana sambil menunjuk tanah yang berada di depan rumahku.


"Iya rumah tanah yang ada di hadapan rumah kau itu adalah tanah milik Bapaknya Samal," ujarnya lalu ia terdiam.


"Kau pikir apa, sih?"


"Tidak ada. Aku


tidak pikir apa-apa. Aku hanya tidak sabar kira-kira muka orang kota itu bagaimana, ya?"


"Pasti cantik," ujar Samal.


"Cantik seperti Leha," sahut Leha sambil meletakkan kedua tangannya itu di bawah dagu dan berpose seakan-akan ia adalah wanita paling cantik di dunia ini.


"Ah, lihat saja kalau orang kota itu datang aku yakin dia tidak akan tinggal di tempat ini dengan bagus."


"Heh, kau ini tidak suka dengan orang kota, ya?"


Aku terdiam sejenak. Betul juga apa yang dikata Jono memangnya apa masalahku dengan orang kota? Ah, mungkin saja gara-gara kang Ujang yang membuat aku menunggu di siring jalan cukup lama.


Apakah mungkin aku trauma dengan orang kota tapi bener bukan kawan kalau orang kota itu hanya menyiksa saja. Lihat saja saat aku menunggu cukup lama. Aku menunggu di sirim jalan seperti orang bodoh lalu dia datang dipukul 11.00 siang.


Aku bahkan merasa lemah saat berjalan kaki namun, kang Roy bahkan tidak memberikan aku sedikit makanan yang ia bawa.


Saat melihat kang Ujang dengan penampilannya yang berubah itu membuat aku merasa agak khawatir. Bagaimana nasibnya nanti ang Roy jika ia benar-benar akan tinggal di kota. Apa mungkin penampilannya akan seperti kang Ujang? Semoga saja tidak.

__ADS_1


Apa tinggal di kota juga akan mempengaruhi penampilan seseorang dan apa tinggal di kota juga akan mempengaruhi pola pikir orang tersebut ya semuanya masih menjadi tanda tanya.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2