Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami 17


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Suara kicauan burung-burung terdengar. Ayam berkokok seakan berteriak untuk membangunkan para warga desa. Suara adzan berkumandang begitu merdu, suaranya bahkan terdengar menggema dimana-mana.


Dengan cahaya obor aku bersama dengan Bapak serta Mama dan juga Mbak Santi melangkah di tengah kegelapan menuju masjid yang ada di desa kami.


Udara segar seakan menyengat kulit secara mentah-mentah nyaris membekukan. Ya tentu saja desaku ini yang terkenal sangat dingin entah karena kulitku yang sudah tebal atau memang karena aku sudah terbiasa dengan hawa dingin di desaku ini sehingga aku hanya menggunakan kaos pendek serta sarung yang melilit pinggangku.


Kami tidak pernah merasa takut untuk melangkahkan kaki kami melewati jalanan yang sepi karena ada banyak warga yang berlalu-lalang dan berbondong-bondong menuju ke masjid. Sudah aku katakan jika di desa ini masih berpegang teguh pada nilai keagamaan dan datang ke masjid sudah menjadi kewajiban bagi kami semua.


Dari kejauhan, di sini aku sudah bisa melihat beberapa teman-temanku yang berteger di teras masjid membuat aku menjulurkan obor untuk Mamaku dan kemudian berlari menghampiri teman-temanku yang menyambutku dengan lambaian tangan.


"Kenapa lambat sekali?" protes Jono dilengkapi dengan pecinya yang miring itu.


"Maaf, sudah biasa Mbak Santi lupa simpan talkunya di mana."


"Oh, nasib Mbak Santi sama dengan si Leha. Lihat saja, dia memakai rok dan kerudung yang berbeda!"


"Benarkah?" tanya Leha yang buru-buru menatap ke arah roknya.


"Hah?" kagetnya dengan mulut yang terbuka serta kedua mata yang membulat.


"Kkenapa kau tidak bilang dari tadi?"


"Karena kalau aku bilang kau akan lebih lama lagi nanti kalau azan berkumandang siapa yang akan menjadi imam saat sholat. Masa Jono?" ejek Samal membuat Jono melilit tajam.


"Aku lagi, aku lagi."


Ya seperti biasanya sebelum shalat subuh kami yang terbiasa untuk bersenda gurau bersama dengan teman-teman dan setelahnya kami akan melaksanakan sholat subuh dengan khusyuk secara berjamaah.


Seperti biasa tak ada satupun dari kami yang akan bermain-main di masjid selain karena kita akan disemprot oleh orang-orang tua maka kita juga akan menjadi bahan gosipan warga-warga desa lalu siapa yang akan rugi? Tentu saja kedua orang tua yang akan menjadi momok pembicaraan yang mengatakan jika ia tidak mendidik anaknya dengan baik.


Cahaya matahari dari balik perbukitan itu muncul secara perlahan menyinari pemukiman warga desa kami yang dihiasi dengan embun pagi. Begitu dingin, cahaya matahari bahkan belum mempan untuk menghilangkan rasa dingin itu.


"Heh, itu bukannya orang-orang yang mengaspal jalanan kemarin, kan?" tunjuk Jono membuat aku dan teman-teman yang lain menoleh menatap ke arah telunjuknya.


Dari sini aku bisa melihat sebuah tenda berwarna biru yang dibangun di sirin jalanan dan juga dilengkapi dengan kendaraan-kendaraan besar yang digunakan untuk mengaspal jalanan.


"Oh iya betul juga," tanggap Samal.


"Kenapa dia tidak pergi sholat subuh? Mereka semua hanya berbaring saja di dalam tenda mereka," komentaku.


"Kalian lupa ya? orang-orang kota kan memang seperti itu, mereka tidak mementingkan sholatnya. Lihat saja sekarang sudah jam berapa tapi mereka masih masih ada di dalam tenda," ujar Leha.


Aku melangkahkan kakiku melewati tenda-tenda yang berjejer itu, tidak terlalu banyak hingga akhirnya saat kami melintasi tenda seorang pria melangkah keluar sambil menjulurkan sesuatu yang ia pegang kemudian melambai-lambaikannya ke langit.


Aku sontak menatapnya bingung dan juga teman-temanku.

__ADS_1


"Apa yang dia lakukan?" tanya aku kebingungan.


"Sepertinya dia mencari sesuatu," tebak Samal.


"Itu namanya telepon genggam," sahut Mansur membuat aku menatapnya tidak mengerti.


"Telepon genggam?" tanya kami kompak.


"Iya itu salah satu kecanggihan teknologi yang ada di kota."


"Apa itu?" sahut Jono yang masih tidak mengerti.


"Entahlah tapi aku pernah baca di buku kalau alat itu bisa digunakan untuk menelpon seperti saling berbicara untuk mengirimkan pesan."


"Apa itu berarti aku bisa menelepon kang Roy yang ada di kota?"


"Ya sepertinya."


"Wah, canggih sekali," kagum Samal.


"Itu namanya teknologi," ujarku sok tahu membuat teman-temanku itu hanya bisa mengganggukan kepalanya.


"Kalau begitu ayo!" ajakku lalu melangkah mendekati pria yang menatapku dengan bingung.


Ya sepertinya ia sedikit tidak senang dengan kedatangan kami itu, tetapi itu hanya pendapatku saja dan kebenarannya entahlah.


"Pak sedang apa?" tanya aku membuat pria berkumis tipis itu menatap ke arah kami sejenak lalu kembali menatap ke arah ponselnya yang ia lambaikan ke langit.


"Sepertinya orang kota itu telinganya tuli?" sahut Leha membuat kami semua tertawa kecil.


Pria itu mendengus kesal lalu menopang pinggang menetap kami satu persatu.


"Kalian ini siapa?" tanyanya sedikit tidak senang.


"Kami anak desa dari desa Swatani. Bapak ini siapa?"


"Oh anak desa. Aku Toni, salah satu tim pengaspalan jalanan yang diperintahkan oleh pak Burhan untuk mengaspal jalanan."


"Oh Bapak juga yang telah menebang pohon yang ada di hutan, kan."


"Oh itu teman-temanku"


"Lalu apa yang Bapak lakukan di sini?"


"Oh ini, aku sedang mencari sinyal."


"Sinyal? Apa itu?" tanya kami dengan serentak, benar-benar kami tidak tahu apa artinya.

__ADS_1


"Kalian tidak tahu sinyal itu apa?"


Kami mengangguk dengan kompak.


"Sinyal itu seperti jaringan."


"Jaringan?" tanya kami dengan kompak.


"Jaringan juga kalian tidak tahu?"


Kami kembali mengangguk. Hah, sepertinya aku benar-benar tidak tahu apa yang pria ini katakan.


"Hah, malang sekali lagi nasib kalian. Makanya jangan tinggal di desa maka otak kalian juga akan sepi alias bodoh."


Ujaran pria berkumis itu membuat kami semua saling berpandangan apakah serendah itu anak-anak desa bagi mereka?


Lama pria bernama Toni itu berfikir hingga akhirnya ia kembali bicara, "Jaringan itu seperti sinyal. Sinyal itu seperti jaringan. Entahlah aku juga sudah pusing menjelaskannya."


"Sinyal berbentuk tanda, sedangkan jaringan merupakan arus data yang digunakan. Seperti kalau Bapak menggunakan ponsel, di sana terdapat beberapa garis yang terletak pada bagian sudut kanan atas dan dibagian sampingnya terdapat huruf tambahan seperti G, E, 2G, 3G, H, 4G LTE dan sebagainya."


"Tanpa ada sinyal dan jaringan maka telepon genggam tidak akan bisa berfungsi, seperti paru-paru dengan udara paru-paru tidak akan bisa bernafas tanpa udara," jelas Mansur membuat aku teman-teman dan juga pria berkumis tipis itu melongok. Aku tahu pria bernama Toni ini pasti terkagum dengan sahabatku ini.


"Kami memang tinggal di desa tapi bukan berarti kami bodoh."


"Dari mana kau tahu?" tanya Jono


"Tentu saja dari buku ibu Fatimah, iya, kan?" tanya aku sok tahu.


"Wah rupanya ada juga yang pintar. aku bahkan baru tahu jika sinyal yang jaringan itu berbeda," ujar pria kota itu sambil tertawa sementara kami semua hanya terdiam m


"Ini pentingnya sekolah," ujar Mansur singkat lalu ia melangkah pergi membuat aku dan teman-teman yang lain saling berpandangan sejenak hingga akhirnya kami memutuskan untuk melangkah mengikuti ke arah mana Mansur melangkah pergi.


"Abdul! Kau tidak ingin menelepon kang Roy? Dia kan punya telepon," ujar Jono yang masih berlari di belakangku.


"Oh iya ya," jawabku yang tak habis pikir.


"Tidak bisa, walaupun kang Roy punya ponsel dan pria itu juga punya tetap saja mereka tidak bisa saling menelpon," jelas Mansur yang masih melangkahkan kakinya.


"Loh? Kenapa?" tanya aku kebingungan.


"Iya karena tidak ada sinyal."


"Sinyal itu didapatkan dengan cara apa?"


Mansur menghentikan langkahnya dan berdiri di hadapan kami yang sedang menanti jawaban darinya.


"Di sini desa ini belum ada pembangunan tower. Kalau sudah ada tower maka sudah ada sinyal dan jaringan," jelasnya lalu kembali melangkah membuat aku terdiam sambil menggaruk-garuk kepalaku.

__ADS_1


Ah sepertinya aku juga harus membaca buku memiliki ibu Fatimah itu.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2