
...🌏🌏🌏...
Suara yang cukup keras berasal dari mesin pencampur berhasil membangunkan tidurku yang sudah lelap itu saat aku merehatkan tubuhku setelah bersusah payah berjalan kaki menuju pulang ke rumah. Aku mengusap mataku yang masih mengantuk itu memaksakan diri untuk bangun dan membuka jendela hingga beberapa orang nampak terlihat sibuk mengaspal jalanan.
Aku begitu tidak menyangka jika di depan rumahku ternyata telah dibuat jalan beraspal. aku mengusap-usap kedua mataku lalu mengerjapkannya beberapa kali berusaha memastikan jika ini bukanlah mimpi.
Aku berlari turun dari rumah menuruni anak tangga dan nyaris saja aku dibuat terjatuh di sana. Sudah banyak beberapa warga yang saling berbisik-bisik sambil menunjuk ke jalan yang beraspal dan masih panas itu.
"Sedang apa mereka?" tanya aku pada salah satu orang hingga membuat pria itu menoleh. Rupanya pria itu adalah Bapakku.
"Mereka itu sedang membuat aspal."
"Membuat aspal?"
"Iya."
Aku kini terdiam menatap setiap jenis kegiatan yang mereka lakukan. Sepertinya tim bekerja pengaspalan jalan ini merupakan bagian dari orang-orang yang telah menebang pepohonan di hutan. Rasanya sedikit sedih saat rerumputan dan jalanan bebatuan itu diratakan dengan aspal yang menghitam membentang ke beberapa arah yang telah ditentukan.
Aku juga bisa melihat beberapa ibu-ibu yang nampak berdiri di rumah panggung mereka sambil menggendong anak-anaknya, takut jika anak-anaknya itu berlarian turun ke jalanan dan mengganggu proses pengaspalan jalan.
"Abdul! Abdul!"
Suara teriakan terdengar membuat aku menoleh menatap teman-temanku yang nampak berteriak memanggil."
"Apa?"
"Kemarilah!" teriaknya lalu berlari membuat aku mau tak mau juga ikut ke arahnya, mengejarnya hingga aku kini telah berada di atas bebukitan, tepatnya dimana tempat kami selalu duduk bersama-sama sambil menemani Mansur yang sedang sibuk menggembala kerbau-kerbaunya.
"Aku tidak tahan di bawah sana. Bau aspal itu begitu menyengat," ujar Samal sambil memperlihatkan ekspresi tidak menyenangkan.
"Betul terlalu panas," tambah Jono.
"Siapa yang memberikan bantuan untuk mengaspal jalanan di desa ini?"
"Aku tidak tahu," jawab Jono dengan rongga mulutnya telah penuh dengan makanan.
"Iya kau tidak tahu karena kau hanya sibuk makan saja," ejek Samal membuat Jono mencibirkan bibirnya.
Ya kali ini si Jono sedang asyik dengan buah rambutannya, ini adalah salah satu hasil kebun miliknya kemarin.
__ADS_1
Tak berselang lama suara isangan tangis kecil terdengar. Aku tak heran lagi dan tak perlu mempertanyakan dari siapa pemilik suara tangisan itu. Aku dan yang lainnya dengan kompak menatap ke arah Lena yang kembali menangis sambil mengusap pipinya seperti anak kecil.
"Kenapa kau menangis?" tanya Samal.
"Aku sedih."
"Sedih kenapa?" tanya Samal sambil menggaruk kepalanya dengan wajah yang menunjukkan jika ia telah bosan.
"Aku lihat jalanan di aspal. Sekarang sudah ada perubahan gara-gara orang kota itu. Apa mungkin desa kita ini akan berubah menjadi seperti jalanan yang ada di kota?"
"Apakah mungkin aspal bagian dari teknologi maju perlahan-lahan akan mengubah desa kita menjadi kota?"
"Aku lihat rerumputan yang di jalan itu semua diratakan dengan aspal lalu apa itu berarti tak ada lagi rerumputan yang akan kita injak saat kita berangkat ke sekolah nanti."
Penjelasan Leha itu membuat kami semua terdiam. Sebenarnya salah satu keinginanku adalah desa ini memiliki jalan beraspal agar saat kami menaiki bendi kami tidak terlalu terguncang dan jalanan akan memudahkan kami pergi ke sekolah tetapi sedikit tidak senang saat melihat rerumputan yang diratakan dengan aspal panas.
Mau apa lagi semuanya sudah diatur. Ya itu semua karena kedatangan orang kota itu dan bantuan ini juga bantuan dari kota. Rupanya orang kota yang telah membeli tanah di depan rumahku itu cukup kaya karena ia dengan sengaja mengaspal jalanan ini walaupun orang kota itu belum datang ke desa ini untuk membangun rumahnya tapi kehadirannya seakan sudah tercium.
"Kira-kira aspal itu terbuat dari apa, ya?" tanya Samal yang nampak mengentuk-ngetuk dagunya dengan kedua matanya yang berpikir hingha kedua matanya yang penuh penasaran itu menatap ke arahku dan juga beberapa teman-temanku yang lain.
"Aku juga tidak tahu," jawab Jono.
"Enak saja. Asal kau tau aku tidak asal makan contohnya buah ini. Aku tahu apa yang terkandung dalam buah ini," ujar Jono dengan bangga.
"Benarkah?" tanya Samal tidak percaya.
"Iya, lalu apa yang terkandung dalam buah rambutan?"
"Yang terkandung di dalam buah rambutan adalah rasa manis," jawabnya dengan enteng membuat aku dan yang lainnya menggeleng.
Ada-ada saja si Jono ini.
"Aku penasaran terbuat dari apa, sih aspal itu? Kenapa warnanya bisa warna hitam seperti Itu?" tanyaku sambil terdiam menatap ke arah orang-orang di bawah sana.
"Aspal berasal dari hasil pemurnian minyak bumi."
Suara Mansur terdengar membuat aku dan teman-temanku yang lain sontak menoleh menatap ke arahnya.
"Minyak bumi mentah yang telah disedot dari perut bumi kemudian dimurnikan dengan cara dipanaskan. Hasil pemurnian minyak bumi bermacam-macam dan berbeda-beda kemurniannya, di antaranya gas petrolium, gasolin, dan minyak tanah."
__ADS_1
"Langkah-langkah pengaspalan jalan adalah:
Proses pemetaan. Pemetaan adalah fase awal dari banyak fase konstruksi jalan."
"Setelah itu adalah proses pembersihan,
proses pengupasan, poses pemadatan tanah,
proses pelapisan bawah, roses pondasi atas, proses pencampuran panas dan paving," jelasnya begitu sangat lancar membuat aku dan teman-teman yang lain terdiam.
Hah, Pandai sekali kawanku ini.
"Wah, tahu dari mana kau?" tanya Jono seakan ia tidak menyangka.
"Aku pernah membacanya di buku."
"Di buku? Buku apa?" tanyaku begitu penasaran.
"Buku milik ibu Fatimah. Aku tidak sengaja melihatnya di atas meja lalu aku membacanya dan mengembalikannya setelah aku mempelajarinya."
"Oh," jawab kami serentak dan saling menganggukkan kepala.
"Kira-kira berapa hari ya aspal ini akan kering?"
"Mungkin satu malam saja," jawabku sok tahu.
"Oh iya kapan kang Roy akan pulang ke rumah?"
"Tidak tahu juga. Kang Roy tidak ada kabar."
Teman-temanku itu kembali mengangguk dan disaat itu aku pula dibuat terdiam. Sudah dua hari kepergian kang Roy dan dia tak kunjung pulang ataupun mengirim kabar. Entahlah bagaimana caranya dia mengirim kabar namun, biasanya kami akan mendapatkan kabar dari para anak-anak muda yang telah merantau ke kota dan kembali ke desa lalu dari salah satu dari mereka akan memberikan kabar itupun kalau dia sempat bertemu atau bekerja di tempat yang sama namun, bagaimana dengan nasib kang Roy. Ia bahkan hanya meminta izin untuk jalan-jalan saja tapi kenapa sampai sekarang ini tidak pulang.
Jujur saja kepergian kang Roy itu membuat aku cukup rindu dengannya terlebih lagi saat makan malam, tak enak rasanya jika hanya makan malam berempat saja padahal biasanya kami selalu berlima.
Kepulangan kang Roy pasti akan menjadi hal yang paling aku tunggu-tunggu. Kang Roy cepatlah pulang! Adikmu yang terakhir ini akan merindukanmu dan selalunya akan tetap begitu.
Apakah kota benar-benar indah sehingga engkau tidak kunjung pulang ke rumah?
...🌏🌏🌏...
__ADS_1