Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-21


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Barang-barang telah dikemas. Beberapa tas-tas telah penuh dengan isiannya. Sejak semalam Mbak Santi sedang sibuk-sibuknya menggemaskan barang akhirnya dengan terpaksa pula bapak mengizinkan Mbak Santi untuk pergi ke kota.


Bapak hanya berpesan agar Mbak Santi cepat pulang dan menjaga diri dan nama baik bapak di sana. Mobil warna hitam kini berhenti tepat di hadapan rumahku. Beberapa orang juga ada di dalamnya termasuk sahabat Dari Mbak Santi yang juga akan pergi ke kota hari ini.


Beberapa tas-tas setelah dimasukkan ke dalam bagasi mobil. Aku dan beberapa teman-temanku nampak menyentuh sambil mengelilingi mobil itu menatapnya dengan tatapan yang begitu kagum, ini pertama kalinya bagi kami menyentuh sebuah mobil biasanya kami hanya melihatnya saja yang berlalu di jalan beraspal saat kami menanti mobil dari Paman jago.


"Mbak Santi juga mau pergi ke kota?" tanya Leha membuat aku mengangguk.


"Kang Roy belum pulang dan Mbak Santi juga mau pergi ke kota," ujar Samal berkomentar.


"Nanti kau juga akan pergi ke kota setelah kau besar nanti?" tanya Jono yang sejak tadi sibuk dengan buah mangga yang ada di tangannya.


Jangan heran kawan, Jono memang sering makan seperti ini bahkan aku berpikir jika Jono tak pernah berhenti mengunyah.


"Tidak, aku tidak ingin meninggalkan desa ini. Aku ingin bersama dengan bapak dan Mama di desa ini lagi pula untuk apa pergi ke kota kalau di desa lebih indah."


Setelah aku mengatakannya Bapak mengulus kepalaku. Aku tidak menyangka jika bapak ternyata berada di belakangku dan mendengar apa yang aku katakan.


Aku menoleh menatap Mbak Santi yang menghampiriku. Ia tersenyum lalu menyentuh kepalaku. Apakah ini sebuah kata perpisahan? Hah, kakakku yang sudah besar itu akhirnya pergi ke kota padahal dulu ia mengatakan jika ia tidak ingin ke kota. Mungkin seseorang akan tertarik setelah mendengar ujaran dari orang-orang hingga ia pun juga ia jadi terpengaruh.


Biarlah nanti jika Mbak Santi pulang aku akan menanyakan bagaimana kondisi kota yang sesungguhnya.

__ADS_1


"Mbak Santi pergi dulu, ya jaga rumah, jaga bapak dan Mama, ya!"


"Iya mbak," jawabku seadanya lalu hingga akhirnya waktu yang tidak diinginkan oleh Bapak dan Mama pun terjadi mobil yang ditumpangi oleh Mbak Santi akhirnya bergerak menjauh. Keempat roda bannya itu berputar dengan mulus melewati jalan beraspal yang masih baru.


Aku melambaikan tangan beserta juga teman-temanku menatap Mbak Santi yang melambaikan tangannya yang ia keluarkan di jendela mobil. Jemari tangan itu yang selalu membawakan kami makanan di sawah dan kebun mungkin akan lama lagi aku melihatnya.


Sekarang hanya aku seorang diri yang menjadi anak satu-satunya di rumah, tak ada Kang Roy, tak Ada Mbak Santi dan itu berarti hanya aku yang menjadi harapan Bapak dan Mama untuk membantunya di kebun dan di sawah. Harus mengharapkan siapa lagi? Hanya aku anaknya yang tinggal di rumah sementara yang lainnya sudah menginjakkan kakinya di kota.


Aku bahkan sering berpikir apakah mereka sengaja ke kota agar ia tidak berusaha payah untuk mengurus kebun dan membantu bapak di sawah yang ada di desa ini.


Entah mengapa pikiranku ini terlalu buruk tapi itu juga tidak salah. Bukan, terkadang seseorang pergi karena ia ingin menjauhi sesuatu atau sebuah tuntutan tapi tuntutan apa yang sedang dikejar oleh kedua kakakku itu.


Satu persatu warga desa kami kini melangkah pergi menuju ke rumahnya masing-masing. Sudah menjadi kebiasaan jika ada yang pergi ke kota maka para warga desa akan berbondong-bondong berdatangan memberikan beberapa oleh-oleh untuk dibawa ke kota.


Aku yang hendak melangkahkan kaki menuju Bapak ke kebun bersama Bapak membuat langkahku terhenti saat mobil yang begitu sangat besar melintasi area depan rumahku membuat aku dan beberapa teman-teman sontak terbelalak kaget. Bagaimana bisa ada mobil sebesar itu di desaku?


"Apa itu sana?" tanya Jono yang masih memasang wajah kekagumannya.


"Mereka dari kota, mereka ingin membawa tower di sini," jawab Mansur.


"Apa itu?"


"Alat pemancar."

__ADS_1


"Alat pemancar?" tanya aku dan teman-teman lain serentak membuat Mansur menghela nafas panjang lalu ia kembali bicara.


"Masih ingat dengan ponsel, jaringan dan sinyal?"


"Masih," jawab kami dengan serentak pula.


"Nah, mereka itu akan membangun Tower, alat pemancar agar di sini ada jaringan dan sinyal," jelasnya.


"Wah, bener kah?" Tatapku tidak menyangka.


"Tidak lama lagi desa kita akan menjadi seperti kota," ujar Samal dengan gembira namun, seketika itu pula aku terdiam.


Jika benar desa kami tak lama lagi akan menjadi kota lalu apakah itu berarti hutan-hutan ini yang dipenuhi dengan pepohonan akan ikut ditebang lalu diganti dengan bangunan-bangunan tinggi?


Ah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib buruk yang terjadi. Aku tidak ingin kecanggihan dari teknologi itu menghancurkan desa kami. Cukup sudah pengaspalan jalanan sehingga hutan pepohonannya ditebang cukup banyak yang telah menjadi korban dalam pembangunan jalan beraspal. Memang jika dipikir ini adalah kebahagiaan dan kepentingan kami semua yang tinggal di pelosok desa tapi apakah juga ini mempengaruhi kondisi alam kami.


"Wah kalau memang di sana akan membangun tower dan alat pemancar maka aku juga akan beli ponsel."


Kedua alisku mengering setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Jono lalu berujar, "Untuk apa?"


"Untuk menghubungi kakak-kakak aku di kota. Aku ingin menelpon mereka yang ada di kota dan menanyakan bagaimana kabarnya. Aku sudah sangat rindu," ujarnya hingga akhirnya sebuah pikiran terlintas dipikiran aku.


Apakah itu berarti aku juga bisa menghubungi Kang Roy di kota dan juga Mbak Santi?

__ADS_1


Jika itu benar maka aku sudah tidak sabar menunggu tower dan pemancar sinyal itu selesai dibangun.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2