Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-08


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Malam ini seperti biasanya, jangkrik-jangkrik berbunyi bagaikan sedang mengiringi malam yang dihiasi dengan bintang-bintang. Tidak sama dengan langit yang ada di kota, langit yang ada di desa bintangnya jauh lebih banyak dan lebih bercahaya.


Malam yang sunyi, hanya ada bulan yang menjadi penerang sementara desa ini menjadi begitu gelap, belum ada aliran listrik lampu sehingga desa kami menjadi begitu gelap.


Hanya sebuah obor yang menjadi alat penerang bagi warga desa kami di desa Swatani. Setelah sholat isya di masjid kini adalah tahapnya makan malam ditemani dengan api kecil pada sebuah lilin yang terbuat dari kaleng besi diisi dengan sedikit minyak tanah lalu ujung sumbu yang berada di atas kain itu dibakar menghasilkan cahaya kecil yang mampu menerangi kami sekeluarga untuk makan malam.


Suara kunyahan dan sedikit perbincangan mengenai hasil kebun beberapa minggu ini menjadi sebuah bahan pokok pembahasan di dalam keluarga kami namun, pembahasan itu melenceng saat Kang Roy menyampaikan sesuatu hal membuat adegan makan kami menjadi tidak enak.


Aku hanya bisa terdiam mendatangi orang-orang dewasa ini saling berbicara.


"Untuk apa pergi kota kalau di sini kita bisa bekerja?"


"Tujuan orang ke kota, kan hanya untuk mencari kerja. Kamu ingin kerja apa di kota?"


"Kalau sudah ada pekerjaan kenapa harus mencari pekerjaan sementara di desa kita punya banyak pekerjaan?"


"Iya Roy tahu, pak tapi Roy ingin mencari pekerjaan yang lain mana tahu tenaga Roy dibutuhkan di sana."


"Roy, bukannya Bapak ingin melarang hanya saja tenaga lulusan SMA tidak terlalu diharapkan di sana."


"Di sana yang berkembang pesat dan sangat dibutuhkan adalah sarjana minimal S1 atau D3. Bapak tidak bermasuk untuk merendahkan tapi ya pikir-pikir dulu lah, Nak kalau mau pergi!"


"Maaf, pak itu sudah Roy pikir-pikir bahkan berhari-hari ingin ke kota mencari pekerjaan yang baru."


"Roy kan tidak ingin terus-terusan kerja di kebun memikul pisang. Sekali-sekali juga ingin kerja menjadi anggota perusahaan atau sebagainya," sambungnya.


Aku bisa melihat Bapak yang terlihat memijat pelapisnya seakan begitu pusing setelah mendengarkan pembicaraan.

__ADS_1


"Perusahaan apa Roy? Lulusan SMA tidak bisa kerja di perusahaan."


"Kata siapa, pak? Kata temanku bisa."


"Teman kamu yang mana?"


"Si Ujang. Si Ujang kerja di kota, gajinya juga banyak. Dia dulu hanya lulusan SMP, sekolahku lebih tinggi daripada dia tapi dia punya kerjaan yang bagus."


"Dan katanya dia kerja di kantoran," sambungnya.


"Pernah lihat secara langsung?"


Kang Roy kini terdiam dan sepertinya bapak tahu apa jawabannya.


"Kalau belum lihat secara langsung ya itu berarti belum ada buktinya."


"Besok?"


Kang Roy mengangguk. Aku menoleh menatap Emak dan bapak satu persatu. Mereka terlihat bernafas berat. Aku tahu sepertinya mereka tidak setuju dengan hal itu.


Kali ini makan malam terasa begitu lama berlalu, semuanya dihabiskan untuk bercerita sedangkan telingaku seakan penuh dengan penjelasan dari Kang Roy yang sangat berharap bisa diizinkan ke kota.


Sebenarnya aku juga ingin sekali ke kota namun rasa kemauanku ke kota bukan untuk bekerja melainkan ingin melihat pemandangan di kota aku dibuat penasaran oleh omongan-omongan orang yang mengatakan jika di kota itu lebih indah daripada desa, katanya bangunan-bangunan tinggi hampir menyentuh langit. Setinggi itukah bangunan yang ada di kota?


Namun sayangnya melihat wajah Bapak yang terlihat begitu datar seakan mengurungkan niatku. Rasa penasaran dengan kota itu membuat batinku menciut. Gambaran wajah kesedihan Bapak akan berkali lipat jika aku juga meminta izin untuk jalan-jalan ke kota.


Malam hari, malam berbintang, malam gelap dan malam suara-suara keributan dari alam yang telah memenuhi desa kami yang belum dijamah oleh teknologi serta kemajuan yang dibuat oleh dunia dan katanya dibuat oleh manusia-manusia berotak cerdas.


Aku duduk di dalam kamar sambil membaringkan kepalaku di bibir jendela kamar menatap bulan yang membulat di atas sana. Pepohonan-pepohonan yang nampak menghitam, tak jelas lagi.

__ADS_1


Terlihat cahaya rembulan meneranginya, Lolongan suara anjing, pertengkaran burung-burung dan suara-suara hewan lainnya menjadi pelengkap dalam keheningan malam.


Mungkin bagi sebagian orang mengalami malam yang sunyi adalah malam yang penuh dengan hal-hal menyeramkan namun, bagi kami tak sedikitpun merasakan kengerian pada sebuah kegelapan menjadikan sebuah rasa takut.


Bagi kami pemandangan alam seakan mengalahkan omongan-omongan dan dibuat oleh orang-orang kota pada sebuah film-film horor yang konon katanya menjadikan sebuah desa sunyi dan hutan-hutan lebat menjadi salah satu saran hantu.


Bagiku itu bukanlah sebuah sarang hantu melainkan hasil alam yang melimpah, hewan-hewan bertebaran.


Menurutmu apa yang membuat orang mengangkat sebuah desa dan hutan lebat sebagai sarana hantu? Menjadikan sebuah hutan sebagai sarang hantu agar orang-orang tak berani datang ke hutan dan menghancurkan semuanya karena sesungguhnya orang-orang tidak takut dengan kerusakan alam melainkan dengan sebuah kata hantu yang ada di hutan sehingga jarang orang yang mau datang ke hutan.


Bagiku film hantu yang diangkat dari hutan-hutan lebat seperti ini adalah sebuah ide bagus untuk menjauhkan bencana. Ini hanya sebuah pikiran bagus juga jadi tak banyak dan bahkan nyaris tidak ada orang-orang kota yang datang ke hutan selalu mengganggunya seperti apa yang terjadi di desa di desa seberang.


Aku sudah sering mendengar kedatangan orang-orang kota yang merusak lingkungan. Desa yang ada di seberang sana salah satunya adalah desa Swalaya, desa itu dulunya hampir sama dengan desa kami yang begitu masih asri, bersih dengan limpahan alamnya yang banyak namun, karena kedatangan para manusia-manusia dari kota menghancurkan semuanya hingga sekarang desa Swalaya jatuh miskin karena kedatangan teknologi.


Dan aku berharap teknologi tidak datang dan menghancurkan desa kami. Teknologi terdengar menyeramkan.


Hanya saja seperti apakah teknologi itu? Apakah seperti hantu yang berada di hutan yang diceritakan oleh manusia-manusia yang tinggal di kota dengan otak cerdasnya itu.


Namun, bagi kami mereka tidak ada yang cerdas melainkan rakus. Ingin memakan semuanya lalu jika memakan semuanya maka aku, generasi yang akan mengurusnya nanti harus bagaimana?


Mengurus apa nanti kami?


Kehancuran dunia?


kami tak punya bekal untuk memperbaiki itu, itu terlalu sulit bagi kami. Sukar untuk kami.


Lalu solusi apa yang bisa kami gunakan? Terlalu menyulitkan namun, merusaknya hanya dengan sekali gerakan. Yah, itulah orang-orang kota.


...🌏🌏🌏...

__ADS_1


__ADS_2