Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-31


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


30 Tahun Kemudian...


Suara klakson yang berbunyi begitu sangat nyaring terdengar mengganggu indra pendengaran. Cahaya matahari yang langsung menerobos ke jendela mobil, ditutup pun cahaya matahari mengakibatkan panas yang akan memanggang pemilik kendaraan di dalam kendaraan roda empatnya.


Asap kendaraan bermotor menjadikan nafas sesak di dada. Para pengemis bergantian berjalan meminta-minta dari kendaraan lain ke pengendara lainnya mengharapkan orang memberikan uang kepadanya.


Tahun berlalu begitu sangat cepat kini aku, si pria kecil yang berusia sepuluh tahun kini telah genap usiaku menginjak usia tiga puluh tahun. Setelah kehidupan yang cukup panjang kini akhirnya aku tinggal menetap di kota untuk mengurus pekerjaan di sebuah perusahaan yang aku tempati bekerja.


Aku juga telah menikah dengan seorang wanita yang aku temui dulu di kota saat menjalani proses perkuliahan, namanya adalah Sasa dan akhirnya kami dikaruniai anak laki-laki yang dinamakan Zaldi.


Mobil yang ia kemudikan itu kini menepi di siring jalan tepat dihadapan gerbang sekolah dasar. Zaldi melangkah turun dari mobil setelah berpamitan denganku. Ia mengecup punggung tanganku lalu ia melangkah turun.


Aku tersenyum menatap putraku itu sambil melambaikan tangannya. Seperti inilah kebiasaan pagiku. Aku harus mengantar istri untuk bekerja sementara anaknya ke sekolah. Istriku itu kini bekerja sebagai dokter hewan.


Sementara dulu aku mengambil jurusan di bagian manajemen. Aku bahkan telah memiliki sebuah usaha yang tidak terlalu besar namun, setidaknya aku mendapatkan sedikit keuntungan dalam usahaku ini.


Aku memiliki usaha yaitu penanaman bibit seperti mangga, rambutan, salak dan masih banyak lagi yang aku kembangkan di desa Swatani, tempat dimana aku lahir dan besar. Lalu setiap ada yang memesan maka akan diantarkan dari desa langsung ke rumah pembeli.

__ADS_1


Aku tidak pernah sedikitpun ingin mengembangkan penanaman bibit di kota karena suhu di kota yang begitu sangat panas. Aku pernah mencobanya dan alhasil tanaman-tanaman bibitnya tidak tumbuh seperti apa yang ada di desa.


Aku melangkahkan kakiku menuju ruangannya. Hari ini cukup banyak pekerjaan yang harus aku lalui karena besok adalah hari libur panjang sehubungan dengan hari kemerdekaan Indonesia dimana hari itu akan diliburkan sehingga aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu untuk pulang ke kampung halamanku yang begitu sangat aku rindu.


Setibanya aku langsung membuka komputer dan bergelut dengan pekerjaan yang setiap harinya selalu aku lakoni. Sesekali terdapat karyawan yang melangkah masuk memberikan dokumen-dokumen penting lalu setelahnya ia melangkah keluar lagi, begitu terus tanpa pernah berhenti.


Aku bangkit dari kursi yang aku diduduki sejak tadi. Merentangkan kedua tanganku itu ke atas lalu menggerakkan tubuhku ke kiri dan ke kanan berusaha untuk meluruskan tulang-tulangku yang sejak tadi hanya bisa terduduk di kursi ini.


Rasanya begitu sangat melelahkan ketika harus duduk berjam-jam bahkan kedua mataku ini terasa menjadi perih karena telah lelah menatap layar komputer yang selalu menyala. Cahayanya seakan menembus mata dan terkadang membuat kepala menjadi sakit. Tak heran banyak para karyawan yang terpaksa harus menggunakan kacamata karena matanya yang mengalami rabun, ada yang rabun jauh, dekat dan itu semua disebabkan oleh layar komputer.


Aku melangkahkan kaki menuju ke dinding ruangannya yang terbuat dari kaca tembus sehingga dari sini aku bisa melihat kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang, bangunan-bangunan tinggi, para pejalan kaki dan para pedagang yang melintas sambil mendorong gerobaknya dengan secangkir kopi yang aku pegang.


Apakah ini bagian dari kecanggihan dari teknologi dimana orang yang dekat terasa jauh sedangkan yang jauh terasa begitu dekat?


Orang begitu sangat fokus untuk memainkan ponselnya tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekitarnya. Lihat saja saat ada kecelakaan yang terjadi bukan malah langsung menolongnya melainkan anak-anak tersebut langsung mengarahkan kamera ponselnya untuk merekam kejadian kecelakaan itu.


Begitu miris melihat semuanya, bukan malah membantu mereka bahkan merekam dan menguploadnya di media sosial. Untuk apa? Untuk mendapatkan like dan komen yang banyak.


Lihatlah kawan! Kalian bahkan tak ada bedanya dengan hewan yang tidak memperdulikan orang-orang lain di sekitarnya bahkan ada beberapa hewan yang langsung menolong kawan sejenisnya bukan malah merekamnya.

__ADS_1


Apa yang kalian dapatkan dengan cara itu? Kalian juga tidak akan terkenal dengan cara merekamnya.


Yah, mereka seperti itu bermodalkan like. Entah mengapa orang sangat menyukai dan saat menginginkan like yang banyak dari orang-orang.


Lihat saja seorang gadis yang berjoget-joget di sebuah taman dengan pakaian yang bisa dikatakan begitu sangat mini. Apa itu? Aku bahkan tidak tahu apa nama aplikasi itu. Dia nampak bergoyang-goyang tanpa memiliki rasa urat malu sedikitpun lalu untuk apa? Setelahnya ia akan menguploadnya di akun mereka masing-masing untuk mendapatkan komentar dan setelahnya mereka akan menganggap hal itu sebagai kesuksesan


Mereka menganggap mendapat banyak like berarti semua orang menyukainya. Sebenarnya tidak, jika kau bergoyang-goyang di hadapan kamera dengan pakaian yang begitu sangat pendek mereka tidak sedang memujimu melainkan mereka menertawaimu dengan sebuah like dan juga komentar.


Atau dia ingin menjadi viral? Sepertinya mereka menganggap keviralan itu ada di dunia atau kesuksesan lalu setelah mereka akan mengimpikan jika dapat diundang ke stasiun TV.


Hai kawan, apakah kau bangga diundang ke salah satu stasiun televisi karena kevirlanmu yang tidak memiliki sisi positif. Kau mungkin akan berbangga sebuah keviralan yang hanya mengandalkan goyang-goyang tidak jelas atau masih banyak lagi hal-hal yang membuat orang geleng-geleng kepala di depan kamera tapi kau tidak tahu bagaimana nasibmu yang akan datang.


Kau seharusnya bangga jika kau mencapai sebuah prestasi lalu diundang ke stasiun TV. Coba perlihatkan keberhasilanmu itu kepada orang-orang yang pernah menghina kau. Kau bawa nama kedua orang tua kau itu untuk kau perkenalkan kepada orang-orang.


Namanya keviralan bukan hanya mengandalkan sebuah keeksisan dengan goyang-goyang di depan kamera. Susah untuk dijelaskan karena ini semua sekarang sudah terjadi.


Lalu apa yang sesuai dengan kalimat ini? Iya, teknologi telah menyebabkan kerusakan bagi karakter seseorang.


Dan aku tidak ingin menjadi bagian dari hal yang merusak. Gunakan teknologi dengan sebaik-baiknya, seperti itu bukan?

__ADS_1


...🌏🌏🌏...


__ADS_2