Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-07


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Aku duduk di bawah rindangnya pohon mangga yang berbuah dengan lebat. Aku memutuskan untuk beristirahat kembali membaringkan tubuhku di atas gelaran karung putih tempat dimana aku tadi membaringkan tubuhku di sana sebelum Bapak menyuruh kami semua ke masjid.


Suara hentakan daun mangga terdengar. Aku bisa melihat sosok Jono yang terlihat melempar buah-buah mangga dengan batu-batu kecil yang ada di genggamannya.


Ia nampak mengigit bibir bawahnya saat ia melemparkan beberapa batu ke pohon mangga. Ia menatap buah-buah mangga itu dengan sorat mata tajam seakan ingin memakan semua mangga yang ia lihat.


Saat batu-batu yang ia lemparkan meleset dan tak berhasil mengenai buah-buah mangga yang menjadi incarannya ia mendengus kesal sambil memasang wajah marah seakan ingin mengguncang batang pohon agar bisa meraih buah mangga yang ia lihat.


Sementara Leha nampak menunjuk ke arah buah-buah mangga sambil ikut mendongak menatap ke arah mangga yang sejak tadi telah menjadi sasaran empuk si rakus Jono.


Aku yang telah bosan melihat Jono yang begitu sangat susah payah melempar mangga bahkan tak mengenai buahnya sedikitpun beralih untuk menoleh menatap sosok Samal, si tinggi kurus itu yang nampak melompat hingga beberapa buah berhasil berada di tangannya. ini adalah keahlian Samal.


Ketika aku yang sejak tadi sibuk menatap teman-temanku kini perhatianku tertuju pada sosok Mansur yang terlihat duduk sambil ikut menatap Jono hingga tak berselang lama mungkin karena kesal sendiri dan tidak sabar melihat Jono bergelut dengan batu-batu yang ia lempari. Kini ia bangkit lalu meraih beberapa batu yang berada di genggaman Jono.


"Bukan, bukan seperti itu cara melempar mangga."


"Terus bagaimana?" tanya Jono yang tidak mengerti.


"Jono, kalau kau ingin melempar mangga maka kau harus fokus ke sasaran! Lihat ke arah mana angin berhembus-"


"Tapi bagaimana caranya melihat angin? Angin, kan tidak punya warna," protes Jono membuat aku tertawa kecil.


"Kita memang tidak bisa melihatnya tapi kita bisa merasakannya. Jangan melempar jika angin kencang karena itu akan melesetkan batu yang kau lempar," jelaskan Mansur menggurui.


Aku hanya ikut mendengarnya sementara Jono hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Entah karena paham atau ia hanya pura-pura sok mengerti agar tidak mendapat amukan dari Mansur.


"Kau mau mangga yang mana? Biar aku yang lempar."


Belum sempat Jono menjawab Leha langsung menunjuk. "Yang itu!" tunjuknya dengan semangat ke arah buah mangga yang.


"Itu sepertinya sudah sangat matang."

__ADS_1


"Jono suka mangga matang," tambah Jono sambil memperlihatkan wajahnya seakan ia sedang menikmati sensasi manis dari buah mangga.


"Baik kalau begitu lihat bagaimana caraku melempar mangga!"


Mansur mulai mengambil abah-abah. Kaki kanannya ia letakkan ke depan sedangkan kaki kirinya berada sedikit di belakang, sedikit agak berjauhan. Sorot matanya terlihat tajam sambil melempar tangkap batu yang ada pada genggaman tangannya.


Ia memejamkan matanya sejenak seakan sedang merasakan sensasi angin yang berhembus. Kedua mata Mansur terbuka lalu ia melempar batu ke arah pohon membuat aku bangkit untuk melihat ke arah mana batu yang dilempar oleh Mansur itu mendarat.


Bruak!!!


Pletak!!!


Suara mangga yang jatuh ke tanah terdengar membuat Jono dan Leha melompat-lompat bahagia sementara aku dibuat melongo. Aku tidak menyangka jika aku punya teman yang begitu sangat hebat. Rupanya selama ini aku punya teman yang hebat seperti Mansur. Sudah cerdas, pandai melempar mangga pula banyak sekali kelebihannya hingga seringkali aku dibuat geleng-geleng kepala.


"Makanan datang."


Suara ciri khas Emak yang lembut memanggil anak-anaknya terdengar. Aku menoleh menatap Emak yang nampak menenteng beberapa rantang panjang yang terbuat dari besi.


Aku juga bisa melihat sosok Mbak Santi yang nampak menenteng sebuah botol plastik besar berisi air dan sekantong peralatan makan seperti piring-piring plastik begitu juga dengan beberapa gelas.


Kami semua duduk bersila, melingkari rantang-rantang yang terlihat dibuka dan disusun di dalam bagian tengah lingkaran yang telah di alas dengan karung berwarna putih tempat di mana tadi aku membaringkan tubuhku.


Bapak nampak mengibas-ngibaskan topi yang terbuat dari rajutan bambu itu ke arah wajahnya. Ya, semakin hari panas semakin menyengat membuat cucuran keringat membasahi badan.


"Bagaimana sudah selesai tabur biji jagungnya?"


"Belum, Mak masih ada sedikit."


Emak mengangguk lalu ia menoleh menatap teman-temanku satu persatu.


"Kalian juga sudah lapar belum?"


"Belum Tan-"

__ADS_1


"Sudah lapar Tante," potong Jono membuat Samal, Mansur dan Leha saling berpandangan lalu menatap tak senang pada pria bertubuh gendut itu.


Sahabatnya yang satu ini terlalu jujur jika masalah perut. Emak membagikan kami sepiring nasi satu persatu dimulai dari Bapak, aku, Samal, Mansur dan Leha. Oh iya jangan lupa dengan si Jono yang nampaknya telah tak sabaran untuk makan sehingga ia lebih memilih untuk mengambil nasi sendiri daripada harus diambilkan oleh Emakku. Sepertinya jika masalah makanan Jono tidak pernah malu-malu.


"Makanlah, Nak! Makan yang banyak!"


"Iya Tante, iya pasti. Jono akan makan yang banyak," jawab Jono dengan semangat serta makanan yang memenuhi rongga mulutnya.


Di satu sisi piring yang Jono gunakan nampak dipenuhi dengan makanan. Beberapa ikan goreng yang telah ditumis, sayur tumis kangkung bahkan beberapa potong telur sementara aku cukup kasihan kepada Samal sama yang hanya mengambil nasi sedikit dan sepotong telur. Kini aku sudah tahu mengapa tubuh Samal begitu kurus dan tidak pernah gemuk-gemuk seperti Jono selera makan mereka begitu berbeda.


"Kau tidak suka makan sayur Samal?"


Akhirnya Mbak Santi bertanya. Sejujurnya sejak tadi aku ingin bertanya tentang itu tapi aku ragu serta takut jika Samal akan marah kalau aku bertanya tentang hal itu.


"Saya tidak suka makan sayur, Mbak Santi," jawab Samal.


"Kenapa tidak suka?"


"Rasanya-"


"Pantas saja kau kurus itu semua karena kau tidak suka makan sayur," sahut Mansyur membuat aku sedikit terkejut dengan ujaran Mansur.


Mansur ini jarang bicara tapi sekali bicara meluluhlantahkan semuanya.


"Cobalah makan sayur maka kau akan gendut seperti Jono," ujar Mbak Santi.


Jono yang sedang makan itu tersentak kaget sementara kami semua menoleh menatap ke arah Jono yang kini terdiam dengan mulutnya yang terlihat penuh. Gerakan rahangnya terhenti saat dia mendapat tatapan serius dari kami.


"Betul, Jono tidak kurus karena suka makan sayur jadi Jono punya badan yang gendut seperti ini."


Kami semua tertawa saat Jono mengangkat bajunya membuat perutnya yang membuncit dan membulat bagaikan kue donat membuat kami semua tertawa cekikikan.


Hari itu adalah hari yang begitu sangat membahagiakan bagi kami. Suara tawa dan canda seakan berbaur menjadi satu bersama dengan santapan makanan siang penghapus penat serta lelah di sebuah desa pedalaman yang dihimpit oleh perbukitan yang tinggi, rumah-rumah desa yang sederhana, para warga yang masih mematuhi ajaran agama adalah suatu hal yang begitu sangat berharga sulit ditemukan dan sulit diterapkan.

__ADS_1


...🌏🌏🌏...


__ADS_2