Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-22


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Saat aku melangkahkan langkah kakiku bersama dengan teman-teman saat pulang dari sekolah, aku bisa melihat di bagian atas bukit nampak beberapa besi dipasang oleh sekian banyak orang.


Rupanya ternyata orang-orang kota itu hebat juga mereka begitu sangat berani memanjat besi yang cukup tinggi itu.


"Wah, apa itu?" tunjuk Samal yang begitu sangat kagum.


"Itu namanya tower, di sana nanti ada pemancar supaya bisa ada-"


"Sinyal dan jaringan," potong Jono membuat kami tertawa.


"Wah, aku tidak sabar bisa melihat Tower itu jadi tinggi sekali."


"Itu belum cukup hebat, kalian tidak tahu ya kalau di desa kita juga akan mendapat listrik gratis."


"Wah benarkah?" tanyaku yang begitu tak percaya.


"Ternyata orang kota itu sangat berpengaruh baik bagi desa kita."


"Tidak juga," jawabku membuat teman-temanku itu menata aku begitu serius.


"Kenapa tidak bagus? Bukannya bagus, ya kalau ada aliran listrik di desa kita? Kalau ada aliran listrik maka desa kita akan menjadi terang," jelas Samal yang menggerakkan tangannya menggambarkan sosok terang benderang bab matahari.


"Kau tidak kasihan melihat pepohonan yang telah ditebang dan dibuatkan aspal?"


"Jembatan juga dibangun dan sebelum jembatan dibangun maka pepohonan di setiap sisi pasti akan ditebang untuk meletakkan ujung jembatan."


"Kalian lihat juga bagian di bukit sana!" tunjukku membuat Jono, Samal, Leha dan Mansur mendongak.


"Mereka membangun tower di sana. Apakah kalian tidak pernah berpikir kalau sebelum pembangunan tower itu maka sebelumnya pohon-pohon akan ditebang."


"Kalian tahu, kan dalam buku pelajaran yang dimiliki oleh Fatimah kalau misalnya pohon-pohon ditebang maka apa yang akan terjadi?"


Aku kini terdiam menatap teman-temanku satu persatu hingga akhirnya Jono berujar, "Tanah longsor."


"Betul, itu akan terjadi kalau kita membiarkan hutang-hutan di tebang."


"Tapi bukannya mereka hanya menebang sedikit saja?" sahut Samal membuat Jono ikut menganggukkan kepalanya.


"Itu kan bagi kita."


...🌏🌏🌏...


Kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya tiba di depan rumahku aku menatap bingung pada mobil yang berada di depan rumah.


"Siapa lagi yang akan ke kota?"


Kami semua terdiam menatap mobil itu dengan baik-baik. Apa benar ada lagi yang akan ke kota?

__ADS_1


"Bapak kau dan Mama kau mau ke kota?" tanya Samal membuat aku dengan cepat menggelengkan kepala.


"Tidak," jawabku hingga kami mendekati mobil itu dan bahkan saking penasarannya Jono mengintip di jendela yang cukup gelap memperlihatkan wajah Jono saja tanpa memperlihatkan orang yang berada di dalam mobil itu.


Pintu mobil itu terbuka memperlihatkan pria berjas yang melangkah turun dari mobil dan tak berselang lama disusul pula gadis kecil berusia nyaris seperti kami.


Ia melangkah turun dari mobil membuat kami semua melangkah mundur menatap sosok gadis itu dari ujung kaki sampai ujung rambutnya.


"Wah, putihnya," puji Jono saat melihat gadis itu melangkah turun.


Gadis berambut kepang, kulit putih dan bersih, baju yang sangat bermerek dengan penampilan yang luar biasa jauh berbeda dengan sahabat kami. Sontak kami menoleh menatap ke arah Leha yang hanya bisa terdiam dengan wajah yang datar penampilannya juga berbeda.


Apakah seperti ini perbedaan antara anak gadis desa dengan gadis kota, perbedaan yang berbanding terbalik itu."


"Siapa itu?" tanya Jono lagi.


"Sepertinya dia bukan anak dari desa ini," tebak Samal.


"Dia itu dari kota. Bapaknya yang telah membeli tanah di depan rumahnya Abdul. Kalian masih ingat orang kota yang telah membeli tanah di depan rumahnya Abdul?"


Mendengar hal itu membuat kami semua menganggukkan kepala dengan serentak.


"Ya orang kota itu adalah pria berjas itu," jelas Mansur.


"Oh ya?" tanyaku tidak percaya.


"Wah, keren sekali Abdul bisa tinggal di depan rumah perempuan cantik itu," sahut Jono membuat Mansur tidak menjawab pertanyaanku.


"Kamu tunggu di sini, ya!"


"Iya Ayah," ujarnya lalu ia menoleh menatap ke sekeliling mengeluarkan ponsel dari tasnya yang bermerek itu lalu mengarahkan kameranya ke segala arah desa hingga akhirnya kamera itu mengarah ke arah kami membuat Jono yang memang sangat jahil itu dengan cepat merapikan rambutnya serta sisa makanan yang berada di pinggir bibirnya.


"Dia ingin memfoto aku," bisiknya dengan wajah yang begitu sangat antusias.


anak gadis kota itu menurunkan kamera dari wajahnya hingga wajahnya itu terlihat jelas di hadapanku tak ada lagi handphone yang menghalanginya.


Tak berselang lama gadis kota itu melangkah mendekati kami membuat


Jono semakin meningkat tingkahnya, ia buru-buru merapikan rambutnya itu.


"lihat-lihat dia mau ke sini," bisik Jono.


"Hai, kalian anak dari desa ini, ya?" sapa gadis kota itu setelah dia melangkah mendekati kami.


"Iya," jawabku.


"Namaku Jono,".ujar Jono yang langsung saja menjulurkan jemari tangannya yang gendut membuat gadis kota itu ikut menjabat tangan Jono.


"Wah, lembut sekali," bisik Jono nyaris memecahkan gendang telingaku.

__ADS_1


"Tidak usah berbisik!" kesalku sambil mengusap daun telingaku yang terasa panas.


"Kau dari kota, ya?"ntanya Samal yang tak kalah semangatnya.


"Iya saya dari kota. Kalian semua ini adalah anak dari desa Swatani, ya?"


"Iya. Kau sepertinya tuli, ya?" tanya leha membuat aku sontak menoleh.


"Temanku itu kan sudah bilang kalau iya," jawab Leha membuat aku dan teman-temanku itu sontak kembali menoleh menatap ke arah Leha.


Sepertinya Leha tidak suka dengan gadis kota ini sehingga ia menjawab pertanyaan gadis kota itu dengan jawabnya ketus. Yah, mungkin saja Leha tidak suka dengan gadis kota ini karena Jono dan Samal yang memperlihatkan sikap yang terlalu terbuka.


"Saya baru dari kota ke desa ini. Oh iya apa saya bisa bertanya-tanya sedikit tentang kota ini?"


"Sudahlah ayo pergi saja!" ajak Leha lalu menarik teman-temanku itu berniat untuk meninggalkannya namun, rupanya gadis itu malah berlari mengejar kami sambil meneriaki kami namun, aku dan teman-teman tak pernah diizinkan untuk menoleh karena Leha yang selalu melarang hingga akhirnya kami tiba di atas bukit tepat dimana kerbau-kerbau milik Mandra sedang merumput di sana.


"Lihat dia mengikuti kita!" tunjuk Mansur yang membuat kami semua menoleh menatap gadis itu yang nampak bersusah payah menaiki bukit.


"Sepertinya gadis kota sangat lemah. Ia bahkan tidak bisa menaiki bukit ini," komentar Samal.


"Biarkan saja dia," ujar Leha lengkap dengan pandangan sinisnya.


"Sepertinya kau sangat benci dengan anak kota itu," ujarku yang terus terang.


"Tidak, aku tidak benci hanya kesal saja."


"Kau kesal karena apa?"


Leha terdiam.


"Kesal saja."


"Aku sebenarnya juga kesal."


"Karena apa?" Leha balik bertanya.


"Karena kedatangannya hutan ini ditebang-"


"Bukan hutan yang ditebang tapi pohonnya," tegur Mansur.


"Memangnya apa bedanya hutan dan pohon bukannya itu saling berkaitan? Hutan, ya pohon. Pohon, ya hutan," jelasku membuat mereka mau tamu hanya bisa terdiam.


Suara langkah terdengar membuat kami sontak menoleh menatap Leha yang rupanya berlari menghampiri gadis itu yang terlihat merangkak di bukit seakan sudah tak sanggup lagi untuk mendaki.


Leha menjulurkan tangan membuat anak kota itu mendongak. Ia terlihat tersenyum lalu menggenggam jemari tangan Leha membuat Leha menariknya, membantu gadis itu bangkit dari rerumputan.


"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.


"Tidak apa-apa. Saya baik saja. Terima kasih telah membantu saya."

__ADS_1


"Sama-sama."


...🌏🌏🌏...


__ADS_2