
...🌏🌏🌏...
"Oh jadi pembangunan aspal tower dan bantuan listrik itu bukan dari Ayah kau."
"Bukan," jawab gadis kota itu yang menggelengkan kepalanya.
Kini kami semua duduk di atas bangku panjang sambil menatap kerbau-kerbau milik si Mansur yang ada di bawah sana.
"Itu bukan bantuan dari ayah saya tapi itu bantuan dari pemerintah. Ayah saya yang meminta bantuan itu ke pusat pemerintah."
"Oh," ujar kami mengerti dan dengan serentak pula lalu kemudian saling mengangguk.
"Ayah yang menginginkan desa ini terdapat sebuah perubahan jadi itu sebabnya desa ini mendapat bantuan."
"Kenapa harus dibuatkan jalan beraspal?" tanyaku.
"Demi memudahkan."
"Memudahkan?"
"Iya semua yang dibangun itu pasti memiliki manfaat-"
"Dan juga kerugian," potongku.
"Iya tapi manfaatnya lebih tinggi daripada kerugiannya. Misalnya seperti ini, aspal dibangun maka-"
"Pepohonan akan terbang, potongku lagi.
"Tapi keuntungannya adalah kendaraan yang dari kota bisa sampai ke desa, tak perlu melewati jalanan hutan dengan susah payah."
"Juga keselamatan manusia, waktu dan tenaga juga akan terbantu. Berapa hari waktu yang perlu kalian butuhkan untuk bisa sampai ke kota? Satu hari? Dua hari? atau tiga hari?"
Kami hanya bisa terdiam sambil mendengar penjelasannya.
"Sekarang bagaimana orang yang ingin ke kota setelah dibuatkan jalan beraspal? Tidak perlu bersusah payah untuk melewati hutan yang lebat itu bukan?"
"Dan jembatan, jembatan bisa digunakan untuk kendaraan-kendaraan dan juga memudahkan kalian melewati sungai tanpa perlu bersusah payah melewati sungai."
Kini aku menganggukkan kepalaku, betul juga yang diucapkan oleh gadis kota ini. Selama ini ketika kami ingin pergi ke sekolah kami harus berusaha dan bersusapaya untuk menyeberangi sungai bahkan kami harus menunggu air sungai itu surut.
"Lalu mengapa harus ada pembangunan tower di sini?"
"Itu semua untuk memudahkan kita."
"Memudahkan untuk apa?"
"Warga desa bisa berkomunikasi dengan orang yang ada di kota. Saya tahu banyak anak-anak desa yang bekerja di kota dan mereka juga pasti akan sedih jika tidak mendengar kabar dari keluarga yang ada di desa."
"Maka Ayah juga meminta bantuan dari pemerintah untuk pembangunan tower dengan alat pemancar jadi semuanya memudahkan untuk bisa saling menukarkan informasi."
"Dan selanjutnya adalah listrik. Listrik sangat berfungsi dan sangat berguna sekali untuk menerangi rumah-"
"Tapi kami masih punya obor."
"Obor?"
"Iya kau tidak tahu obor itu apa?"
"Tahu, obor itu yang ada apianya yang di gunakan. Ah, aku juga tidak tahu tapi mereka pakai bambu, kan?"
__ADS_1
"Ya seperti itu," jawab Samal.
"Tidak jauh beda penjelasan saya tapi hampir sama. Ya tapi bagi aku seperti itu berbahaya."
"Berbahaya?"
"Iya kecanggihan teknologi itu dibuat untuk memudahkan seseorang. Kalau misalnya penerang digunakan dengan obor lalu bagaimana nasibnya jika tanpa sengaja obor ini terjatuh lalu api itu menyentuh rumah?"
"Aku lihat juga di sini rumah semuanya terbuat dari kayu. Kalau misalnya api jatuh dan terbakar lalu akan terjadi kebakaran dan itu akan merugikan semua warga."
"Itu sebabnya di sini akan diberikan bantuan listrik agar ada lampu semuanya jadi bisa memudahkan."
Kini aku dibuat terdiam setelah mendengar penjelasannya yang juga banyak benarnya. Benar juga yang dikatakan oleh gadis ini. Rupanya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah cukup sangat berguna bagi kami semua.
"Oh iya ngomong-ngomong dari tadi kau bicara terus tapi kami tidak tahu kau itu," ujar Jono.
"Nama kau siapa?" tanya Leha.
"Namaku Zeyna, saya lahir di Jakarta. Umur saya 10 tahun."
"Wah, sama seperti kami. Kami juga 10 tahun," ujar Leha begitu semangat.
"Benarkah?"
"Iya. Kau kelas berapa?"
"Kelas 5."
"Wah, sama kami juga kelas 5."
"Oh iya kalian namanya siapa!"
"Jangan percaya di sini dia yang paling rakus
Lihat saja badannya besar seperti kerbau," ujar Samal lalu tertawa membuat Jono menatap sinis.
"Jangan percaya, Zeyna! Aku memang seperti kerbau tapi lihat badannya seperti ayam, kok, kok, kok, kok," ejeknya sambil menirukan suara kokokan ayam membuat kami semua tertawa.
"Kalau ada angin dia akan terbang, hahaha," tambah Jono.
"Enak saja. Zeyna, jangan percaya! Heh, Jono Jangan suka menghina!" Tunjuk Samal dengan raut wajah yang nampak mengancam.
"Tidak, aku tidak suka menghina tapi aku hanya suka makan," jawabnya lagi membuat Zeyna tertawa.
"Ini namanya Mansur, dia yang paling pintar di sini," ujarku dengan bangga.
"Benarkah?"
"Iya," ujarku lalu menoleh menatap Mansur yamh hanya terdiam sejak tadi.
"Dan aku namanya Leha," ujar Leha yang tersenyum begitu manis.
Ah, aku tidak bermaksud untuk memujinya. Jangan bilang siapa-siapa kalau aku bilang kalau aku memujinya dengan sebutan manis.
"Oh begitu. Kalau kamu nama kamu siapa?" tanyanya kepadaku membuat aku menoleh menatap beberapa teman-teman yang kini menatap serius ke arahaku."
"Namaku Abdul."
"Abdul?" tanyanya membuat aku menganggukan kepala.
__ADS_1
"Nama kalian semua bagus-bagus, ya."
"Iya nama mau yang aneh, hahaha," ujar Jono membuat aku menggelengkan kepala.
"Enak saja itu namanya, nama orang kota, iya kan?" bela Leha.
Ya, jujur saja aku sedikit kebingungan. Aku pikir Leha malah tak suka dengan orang kota ini ternyata semakin lama ia juga bersikap baik dengan Zeyna.
"Apa ada bantuan juga untuk sekolah?"
Pertanyaan itu langsung terlontar membuat aku, Jono, Samal dan Leha serta gadis kota itu sontak langsung menoleh menatap Mansur yang sejak tadi hanya terdiam.
Aku kini terdiam. Betul juga yang dikatakan oleh Mansur. Apakah sekolahku yang mirip dengan kandang kambing itu dapat juga bantuan dari pemerintah?
Selama ini yang aku inginkan adalah sekolah kami sama seperti sekolah-sekolah
yang ada di kota. Punya bangku yang banyak, ruangan kelas yang banyak, bendera yang tidak lagi usang, sekolah yang berlantaikan keramik, bukan lagi tanah. Ada papan tulis yang baru dan guru juga yang banyak, tak hanya mengandalkan ibu Fatimah saja setiap harinya yang bahkan kedatangannya selalu menjadi pertanyaan apakah ia datang hari ini atau tidak.
"Kalau sekolah saya juga tidak tahu."
" Apakah boleh meminta bantuan dari Ayahmu itu untuk memberitahu pemerintah untuk memberikan kami bantuan sekolah gratis dan juga renovasi untuk sekolah?"
"Memangnya sekolah kalian seperti apa?"
Sontak aku dan teman-teman saling berpandangan. Apa perlu kami memperlihatkan sekolah kami itu kepada dia?
Ah, aku bahkan takut jika ia akan pingsan setelah melihat sekolah kami.
"Sekolah kami tidak bagus."
"Benarkah?"
Kami sontak saling menganggukkan kepala.
"Kenapa?"
"Jelek," jawabku.
"Jelek apanya? Saya bisa melihatnya?
"Kalau kau mau."
"Saya mau bahkan saya berencana untuk ikut sekolah juga di sini."
"Hah!!!" teriak kami semua begitu terkejut.
"Jangan!" larang aku dengan cepat membuat sontak teman-temanku itu menoleh menatap ke arahku.
"Kenapa? Apa sekolah kalian jauh?"
"Selain jauh juga hanya saja sekolah kami terlalu buruk."
"Kalau kau tidak melihatnya maka kau tidak akan percaya," tambah Samal.
"Baik kalau begitu kau bisa ikut dengan kami!" ajak Leha.
"Kapan?"
"Besok."
__ADS_1
...🌏🌏🌏...