Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-15


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Setelah kami berpamitan dengan ibu Fatimah kami semua akhirnya memutuskan untuk pulang bersama. Melangkahkan kaki dengan rasa semangat karena hari ini kami pulang dengan ilmu yang bermanfaat tidak lagi pulang dengan tangan hampa dan perasaan kekecewaan.


Seperti biasa kami melewati hutan pepohonan yang begitu indah sambil sesekali bercerita mengenai pelajaran yang telah kalian pelajari tari di sekolah namun, langkah kami perlahan memelan dengan tetapan kebingungan menatap beberapa orang-orang yang nampak menebang beberapa pepohonan bahkan sudah banyak pepohonan yang ia tebang menghasilkan batang pohon yang berserakan.


Aku tidak mengerti mengapa pria-pria dewasa ini menebang pepohonan milik hutan desa kami membuat aku menoleh menatap teman-temanku satu persatu yang juga sama kebingungannya.


"Pak! Kenapa pohon ini ditebang? Ini kan hutan desa Swatani," tanyaku saat aku menemui pria yang sedang sibuk bersantai sambil menikmati secangkir kopi yang ia bawa.


"Kau ini darimana?' tanyanya seakan tidak senang ditanya oleh kami.


"Kami anak-anak desa nih pak dan ini adalah hutan kami. Bapak ini siapa dan dari mana lalu kenapa bapak menebang pohon di hutan ini?" tanya aku yang sedikit agak lancang karena berani bertanya seperti ini kepada mereka.


Ya aku yang tidak senang saja mereka menebang hutan ini.


"Hai, nak! Jangan ganggu para penebang pohon itu!"


Suara teguran itu membuat aku dan teman-teman menoleh menatap ke arah pria yang sedang melangkah mendekati kami. Perawakan yang terlihat tegas, kumis yang tebal beserta helm kuning yang melengkapi kepalanya.


"Kau cari siapa?"


"Kami lewat di sini pak. Kami dari pulang sekolah. Kami anak-anak desa Swatani," jawab Mansur dengan logat papuanya membuat aku sedikit percaya diri untuk berbicara dengan mereka semua.


"Desa hutan sepanjang jalan ini telah dibeli," ujarnya menunjuk dengan jari telunjuknya membuat kami dengan sontak mengikuti ke arah mana jari telunjuk pria itu mengarah.


"Dibeli?"


"Iya, orang kota yang telah membelinya dan niatnya kami akan membangun jalanan beraspal di sini."


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Untuk kebaikan semuanya. Orang kota itu telah membeli tanah ini untuk dibuatkan aspal jadi orang-orang desa dan orang-orang kota bisa leluasa keluar masuk dari desa ke kota tanpa perlu lagi bersusah payah melewati hutan yang lebat."


"Tapi kenapa harus ditebang?"


"Tentu saja harus ditebang lalu di mana kita harus membangun aspal? Apakah di atas langit?" ujarnya membuat para pekerja itu tertawa sementara kami memandangnya dengan tatapan tidak senang, ini tidak lucu kawan.


"Tapi bukankah menebang pohon sembarangan itu tidak ada bagus?"


"Ini bukan menebang pohon sembarangan seperti apa yang kau katakan, ini resmi bahkan yang punya tanah ini yang mengisikan kami dengan memerintahkan kami untuk menebangnya."


"Di tanah ini bukan lagi milik desa melainkan milik orang kota yang telah membeli tanah ini."


"Siapa yang menjualnya?" tanya Mansur dengan ketus membuat Samal, si kurus yang juga penakut itu dengan cepat menarik Mansur.


"Cepat! Aku takut kalau mereka berkelahi! Mereka itu orang dewasa dan kita hanya anak kecil. Kita tidak bisa berkelahi dengan dia. Ayo pulang!" bisik Samal lalu ia menarik Mansur sementara Jono juga sibuk menarikku.


Aku hanya tak ingin saja melihat hutan yang selalu kami lewati dan kami kagumi dengan keindahan alamnya itu ditebang begitu saja.


Sepanjang perjalanan aku bisa melihat alat-alat teknologi yang digunakan untuk menebang pepohonan hanya sekali gesekan saja dan hal itu berhasil menumbangkan pepohonan membuat kera-kera tak berdosa yang berada di pohon itu melompat kiri dan kanan sambil berteriak ketakutan.


Sebenarnya aku juga senang karena di desa ini tak lama lagi akan dibangun jalan beraspal jadi aku dan juga teman-teman tidak akan susah payah untuk berjalan kaki melewati hutan menuju sekolah tetapi aku juga tidak rela jika hutan-hutan kami ditebang begitu saja.


Bagaimana luasnya jalan beraspal yang mereka buat itu sehingga begitu banyak pepohonan hutan yang mereka tebang. Dulu ada banyak pepohonan di sekeliling kami yang tumbuh tinggi namun, satu persatu tumbang begitu saja hingga cahaya matahari menyebar membuat tanah menjadi panas, habis semua rata tersisa.


Tiba saatnya saat kami ingin melewati sungai tempat biasa kami selalu menyebrang kini kami bisa melihat beberapa orang yang sedang sibuk menunjuk-nunjuk ke arah sungai membuat aku dan teman-teman juga saling berpandangan.


Ya tentu saja pikiranku dan juga teman-temanku itu sama yaitu, apa yang mereka lakukan di sini? Entah mengapa Mansur mendapat begitu keberanian yang sangat banyak dan memilih melangkah menghampiri pria yang sedang menggunakan helm berwarna kuning itu.


"Pak apa yang bapak lakukan di tempat ini?" tanyanya dengan sangat berani membuat aku dan beberapa teman yang lain hanya bisa saling bertetapan.


"Kamu siapa?"

__ADS_1


"Aku Mansur, anak-anak dari desa Swatani." Apa yang Bapak lakukan di sini?"


"Kami di sini hanya ingin melaksanakan perintah."


"Perintah apa itu pak?"


"Kami disuruh untuk membangun jembatan yang menghubungkan dari desa ke hutan."


"Tapi apa perlu menebang pohon juga?"


"Ya tentu saja. Mau dimana jembatan itu kalau setiap sisi dari hutan ke desa tidak ditebang pohonnya."


"Tapi bapak merusak lingkungan kami. Hutan kami juga jadi rusak karena Bapak yang menebang hutan kami."


"Nak, kami datang di sini hanya untuk menjalankan perintah," jawabnya lalu kembali menatap ke arah sungai begitu terlihat sangat sibuk.


"Tapi bukankah itu berarti bapak telah menyiksa hutan kami?" sahutku membuat pria itu menoleh.


"Menyiksa?" tatapannya tidak mengerti.


"Bapak tidak lihat monyet-monyet yang melompat kiri dan kanan karena rumahnya telah ditebang? Pepohonan juga ditumbangkan kalau begitu mau tinggal di mana hewan-hewan hutan kami itu?"


"Benar pak," sahutku lalu kembali berujar, "kalau bapak menebang pepohonan yang ada di hutan maka itu berarti Bapak juga ikut merusak rumah hewan-hewan yang ada di hutan."


"Bagaimana perasaan bapak jika berada di posisi seperti itu?"


"Bukan urusan kami. Kami hanya melaksanakan perintah," ujarnya lalu dengan cepat Jono menarik Mansur tak ingin Mansur berbicara panjang lagi dengan pria itu.


Sebenarnya aku juga takut dia marah dan memukul Mansur. Ah, tak tahu bagaimana jalan ceritanya lagi jika manusia bertubuh besar itu memukul kami.


Sepanjang perjalanan itu Mansur marah-marah tidak jelas tanpa ada kata henti. Kami semua paham apa yang dirasakan dan apa yang sedang dipikirkan oleh si Mansur itu.

__ADS_1


Tentu saja ia merasa kesal dengan kedatangan orang-orang dari kota dan langsung saja menebang pepohonan yang ada di desa kami.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2