
...🌏🌏🌏...
Satu persatu dari kami melangkah turun dari angkot milik Paman jago. Cukup lama kami menunggu hingga memakan waktu beberapa belas menit dan saat itu juga gadis kota bernama zaina itu nampak kewalahan menunggu.
Aku tahu gadis kota itu pasti tidak pernah menunggu lama seperti ini bahkan sekarang jam telah menunjukkan pukul
sembilan. Sejak tadi gadis yang sedang melangkah di belakangku itu tak pernah berhenti memberitahu kami jika ini sudah sangat terlambat untuk pergi ke sekolah.
"Apakah masih jauh perjalanan?" tanya Zaina.
"Sudah tidak terlalu jauh lagi," ujar Jono yang keringat telah bercucuran membasahi dahinya.
"Kau sepertinya sangat melelahkan hari ini," ujar Leha membuat Zaina hanya tersenyum kecil sambil mengusap keringat yang juga ikut membasahi keningnya.
"Iya ini pertama kalinya saya berjalan sangat jauh seperti ini."
"Wah, kasihan sekali," ujar Leha.
Aku hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya siapa yang bisa dikasihani saat ini. Kami? atau gadis kota bernama Zaina itu.
Hingga akhirnya tempat yang kami sejak tadi kami cita-citakan itu telah nampak dari kejauhan. Kami semua berbondong-bondong untuk duduk di atas sebuah bangku tepatnya di bawah pohon dimana kami semua selalu memasang sepatu-sepatu kami. Ya walaupun hutan telah diubah menjadi jalan beraspal kami tetap saja melepas sepatu kami itu agar tidak cepat rusak karena mendaki perbukitan setelah turun dari angkot paman Jago.
"Itu sekolah kami!!!" teriak Jono lalu berlari membuat Samal yang kurus kerempeng itu ikut mengejar langkah Jono.
"Zaian, ayo ikut aku!" ajak Leha yang kemudian meraih pergelangan tangan Zaina dan membawanya lari.
__ADS_1
Tak mau ketinggalan aku juga ikut berlari sementara Mansur hanya melangkah begitu santai di belakang.
Kami semua terdiam memasang wajah datar saat kami semua menghadapkan Zaina pada sekolah kami itu. Aku bisa melihat jika wajah Zaina begitu sangat tidak percaya dengan kondisi sekolah kami ini.
"Sekolah kalian?" tanyanya membuat kami langsung mengangguk.
"Kenapa? Kau pikir ini kandang kambing, ya?" tebak Jono lalu tertawa kecil sementara kami hanya menatapnya tajam.
Ya seharusnya dia tidak mengatakan hal itu bukan. Seburuk apapun tempat itu, tempat itu tetap menjadi tempat dimana kami semua menuntut pelajaran dan mendapatkan banyak ilmu dari ibu Fatimah.
Sebuah bangunan tidak dilihat dari bentuknya melainkan dari fungsinya. Walaupun tempatnya seburuk itu, tetapi sudah banyak ilmu yang kami dapatkan terlebih lagi dengan Mansur yang sudah sangat pandai, iya banyak tahu ilmu bahkan dari perbedaan monyet dan kera.
"Lalu kenapa kita hanya berdiam saja di sini?" tanya Leha saat kami semua sedang duduk di teras sekolah.
"Sampai kapan kita akan menunggu seperti ini?"
"Sampai ibu Fatimah datang, itu pun kalau ibu Fatimah datang."
"Kalau tidak ada?"
"Kalau tidak ada, ya pulang," jawab Samal dengan santai.
"Berarti pengorbanan kalian hanya sia-sia datang ke sekolah dengan tenaga, waktu dan kalau misalnya tidak datang kalian semua akan pulang ke rumah?"
"Ya betul," jawabku sementara Leha, Jono dan Samal hanya mengangguk dan bagaimana dengan Mansur? Sejak tadi pria berkulit sao matang itu hanya terdiam.
__ADS_1
Dari sini aku bisa melihat raut wajah Zaina yang nampak menatap bingung dan sekaligus heran saat beberapa murid-murid berdatangan.
Ia Zaina mungkin kebingungan melihat penampilan anak-anak murid baru yang berpenampilan tak beraturan. Ada yang memakai seragam sekolah dan ada yang tidak, hanya menggunakan sebuah kaos warna hitam dan berbagai jenis warna lainnya.
Bagi kami tidak masalah tidak menggunakan seragam sekolah yang penting salah satu seragam yang kita gunakan adalah seragam sekolah. Contoh kita menggunakan seragam putih sekolah tidak apa-apa jika menggunakan celana biasa dan begitu juga sebaliknya kalau kita menggunakan baju biasa harus menggunakan seragam celana sekolah.
"Kalau di sekolahku mungkin sudah dikeluarkan dari kelas."
"Apa?" tanyaku.
"Mereka tidak menggunakan seragam sekolah dengan lengkap."
"Benarkah?"
"Iya, ah sepertinya di kota itu terlalu menyeramkan," geliat Jono ngeri sendiri sambil menyentuh ke pipinya.
Cukup lama kami semua menunggu hingga akhirnya Zaina memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya melangkahkan kakinya menatap setiap sisi ruangan kelas.
Ia mendongak langit-langit sekolah kami yang dihiasi dengan gantungan gantungan burung-burung yang terbuat dari kertas lipat. Dinding, kursi yang hanya beberapa itu, papan tulis yang terlihat kotor, lemari tua yang banyak pecahannya kacanya, bagian bawah yang hanya beralaskan dengan tanah tanpa ada sebuah keramik. Ia menatapnya begitu miris.
Ia kemudian melangkahkan kakinya keluar dari ruangan kelas menatap beberapa ekor kambing yang sedang merumput di halaman sekolah kami. Ia kemudian mendongak menatap bendera merah putih yang sudah sangat tua warnanya begitu usang dengan banyak sobekan di sana.
Kami semua tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Zaina setelah melihat semuanya, miris.
...🌏🌏🌏...
__ADS_1