
...🌏🌏🌏...
Kedua mataku menyipit menatap jalanan beraspal yang begitu sangat sunyi. Sejak tadi aku berdiri menanti mobil yang akan menjemput Kang Roy namun, tak ada satupun kendaraan yang tak yang kunjung kami lihat bahkan kendaraan yang sekedar melintas saja tak pernah sedikitpun melintas.
Aku menoleh menatap Kang Roy yang nampak terdiam. Sepertinya ia sudah lelah untuk menunggu kini jam telah menunjukkan pukul sepuluh tetapi mobil yang akan menjemput Kang Roy itu belum juga datang.
Aku yang sejak tadi duduk di atas batu itu kini bangkit meluruskan pinggangku yang benar-benar telah lelah setelah berjam-jam menunggu. Aku menopang pinggang sambil menatap jalanan yang bahkan telah membuat aku bosan duduk menunggu seperti ini.
Menunggu adalah hal yang sangat melelahkan.
"Kang Roy, kenapa lama sekali? Apa mungkin mereka lupa kalau mereka akan menjemput Kang Roy?"
Kang Roy tak menjawab. Ia hanya terdiam sambil sesekali aku bisa mendengar suara helaan nafasnya.
Tak berselang lama kendaraan beroda empat itu terlihat dari kejauhan semakin lama semakin mendekat membuat Kang Roy dengan cepat bangkit dari tempat duduknya seakan begitu sangat senang saat kendaraan beroda empat itu akhirnya tiba.
Aku memanjatkan kata syukur saat melihat kedatangan mobil itu. Akhirnya penantian kami berakhir. Jika boleh rasanya aku ingin memukul orang yang mengendarai mobil itu yang mengatakan jika ia akan datang cepat datang namun, kini jam telah menunjukkan pukul sebelas dan dia baru datang tapi aku sadar Kang Roy hanya menumpang di mobil itu dan seorang penumpang tidak boleh marah.
"Kenapa lama sekali Ujang?" tanya Kang Roy saat pria berambut gondrong itu melangkah turun dari mobil.
"Sorry, sorry. Aku telat maaf ya," ujarnya santai.
Aku hanya bisa tersenyum pasrah setelah mendengar kalimat permintaan maafnya. Ya sepertinya mereka tidak tahu jika aku dan Kang Roy telah menunggu cukup lama di tempat ini.
"Kang Ujang, kami tadi sudah dari tadi menunggu di sini bahkan p4ntatku sudah lelah duduk di atas batu."
__ADS_1
"Ah, tidak apa-apa namanya juga melatih kesabaran. Ya kan?"
"Iya," jawab kang Roy yang terlihat tersenyum paksa.
Ya, sebenarnya aku tahu apa yang juga dirasakan oleh kang Roy sama seperti diriku, pasti sedikit kesal karena kang Ujang yang tidak tepat waktu.
Semenit kemudian beberapa tas-tas milik kang Roy dimasukkan ke dalam bagasi mobil beserta rantai-rantang dan beberapa kantong Yang sejak tadi aku bawa dari rumah.
Lengkap lah sudah semua barang-barang telah berada di dalam mobil dan menyisakan aku yang kini berdiri sendiri menatap kang Roy yang telah berada di dalam mobil.
"Kang Roy sudah mau berangkat?" tanya aku begitu polos padahal aku bisa mendengar suara mesin mobil itu yang telah dinyalakan.
"Iya kalau begitu aku pergi dulu ya. Titip salam sama bapak dan Mama."
Aku mengangguk pelan berniat untuk melangkah mundur namun, kembali aku mendekati mobil dan memegang permukaan jendela yang masih terbuka itu.
"Iya kan, Dul. Di sana aku hanya jalan-jalan saja."
Aku kembali mengangguk lalu kembali bicara, "Inget juga ya pesannya Paman Karim katanya roti dari kota," ujarku mengingatkan kang Roy dan kang Roy hanya mengangguk lalu tak berselang lama aku melangkah mundur saat aku bisa mendengar suara kendaraan mobil yang telah dinyalakan.
Kini mobil itu telah benar-benar pergi meninggalkan aku di siring jalan yang terus menatap kepergian mobil itu yang perlahan menjauh dan hilang dari tikungan yang berada di bukit yang indah bagaikan lukisan.
Seketika hidupku terasa sunyi, tak ada lagi kang Roy yang menemaniku di tepian pinggir jalan ini. Entah mengapa atau mungkin hanya perasaan aku saja kalau aku merasa aneh pada kang Ujang itu. Entah mengapa penampilannya seperti mencurigakan.
Dulu aku ingat kang Ujang penampilannya tidak seperti itu. Rambutnya tertata dengan rapi dan penampilannya juga tidak seperti sekarang yang rambutnya gondrong seperti preman saja. Ya aku mendengar cerita-cerita itu dari orang-orang katanya kalau preman rambutnya panjang persis seperti kang Ujang. Ini bukan kata aku, ini hanya pendapat saja. Kalau salah ya maafkan.
__ADS_1
"Abdul!' tunggu suara teriakan segerombolan anak-anak terdengar membuat aku segera menoleh dan tersenyum menatap kedatangan teman-temanku Jono, Samal, Mansur dan Leha yang berlari menghampiriku.
"Kalian sudah pulang, ya?"
"Sudah."
"Tapi baru jam sebelas, kok sudah pulang biasanya kan jam dua kalian baru pulang."
"Iya seperti biasa ibu Fatimah tidak datang lagi," jawab Jono.
"Kira-kira kenapa, ya ibu Fatimah tidak datang lagi?"
Aku menatap satu persatu teman-temanku yang hanya mengedikkan kedua bahunya seakan memberikan jawaban jika mereka juga tidak tahu alasan mengapa ibu Fatimah tidak mengajar.
"Sepertinya semakin hari ibu Fatimah semakin malas mengajar kita."
"Bukan malas," bantah Mansur membuat aku menoleh menatap ke arah pria hitam itu.
"Lalu kenapa ibu Fatimah tidak datang mengajar?"
"Karena ibu guru Fatimah pasti punya kesibukan lain to. Dia tidak hanya mengurus kita semua tapi dia juga punya keluarga jadi harap mengerti saja. Apalagi jarak dari rumahnya ke sekolah tidak dekat, rumahnya jauh," jelasnya lagi membuat aku hanya bisa mengganggukkan kepalaku.
Terima saja, ini sudah nasibnya jika tinggal di pemukiman desa dan jauh dari teknologi. Hah, andai saja teknologi sudah masuk ke desa kami mungkin desa kami tidak akan jadi seperti ini.
Aku mendongak menutup langit yang membiru di atas sana. Tuhan, tolong datangkan teknologi ke desa kami! Kami butuh perubahan. Tuhan, tolong dengar kami!
__ADS_1
...🌏🌏🌏...