
...🌏🌏🌏...
Suara teriakan kami begitu sangat terdengar cukup kencang saat aku berlari saat Jono mengejarku dengan bola di tangannya berniat untuk melempari tubuhku.
Saat ini kami sedang bermain lempar-lempar. Ini adalah salah satu permainan yang selalu kamu lakukan. Lempar Bola, mau tahu dengan permainannya? Ya permainan cukup mudah yaitu menyusun beberapa pecahan keramik yang kami kumpulkan tadi milik keramik rumah Zaina yang tidak lagi digunakan.
Aku bersama dengan Mansur menjadi satu tim sedangkan Jono bersama dengan Samal. Jono dan Samal berlari mengejarku berusaha untuk mengepung aku.
Aku berlari membelah kerumunan kerbau-kerbau yang sedang merumput membuat Mansur berteriak di bagian bebukitan menegur kami untuk aku tidak mendekati kumpulan kerbau miliknya.
"Lari! Cepat lari! Cepat!" teriak Mansur yang tertawa sambil menyusun keramik yang berjumlah 12 itu.
Jika keramik itu telah selesai disusun menjadi 12 maka itu berarti
tim kami akan mendapat poin dan itu berarti aku dan Mansur menjadi pemenangnya.
"Cepat lari! Cepat! Cepat!" teriak Jono memberikan kode kepada Samal agar menangkap aku dari belakang.
"Mau lari ke mana kamu, hah?" ujarnya lalu tertawa jahat seakan-akan dia adalah seekor singa yang siap menerkam mangsanya.
Aku yang menggeliat ngeri tiba-tiba saja kedua mataku itu melirik menatap ke arah rerumputan di mana ada tumpukan kotoran kerbau di sana.
"Awas ada taik!!!" teriakku lalu tertawa tanpa sengaja kaki Samal menginjakkan kakinya yang tak beralaskan itu kepada kotoran kerbau yang masih sangat basah.
Aku kembali tertawa melihat raut wajahnya yang ingin menangis. Kami semua tertawa bahwkan aku tertawa sambil menyentuh perutku, begitu sangat sakit saat melihat kaki Samal yang telah dipenuhi dengan kotoran kerbau.
Sial sekali nasib Samal itu sudah tidak jadi menangkapku, tidak jadi pemenangnya dan ia juga yang telah menginjat kotoran kerbau. Seketika juga Samal menjadi pincang, tak bisa merapatkan kakinya itu di bagian rerumputan. Ia melompat-lompat membuat kami semua tertawa.
"Aku sudah menginjak kotoran kerbau kamu Mansur," aduh Samal.
"Aku kan sudah bilang jangan bermain di tempat kerbau nanti kamu menginjak kotoran kerbau," jelas Mansur membuat Samal menggerutu dengan kesal sementara aku dan Jono tak henti-hatinya tertawa.
__ADS_1
Aku pikir Samal juga akan menjadi marah dan bahkan sedih setelah kami menertawainya yamg telah menginjak kotoran kerbau. Suara tawa aku dan Jono berhasil membuat ia juga ikut tertawa cekikikan. Mungkin saja jika Leha yang berada di posisi Samal mungkin akan menangis. Ya gadis yang sedang asyik menonton televisi itu tentu saja akan menangis meraung-raung dan membuat permainan akan menjadi kacau.
Kini permainan dilanjutkan, kali ini timku bersama dengan Mansur telah mendapat satu poin.
"Cepat! Cepat lari!"
Suara teriakan Jono terdengar membuat aku meraih bola yang dilempar oleh Mansur ke arahku. Dengan sekuat tenaga aku menangkapnya lalu melempar bola itu menuju sasaran ke arah Jono yang dengan cepat menggerakkan pinggangnya yang nyaris saja dihantam oleh bola yang aku lemparkan itu.
"Yah meleset," kesalku membuat Jono yang tertawa cekikikan bahkan harus membuat air liurnya menetes.
Bola itu menggelinding jauh turun menuruni bukit membuat aku dengan cepat berlari dan menghentikan lariku sambil penompang pinggang menatap bola yang telah berputar-putar cukup jauh di bawah sana.
Tak ingin membuang banyak waktu dan tidak ingin menyia-nyiakan waktu Samal dan Jono segera menyusun keramik-keramik itu sementara Mansur berlari menghampiriku.
"Dimana bolanya?"
"Di sana! Sangat jauh sekali!" tunjukku.
Mendengar hal itu membuat Jono membulatkan matanya.
"Baru saja aku hampir menang. Woi, Samal ayo cepat cari! Bolanya hilang!"
"Hah? Yang benar saja."
"Iya, cepat ayo!" ajaknya lalu ia berlari disusul oleh Samal yang ikut berlari menyusul kepergian aku dan Mansur yang lebih dulu berlari.
"Tadi bolanya menggelinding dimana?"
"Di sana!" Tunjukku yang masih berlari.
"Tunggu! Tunggu! Awas!!!" teriak Samal yang berlari menuruni bebukitan begitu cukup kencang bagaikan sebuah bola yang jatuh melaju dengan kencang.
__ADS_1
"Hati-hati!!!" teriak Mansur lalu tubuh Samal terhempas dan menggelinding di bebukitan membuat aku dan Jono tertawa sementara Mansur dengan cepat berlari menghampiri Samal.
"Kasihan si kurus kering. Sudah kurus jatuh pula," ujar Jono membuat aku juga ikut tertawa.
"Benar sekali, kasihan sekali si Samal itu. Untung saja tulangnya tidak patah," ujarku menambahkan.
"Memang sial hari ini si samal. Sudah menginjak taik kerbau sekarang jatuh lagi, sebentar apa lagi ya?"
...***...
Aku membaringkan tubuhku dan rerumputan tepatnya di bawah pohon mangga yang selalu kami tempati untuk duduk dan bermain.
Udara segar masih menyelimuti desa kami. Suara kerbau seakan sedang menyanyikan lagu untuk kami mengantar tidur waktu sore. Samal, Jono dan Mansur juga berada disampingku. Mereka merebahkan tubuhnya sambil menjadikan lengan tangannya sebagai bantalan tidur.
"Wah, lihat buah mangganya! Sudah matang. Aku tidak sabar untuk melemparnya nanti." tunjuk Jono.
Ya saat-saat seperti ini hanya ada makanan saja yang ada di pikirannya.
"Nanti sore kalau sudah mau magrib bantu aku untuk mengusir kerbau, ya!" minta Mansur membuat kami mengangguk dengan semangat.
Hal yang paling kami sukai adalah mengusir kerbau-kerbau memiliki si Mansur itu.
"Tapi setelah ini kita dapat telur ayam, kan?" tanyaku seakan menagih.
"Ayamku sudah menetas tapi nanti aku kasih telur itik."
"Telur itik. Ah, aku suka telur itik."
"Wah, kalau si Jono teluk ular pun dia makan," ejek Samal.
"Yang benar saja," kesal Jono yang tidak terima membuat kami sontak kembali tertawa.
__ADS_1
...🌏🌏🌏...