Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-09


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Hari Ini adalah hari senin. Aku memutuskan untuk tidak pergi ke sekolah, bukan berarti aku sedang bermalas-malasan atau tidak serius dalam sekolah, hanya saja hari ini aku berniat untuk pergi mengantarkan Kang Roy ke jalanan besar dan di sana ia akan menunggu mobil yang akan mengantarnya menuju ke kota.


Awalnya Bapak pergi ke kota namun, tak ingin membuat Kang Roy kecewa. Bapak akhirnya mengizinkan dengan berat hati.


Hari ini begitu sangat pagi-pagi sekali setelah pulang dari sholat subuh aku melihat Kang Roy yang memasukkan beberapa pakaian ke dalam tasnya. Tidak terlalu banyak karena Kang Roy hanya untuk berjalan-jalan di sana. Beberapa lembar uang merah telah ia kantongi sebagai bekal saat ini berada di kota.


Sudah sejak pagi awal tadi Mama terlihat sangat sibuk di dapur bergelut dengan makanan yang akan dijadikan bekal oleh Kang Roy selama perjalanan dari desa ke kota nanti.


Jarak antara desa ke kota cukup jauh, memakan waktu sampai 10 jam belum lagi jika jalanan yang dilalui begitu sangat panjang. Banyak hambatan yang perlu mereka lewati yang tak bisa diperkirakan dan dihitung-hitung.


Andai saja kota tidak berjarak sangat jauh mungkin aku akan sering pergi ke kota namun, karena jarak yang ditempuh tidaklah dekat. Sedikit memakan waktu berhari-hari jika rintangan dan halangan terlalu banyak.


Saat aku ingin mandi aku bisa melihat Mama yang terlihat sedang bergelut di dapur. Menyediakan makanan untuk Kang Roy. Nasi hangat, ikan goreng, sambal dan beberapa lauk pauk lainnya menjadi bekal untuk Kang Roy yang telah disiapkan di dalam rantang susun yang terbuat dari besi. Rantang yang sama Mama gunakan saat membawakan kami bekal saat menanam bibit jagung itu.


Aku merapikan rambutku dengan sisir. Rambutku ini masih basah setelah aku mandi tadi. Aku sedikit tertawa kecil saat melihat paras ku di pantul cermin yang agak memburam. Sedikit menertawai diriku karena bukan aku yang ingin ke kota namun, aku pula yang berdandan seakan aku yang akan mendatangi kota itu.


Setelah melihat rambutku yang rapi aku mulai melangkah menurunkan tangga sambil sesekali merapikan rambutku yang kini sudah hampir mirip dengan rambut yang Samal punya.


Kini aku menuruni tangga rumah lalu menoleh kiri kanan menatap ke arah jalan menanti teman-temanku yang tak kunjung datang untuk pergi ke sekolah.


Entah mengapa mereka belum datang juga padahal biasanya jika sekolah maka mereka akan datang cepat. Apalagi ini hari Senin walaupun tak ada kegiatan upacara di sekolah. Belajar saja jarang bagaimana mau upacara penaikan bendera.


Keberangkatan kami harus cepat karena kami semua takut jika Kang Roy akan ketinggalan mobil ataupun mobil yang akan mengantarkan ke kota menunggu lama. Kami tidak ingin melihat orang-orang menunggu dan merepotkan orang lain, ini adalah prinsip dari Bapak dan berusaha untuk ia tanamkan kepada anak-anaknya.

__ADS_1


Aku tersenyum bahagia saat aku bisa melihat teman-temanku yang berdatangan. Keempatnya terlihat berjalan berdampingan.


Mereka terlihat kebingungan, ya mungkin karena melihat sosok ku yang tidak menggunakan seragam sekolah seperti biasanya.


"Kenapa kamu tidak memakai seragam? Kamu tidak sekolah?" tanya Jono.


"Tidak hari ini Kang Roy ingin ke kota. Aku ingin pergi menemaninya."


"Kamu ingin ke kota?"


"Bukan aku hanya Kang Roy. Aku hanya mengantarnya sampai ke jalan besar saja."


Mereka semua mengangguk tanda mengerti sambil sesekali menatap ke arah pintu saat kau Roy mengeluarkan tas dari rumah.


"Kalau nanti Bu Fatimah mengajar tolong beritahu aku pelajaran yang kalian pelajari, nanti aku akan belajar di rumah setelah pulang dari mengantar Kang Roy."


Aku mengangguk tersenyum menatap ke arah teman-temanku yang kini melambaikan tangannya dan pergi. Aku menatapnya hingga teman-temanku itu telah benar-benar menjauh hingga hilang di balik penurunan bukit.


Tak lama perginya teman-temanku itu sebuah bendi dengan kuda yang berlari dengan pelan dan santai membuat aku dengan cepat berlari menaiki anakan tangga menghampiri Mama yang terlihat menenteng rantang bekal untuk bekal untuk Kang Roy selama perjalanan.


"Mama! Mama!"


"Apa Roy? Kenapa kamu teriak-teriak seperti itu ada apa?"


"Itu Paman Karim. Dia sudah datang. Dia naik bendi," ujarku memberitahu dengan wajah histeris, maklumlah namanya juga anak kecil.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Iya, Ma. Abdul tadi lihat sendiri."


"Assalamualaikum!"


Suara salam terdengar membuat aku menoleh lalu berlari menghampiri Paman Karim yang terlihat berdiri di bibir pintu.


"Apakah sudah mau berangkat?"


Paman Karim bertanya, baru saja aku ingin hendak menjawab Kang Roy muncul dari kamarnya dan pertanyaan itu di jawab langsung oleh Kang Roy.


"Iya Paman. Saya sudah siap."


"Mau berangkat sendiri saja?"


"Aku ikut Paman. Aku ingin mengantar Kang Roy ke jalan besar, apakah boleh?"


"Boleh kalau kita banyak yang pergi maka itu lebih bagus jadi kita akan tidak kesepian," jelasnya membuat aku tersenyum bahagia.


Setelah berpamitan dengan Mama akhirnya Kang Roy naik ke atas bendi begitu juga dengan aku sementara Bapak sedang pergi ke kebun sudah sejak tadi pagi.


Entah karena memang ia sibuk dengan kebunnya atau memang ia tak ingin melihat kepergian Kang Roy. Sudah aku katakan jika Bapak tidak benar-benar setuju jika Kang Roy pergi ke kota walaupun hanya sekedar jalan-jalan untuk melihat tempat kerja sahabatnya itu, si Ujang yang dulunya memenggal di desa ini namun, ia memutuskan untuk merantau ke kota dan mencari pekerjaan.


Bendi akhirnya bergerak saat kuda itu menarik bendi yang aku tumpangi. Aku melambaikan tangan ke arah Mama yang juga ikut melambaikan tangannya begitu pula dengan Mbak Santi yang terlihat sedikit kesal saat aku pergi karena hari ini ia akan membantu Mama memetik terong di kebun yang cukup luas itu.

__ADS_1


Yah, tentu saja dia kesal karena ketidak adanya aku maka semua pekerjaan hanya akan dilakukan olehnya sementara aku akan duduk tenang di atas bendi melihat pemandangan selama perjalanan menuju ke jalanan beraspal.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2