Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-14


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Sudah sejam lebih aku dan teman-temanku duduk di teras sekolah menanti ibu Fatimah yang tak kunjung datang. Kali ini aku berharap semoga hari ini tak seperti hari sebelumnya dimana ibu Fatimah tidak datang ke sekolah dan membuat kami semua pulang dengan tangan hampa.


Satu persatu anak-anak sekolah telah datang berdatangan dari berbagai arah lalu masuk ke dalam kelas memilih meja masing-masing. Di sini, di kelas kami tak ada meja atau kursi yang ditempatkan menentu. Setiap harinya aku dan teman-temanku harus datang cepat-cepat agar kursi kami tidak diambil oleh orang lain bahkan jika kami terlambat maka kami hanya akan berdiri dan mendengarkan penjelasan dari ibu Fatimah atau kalaupun tidak kami harus mengangkat batu yang akan kami gunakan untuk duduk di dalam ruangan.


Sangat miris bukan? Ya inilah keadaan kami yang berasa di desa terpencil. Begitu menyedihkan saat aku memikirkan bagaimana kondisi sekolahku itu.


"Yeeee itu sana ibu Fatimah!!!"


Suara teriakan dari anak-anak dari desa lain terdengar membuat aku menoleh menatap ke arah depan di bagian bebukitan aku bisa melihat ibu Fatimah yang nampak menunggangi sepeda motor tuanya. Suara yang nyaris mirip seperti suara mesin perahu itu terdengar.


Aku begitu sangat bahagia, akhirnya hari ini ibu Fatimah datang mengajar dengan menunggangi sepeda motor tuanya dan masuk ke area pekarangan sekolah membuat beberapa ekor kambing itu berlarian pergi.


Akhirnya hari ini kami tidak pulang dengan tangan hampa akhirnya ibu Fatimah datang dan akhirnya pula kami akan belajar. Seperti biasanya dan hari ini akhirnya kami mendapat pelajaran baru.


Kami berlarian masuk ke dalam kelas, duduk dengan rapi dan tak berselang lama ibu Fatimah melangkah masuk dengan keringat yang bercucuran di wajahnya. Kami tahu begitu sangat berat rintangan yang telah dilalui oleh Bu Fatimah untuk bisa sampai ke sekolah ini.


Kami menghargai semuanya dan sebab itulah kami memutuskan untuk giat belajar, tak ingin kami buat ibu Fatimah menjadi kecewa. Kami sayang dengan Fatimah karena ia yang telah memberikan kami ilmu dalam belajar.


Jika bukan ibu Fatimah mungkin aku dan teman-teman yang lainnya tidak akan pernah pandai dalam membaca, menghitung dan sebagainya. Kami juga bahkan tidak akan pernah tahu apa dasar Pancasila dan bagaimana isi undang-undang dasar itu. Kami juga tidak akan tahu apa warna lambang bendera merah putih.


Kami juga bahkan tidak akan tahu siapa-siapa saja nama pahlawan yang fotonya selalu tertempel di dinding ruangan kelas kami. Bagi kami ibu Fatimah adalah orang yang sangat berharga bagi kami semua. Tak bisa kami bayangkan bagaimana perasaan kami jika saja ibu Fatimah benar-benar akan berhenti mengajar kami di sekolah ini.


Ibu Fatimah mengeluarkan beberapa buku paket dari tasnya, tas besar yang selalu dia bawa, sedikit compang-camping mungkin karena tas hitam itu telah lelah melewati perjalanan yang cukup jauh.


Ya itu yang aku pikirkan sekarang ini.

__ADS_1


"Baik anak-anak, assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab kami dengan kompak menatap sosok ibu guru Fatimah berjilbab besar berwarna pink, tubuh yang sedikit gemuk dengan perawakan yang keibuan membuat kami sangat merasa nyaman dengan Fatimah.


"Bagaimana hari ini? Siap belajar?"


"Siap Bu," sahut kami dengan begitu sangat semangat.


"Ibu!"


Salah satu dari murid yang paling belakang mengangkat tangannya membuat aku dan teman-teman yang lainnya menoleh.


"Ibu kenapa kemarin tidak datang?"


"Iya mohon maaf, ya anak-anak semuanya ibu minta maaf karena kemarin itu ibu sakit jadi tidak sempat untuk datang mengajar."


"Ibu ini demam tolong dimaklumi, ya anak-anak semuanya," sambungnya.


Sudah aku duga jika bukan ibu Fatimah yang sakit maka perjalanan yang menghalanginya tapi kini kami semua merasa bahagia dan itu berarti ibu Fatimah sudah sembuh dan siap untuk mengajari kami semua.


Tak berselang lama suara isakan tangis kecil terdengar membuat aku dan Mansur yang duduk di sampingku dengan cepat menoleh menatap Leha yang mengusap kembali pipinya yang basah.


"Kau kenapa?" tanya Jono yang berada di sampingnya.


"Kau menangis, ya?" tanya Samal yang juga berada di samping Leha. Ya mungkin karena tak ada kursi yang kosong jadi mereka akhirnya memutuskan untuk duduk bertiga sementara Leha di ampit oleh Jono yang bertubuh gemuk dan sama yang bertubuh kurus.


"Leha sedih karena ibu Fatimah sakit," ujarnya terisak membuat aku dan Mansur hanya bisa menghela nafas dan kembali menatap ke arah ibu Fatimah yang terlihat tersenyum.

__ADS_1


"Sudah tidak usah menangis sekarang kan ibu Fatimah sudah sembuh dan sudah siap untuk mengajari kalian semua."


"Tuh, dengar!" bisik Jono.


"Diam kamu.


Kamu kan tidak punya hati dan perasaan jadi kamu tidak tahu," sinis Leha.


Kemudian tak berselang lama ibu Fatimah membagikan beberapa buku untuk kami pelajari.


"Baik anak-anak, ini buku satu buku untuk tiga orang ya!"


"Iya Bu," jawab kami dengan kompak.


"Baik sekarang buka halaman 78!" perintahnya membuat kami dengan cepat membuka halaman itu setelahnya ibu Fatimah akan menjelaskan materi yang ada pada halaman tersebut.


Tak ada satupun dari kami yang mencela atau berani berbicara saat ibu Fatimah menjelaskan. Kami mendengarkannya dengan baik, ini namanya menghargai. Bapak pernah mengatakan kepadaku kalau seseorang bicara di hadapan kita maka kita harus mendengarnya tak peduli apakah ujaran orang tersebut bernilai positif ataupun negatif, ini namanya menghargai.


Jika seseorang memberikan nasehat maka jangan pernah membantahnya atau berani mencelanya. Jika orang sedang menjelaskan sebuah materi maka dengarkan dengan baik karena orang tersebut tidak sedang berceramah melainkan memberikan sebuah pelajaran.


Saat sesekali Bu Fatimah bertanya selalu saja Mansur si otak cerdas itu menjawab setiap pertanyaan yang diberikan membuat aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Mengapa otak si Manssur ini sangat cerdas sekali.


Andai saja otakku bisa seperti dia mungkin aku juga akan sibuk bicara dan semua teman-temanku akan menatapku dengan tatapan kagum seperti sekarang.


Lihat saja kawan-kawan! Semua teman-teman sekelasku menatap masuk dengan tetapan kagum. Ya aku juga merasa senang saat semua orang melihat ke arah aku, tentu saja karena Mansur yang ada di sampingku jadi ketika orang-orang melihat menatap ke arah Mansur maka secara tidak langsung mereka juga akan melihat ke arahku dan itu membuat aku merasa jauh lebih bahagia. Aku bangga memiliki sahabat seperti Mansur, si otak cerdas yang begitu sangat aku kagumi.


Setelah pelajaran dimulai kami memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing menyalimi ibu guru dan mengecup punggung tangannya dengan lembut, ini merupakan salah satu tradisi yang patut kami lakukan yaitu mencium punggung tangan ibu guru adalah kewajiban bagi murid-muridnya. Memberikan rasa terima kasih, hormat dan juga sebuah kata izin atau sebuah restu. Ini yang namanya juga sopan santun.

__ADS_1


Kita tidak boleh keluar dari kelas jika tidak berpamitan dengan ibu guru karena kata bapak, ibu guru adalah pengganti orang tua di sekolah. Terima kasih ibu Fatimah kami sayang engkau. Engkau adalah cahaya bagi kami semua. Tampa engkau mungkin kami akan menjadi anak yang buta huruf. Terima kasih sekali lagi.


...🌏🌏🌏...


__ADS_2