Teknologi Merusak Kami

Teknologi Merusak Kami
Teknologi Merusak Kami-32


__ADS_3

...🌏🌏🌏...


Beberapa tas-tas yang telah diisi dengan beberapa pakaian telah dimasukkan ke dalam bagasi. Hari ini aku, istri dan juga putraku akan berangkat dari kota ke desa. Rasanya tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Mama dan Bapak serta teman-teman sepermainan dulu.


Ya entah bagaimana kabarnya semua tetapi begitu banyak perubahan yang telah terjadi selama ini. Mansur kini menjadi juragan kerbau sama seperti dulu hanya saja kerbaunya itu sekarang telah diberikan sebuah kandang yang cukup besar.


Leha lebih memilih untuk menjadi ibu rumah tangga dan ia juga tinggal di kota. Entah bagaimana kabarnya sekarang aku juga tidak pernah mengirimkan pesan kepadanya.


Samal, si kurus kering. Aku hanya pernah melihat beberapa gambarnya, sudah tidak kurus lagi seperti dulu. Ia juga sekarang telah menjadi juragan beras. Sawahnya yang ada begitu banyak dan luas dan membentang begitu banyak lalu bagaimana dengan Jono? Si tukan makan dengan tubuh gemuknya itu sekarang telah menjadi orang sukses yang bekerja di sebuah perusahaan. Tubuhnya juga tidak jauh beda dengan dulu yang memiliki tubuh gemuk.


Aku selalu memikirkan dan mengingat kenangan saat ia memegang sebuah parang lalu membelah hutan dengan gagah beraninya. Hah, hal-hal yang aku rindukan itu tentu akan menjadi kenangan yang begitu sangat indah.


Mobil kini melaju dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi karena keselamatan juga nomor satu. Aku pernah mendengar sebuah kalimat jika pengemudi yang membawa sebuah penumpang maka pengemudi itu yang sedang memegang nyawa penumpangnya.


Mobil melaju melewati deretan bangunan-bangunan tinggi yang menandakan jika kami semua masih berada di bagian perkotaan. Begitu cukup jauh perjalanan yang harus kita tempuh melewati jembatan panjang yang dikelilingi oleh laut yang luas.


Aku sempat tersenyum saat Zaldi yang terlihat menunjuk-nunjuk ke bagian laut begitu kagum dengan keindahan alamnya namun, sayang laut-laut itu dihiasi dengan botol-botol yang banyak itu adalah botol-botol parah pengembang rumput laut yang digunakan agar rumput laut dapat mengambang dan tidak tenggelam.


Sudah cukup lama aku tidak mengajak istri dan putraku ini untuk datang berkunjung ke desa lagipula kesibukan istri dan anakku yang masih sekolah itu serta pekerjaanku juga yang mewajibkan harus berada tetap di kantor memaksakan diri untuk menahan kedua mata ini melihat pemandangan desaku yang selalu aku dambakan.

__ADS_1


Rindu sekali bagaimana keadaan desaku sekarang ini. Apakah masih tetap sama seperti dulu saat terakhir kali aku meninggalkannya atau ada banyak perubahan setelah perubahan kecil yang terjadi?


Cukup lama aku mengendalikan laju mobil hingga akhirnya bangunan-bangunan tinggi kini digantikan oleh pepohonan yang begitu sangat rindang, ini adalah hutan yang selama ini selalu aku lintasi. Pepohonan-pepohonan tinggi di sana tak lagi dihiasi oleh kera-kera yang bergelantungan dan melompat kiri kanan dari pohon ke pohon. Biasanya dulu selalu ada kera-kera yang melompat di sana.


Suara kera-kera juga tidak terdengar lagi hanya ada suara-suara alam dari hewan-hewan kecil yang selalu bersarang di pohon, begitu sangat berisik memperlihatkan suasana hutan yang selama ini selalu teringat.


Bagian persawahan juga telah dilalui. Rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batu dan dicat dengan sedemikian rupa juga sudah terlihat . Dulu rumah-rumah di sini tidak begitu banyak tapi sekarang hampir setiap jalanan dihuni oleh rumah-rumah.


Aku menghentikan laju mobilku memasukkannya di bagian pekarangan rumah yang masih terbuat dari kayu. Aku sengaja tidak menyuruh Bapak dan Mama untuk merenovasi rumah. Aku ingin jika rumah yang selama ini aku lihat selalu seperti yang aku rasakan saat masa kecil dulu.


Keinginanku untuk merasakan masa kecil selalu terbayang dalam benakku. Aku melangkah turun disambut dengan pelukan hangat dari Bapak dan Mama. Rasanya aku menjadi anak satu-satunya di rumah ini. Ya kang Roy dan mbak Santi juga tidak tahu bagaimana keberadaannya sekarang lagi pula Bapak dan Mama juga tidak pernah mencarinya.


Bapak memeluk putraku sementara Mama terlihat bersalaman dengan Sasa yang menyambutan dengan sangat hangat, pelukan serta sebuah kecupan.


Aku melangkahkan kakiku menaiki sebuah bubuk kita bebukitan lalu duduk di atas rerumputan memandangi sebuah pabrik yang telah selesai dibuat bertahun-tahun yang lalu.


Senyumku terbias teringat kenangan dimana kami semua bermain di sana. Teringat pula sama kawanku yang kurus itu terjatuh dan menggelinding di bebukitan serta kakinya yang tidak sengaja menginjak kotoran kerbau.


Ada begitu banyak kenangan yang tersimpan di dalam memori tapi kini penampakan sudah tidak sama lagi. Tempat bermainku itu kini telah digantikan menjadi sebuah pabrik. Suara kebisingan dari pabrik terdengar mengganggu pendengaran. Dulunya hanya suara kicauan burung yang terdengar tapi sekarang suara mesin pabrik menjadi gantinya.

__ADS_1


Aku selalu berharap desaku ini menjadi seperti dulu dimana tidak memiliki sebuah perkembangan teknologi. Andai saja masih seperti itu mungkin pemandangan di sini masih tetap sama tapi ah, apa boleh buat sebuah tempat harus mendapatkan sebuah perubahan.


Sekarang aku tahu apa yang dimaksud oleh si Mansur itu, pria otak cerdas dan berkulit sawo matang jika kerusakan teknologi memang dilakukan oleh beberapa orang saja melainkan penyebabnya dirasakan oleh semua orang.


Seseorang tentu saja tidak dapat dijauhkan dari sebuah kemajuan teknologi. Semua orang harus dituntut untuk merasakan sebuah teknologi dan sebuah kemajuannya sekarang aku masih bisa mengatakan jika teknologi merusakkan semua dari yang tua sampai yang mudah hingga ke generasi yang paling terkecil.


Aku merangkul pundak putraku yang sejak tadi bertanya mengapa aku hanya terdiam lalu ku jelaskan jika tempat dulu ini adalah tempat yang paling indah namun, sekarang disulap oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi kepentingan tersendiri.


Sore ini aku tidak memperistahatkan tubuhku. Kulanjutkan sebuah kegiatanku untuk menemani putraku memberikan pelajaran baginya cara melestarikan alam dengan cara mengajarinya menanam pohon yang baik. Menunjukkan beberapa keindahan alam dan bagaimana cara menjaganya.


Aku juga menunjukkan dan menjelaskan bagaimana banyaknya hewan-hewan yang ada di hutan ini sekaligus juga menceritakan bagaimana kami menyelamatkan seekor anak kera yang ditangkap oleh salah satu pekerja pembuatan aspal yang mengurung kera di dalam sebuah kandang.


Dan aku bangga menceritakan hal itu kepada putraku. Aku menginginkan putraku menjadi pria yang baik yang tidak merusak dirinya dengan sebuah teknologi.


Aku ingin membuka pikiran putraku itu bahwa teknologi dapat merusak namun, dari sebuah kerusakan yang terjadi dapat sebuah keuntungan yang bisa kita miliki.


Ambil sisi positifnya dan buang sisi negatifnya! Teknologi tidak selamanya merusak kita semua hanya saja cara penyalahgunaannya yang terkadang merusak seseorang.


Gunakan teknologi dengan bijak! Jangan menjadi budak dari teknologi karena teknologi yang salah akan merusak generasi aku, kamu, kita dan semuanya.

__ADS_1


.......Tamat......


...🌏🌏🌏...


__ADS_2