
...🌏🌏🌏...
Aku mendongak menatap pria berhelm warna kuning itu yang nampak memasangkan lampu di langit-langit rumahku. Aku bisa melihat Mama yang begitu sangat bahagia saat aliran listrik sudah dapat digunakan.
Aku berlari keluar menatap beberapa orang-orang yang nampak sedang memakan lampu pada sebuah tiang listrik. Ada begitu banyak kabel yang dipasang membentang dari berbagai arah. Kabelnya warna hitam. Ada begitu banyak diletakkan pada sebuah tiang besi yang cukup tinggi. Butuh berhari-hari untuk bisa membangun tiang tinggi itu.
Rasanya aku sangat bahagia, tidak lama lagi desa kamu juga akan menjadi terang benderang seperti apa yang kami semua bayangkan saat memikirkan tentang kota.
Beberapa pria berhelm warna kuning itu melangkah keluar dari rumah, bukan hanya rumahku yang dipasangkan lampu melainkan semua rumah warga-warga desa yang ada di desa Swatani.
Perubahan, yah desa kami mengalami perubahan. Sudah terdapat sinyal dan jaringan di desa kami juga terdapat bantuan aliran listrik hingga akhirnya suara teriakan terdengar dari pria yang menggunakan helm, kawan dari pria berhelm kuning yang telah memasarkan lampu di dalam rumahku.
Dia nampak meletakkan ponsel di telinganya lalu berteriak.
"Apakah sudah siap?!!"
"Ya, sudah siap!!!" teriaknya.
Dia kemudian menoleh menatap kawan-kawannya yang baru saja turun dari rumah warga yang lain.
"Apakah sudah siap?!!"
"Siap!!!" teriaknya.
__ADS_1
Suara teriakan dimana-mana terdengar memberikan instruksi jika lampu telah siap untuk dinyalakan hingga akhirnya.
"Ya nyalakan! Satu! Dua! Tiga!"
Entah bagaimana bisa lampu yang tadi tidak memiliki cahaya kini menyala memancarkan cahaya yang begitu indah. Desaku ini kini bersinar membuat aku berteriak bersorak bahagia begitu juga dengan teman-temanku yang lain yang sama bahagianya.
Aku berlari masuk ke dalam rumah lalu mendongak menatap lampu yang begitu terang saat menyala. Barang-barang di dalam rumahku begitu sangat jelas terlihat.
Mirip seperti matahari, lampu berwarna putih ini menyinari ruangan rumahku kemudian tak berselang lama aku juga ikut berlari masuk ke dalam rumah menatap lampu yang menyala dan menerangi ruangan kamarku. Rasanya begitu sangat bahagia. Aku membuka pintu jendela lalu kemudian aku menatap rumah-rumah tetangga yang juga ikut menyala lampunya.
Rasanya begitu sangat bahagia, tak pernah terbayangkan jika desa ini akhirnya mendapatkan bantuan aliran listrik gratis. Cahaya lampu dimana-mana bahkan saat aku melangkahkan kakiku untuk sholat.subuh kami lagi tidak takut dan tidak perlu menggunakan obor saat melaangkhkan kaki kami ke masjid karena setiap jalanan kami disinari oleh cahaya lampu yang berdiri di pinggir jalan.
Seperti saat menjelang sholat subuh, aku Jono, Samal, Leha dan Mansur berbondong-bondong menuju ke masjid. Sesampainya kami berteriak bahagia saat melihat masjid yang dulunya selalu gelap itu kini disinari dengan lampu-lampu yang cukup besar, bahkan suara adzan yang berkumandang itu begitu sangat besar dan menggelegar suaranya.
Kami pula dibuat kagum saat melihat hasil dari pembangunan tempat air wudhu yang telah selesai. Kami hanya memutar kerang sehingga air mengalir dari kerang itu. Kami tak perlu bersusah payah untuk mengambil air wudhu di parit pinggir sawah yang airnya berasal dari sungai.
"Lihat desa kita sekarang sudah jadi keren," ujar Samal yang begitu bangga dengan desa kami ini.
"Benar sekarang Leha juga sudah tidak takut tidur sendirian," jelas Leha memberitahu kami saat kami melangkah pulang selepas sholat isya.
"Benar, lihat saja lampu yang menyala itu! Begitu sangat indah," sahut Jono.
"Lihat juga rumah-rumah di bukit kita itu yang menyala dan bersinar begitu indah!" tunjuk Leha membuat aku dan teman-teman yang mendongak menatap bagian bebukitan.
__ADS_1
Di sana adalah tempat kami tinggal
"Keren sekali, ya. Untung saja ada bantuan kalau tidak mungkin desa kita akan tertinggal sekali," komentarku.
"Ini namanya kecanggihan dari teknologi," ujar Mansur yang melangkah paling belakang.
"Wah, rupanya teknologi itu berkembang sangat pesat dan memberikan banyak manfaat untuk kita."
"Ada juga yang tidak ada," sahut Masnur lagi.
Kedua alisku saling bertaut tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Mansur.
"Apa maksud kau?"
"Ya selain dari kebaikan dan teknologi berikan ada juga keburukan yang merusak."
"Merusak? Apa yang merusak?"
"Semua teknologi itu tidak selalu memberikan kebaikan melainkan juga ada sedikit keburukan. Tergantung dari orangnya bagaimana caranya orang tersebut menyikapi berkembangnya teknologi."
"Kalau kita menyikapinya baik maka baik pula hasilnya tapi kalau kita menyikapinya dengan buruk maka keburukan pula yang kita dapatkan," jelas Mansur yang kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan kami semua yang kini terdiam.
Kami tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Mansur. Keburukan dari teknologi. Apa yang akan terjadi jika teknologi itu memberikan keburukan bagi kami semua?
__ADS_1
...🌏🌏🌏...