
...🌏🌏🌏...
"Pak! Santi mau ngomong."
Suara Mbak Santi terdengar membuat aku, Bapak dan Mama sontak menoleh menatap ke arah Mbak Santi.
"Ada apa? Mau bicara apa?" tanya Bapak diiringi dengan senyumnya namun, mbak Santi terlihat menarik nafas dalam-dalam seakan begitu sulit untuk mengatakannya.
Aku juga bisa melihat raut wajah kegugupan yang terpancar di wajah mbak Santi seakan begitu sulit untuk mengatakan semuanya kepada Bapak.
"Ada apa? Katakan saja!"
Mbak Santi mengelokkan posisi duduknya lalu ia mulai bicara.
"Sebenarnya Santi ingin mengatakan maaf dulu sebelum mengatakannya."
"Kenapa? Kenapa harus minta maaf toh Santi juga tidak berbuat kesalahan sedikitpun, ya kan Ma."
"Iya," sahut Mama menanggapi.
"Sebenarnya Santi juga ingin ke kota."
"Ke kota?" tanya bapak dengan tatapan tidak menyangka. Ia mengelolakan posisi duduknya mendekatkan jarak ia antara mbak Santi seakan benar-benar ingin mendengar ujaran Mbak Santi dengan sangat jelas.
"Kau bilang apa?"
__ADS_1
"Iya pak seperti yang Santi bilang tadi kalau Santi juga ingin pergi ke kota. Santi mendapat kabar dari teman sekelas kalau dia akan ke kota dan bekerja."
"Kerja apa?"
"Santi ingin bekerja di restoran."
"Restoran? Apa itu restoran?" tanyaku yang ikut menyahut.
"Restoran itu tempat orang datang makan."
"Siapa yang mengajak?"
"Kawan Santi."
"Namanya mekar, dia mengajak Santi ke kota."
"Kapan rencananya?"
"Katanya 2 minggu yang akan datang. Nanti juga Mekar akan ke sini untuk menjemput Santi ke kota."
"Tapi kenapa harus di kota, nak? Di sini, kan kau juga bekerja."
"Tapi setidaknya kan Santi tidak selalu memegang sabit dan cangkul saja. Santi juga ingin berkembang, mengenal kota lagi pula kan di sana juga ada kang Roy."
"Santi! Bukannya bapak melarang Santi untuk pergi ke kota hanya saja kota itu tidaklah sempit, kota itu luas."
__ADS_1
"Lagi pula kau juga tidak tahu dimana kang Roy kau itu berada bahkan sampai sekarang kang Roy kau yang hanya meminta izin untuk jalan-jalan di kota sampai sekarang pun tidak kembali lagi."
"Bapak sama sekali tidak melarang hanya saja pikir-pikir dulu lah! Ada baiknya kita memikirkan semuanya sebelum kita mengambil keputusan karena penyesalan itu selalu ada di belakang bukan di depan."
"Santi tahu pak dan Santi sudah pikir hal itu secara matang-matang dan Santi sudah putuskan kalau Santi ingin pergi ke kota."
"Santi harap Bapak bisa mengerti. Tidak selamanya Santi mau tinggal di desa terus. Santi ingin berkembang."
"Santi harap Bapak bisa mengerti dengan keadaan Santi."
Setelah mengatakan itu mbak Santi bangkit dari duduknya lalu ia melangkah masuk ke dalam kamar meninggalkan aku, Bapak dan juga Mama yang kini hanya bisa terdiam.
Bapak nampak menghela nafas panjang dengan raut wajahnya yang begitu terlihat bimbang. Aku tahu apa yang Bapak rasakan saat ini. Tentu saja di satu sisi ia tidak ingin melihat putrinya itu sedih dan kecewa serta merasa dibeda-bedakan oleh Bapak dan beranggapan jika Bapak hanya menyayangi kang Roy saja.
Namun, tak mungkin juga ia melepas putrinya begitu saja. Ia tau putrinya itu ingin berkembang di kota, tetapi sudah banyak orang yang merasakan kesengsaraan di kota yang terkenal padat itu. Padat dengan manusia, bangunan tinggi dan kendaraan yang terdiri dari berbagai macam bentuk.
Kini kau hanya bisa terdiam, menghabiskan makananku yang tersisa sedikit itu lalu setelahnya aku milih untuk ikut melangkah masuk ke dalam kamar seperti apa yang dilakukan oleh mbak Santi.
Di dalam kamar aku berpikir panjang, entah mengapa saudara-saudara aku itu ingin sekali pergi di kota sedangkan aku lebih merasa nyaman berada di desa ini.
Apakah semenarik itu kota sehingga menarik satu persatu anak muda dari desa kami untuk datang dan mengabdi di tempat mereka. Jika dibiarkan maka habislah anak muda do desa kami ini.
Sepertinya mata mbak Santi itu tertutup dan dibutakan oleh keindahan kecanggihan kota sehingga mengabaikan desa yang menyimpan berbagai macam keindahan alam.
...🌏🌏🌏...
__ADS_1