
...🌏🌏🌏...
Makan malam berjalan begitu seperti biasanya kami akan menyantap makanan malam ini diiringi Bapak menceritakan apa yang terjadi di kebunnya serta berapa hasil panen hari ini.
Diterangi dengan cahaya api kecil dari sumbu api yang berganti fungsi mirip seperti lilin. Aku juga sempat menceritakan kejadian tadi pagi dimana aku melihat telepon genggam serta menyelamatkan kera yang dikurung oleh orang kota di dalam sebuah kandang besi.
"Bagus, nak. Bagus! Yang kau lakukan itu sangat bagus. Kita sesama manusia harus melindungi alam dan jangan sekali-sekali kita menyiksa binatang atau malah mengambilnya."
"Kalau bukan kita yang menyelamatkan dan melindungi alam lalu siapa lagi yang akan melakukannya?"
"Banyak di dunia ini orang yang hanya hidup di alam lalu merusaknya padahal alam yang telah menghidupinya."
"Manusia seakan menutup telinganya dalam-dalam seakan menolak untuk mendengar fakta bahwa alam lah yang menjadi sumber kehidupan kita namun manusia seakan menolak hal itu dan dengan teganya merusak alam."
"Kalau alam ini rusak maka anak dan cucu kita akan mendapatkan apa? Kehancuran alam?"
Aku mengganggukan kepalaku sambil mengunyah makanan yang berada di dalam rongga mulutku sambil mendengarkan penjelasan Bapak yang benar-benar membuat aku begitu kagum.
Aku begitu beruntung bisa dilahirkan oleh orang seperti Bapak yang masih mementingkan alam ini.
"Apakah orang kota memang seperti itu, pak? Mereka seakan tidak memperdulikan alam ini bahkan dengan teganya mengurung kera yang tidak berdosa."
"Lalu Abdul juga tidak mengerti mengapa mereka mengurung kera yang malang itu. Kan kasihan kalau kera itu berteriak-teriak di dalam kandang berusaha untuk keluar."
__ADS_1
Bapak menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Kau mau tahu apa yang menyebabkan orang itu mengurung kera di dalam kandang?"
Aku mengangguk dengan cepat begitu penasaran dengan jawabannya.
"Itu semua karena keserakahan yang lebih mementingkan dirinya sendiri. Kera yang ia kurung itu ingin ia perjual belikan sesampai ia di kota dengan harga yang jauh lebih mahal bahkan jika tidak mereka akan sengaja mengambil kera lalu melatihnya untuk melakukan beberapa atraksi."
"Atraksi?"
"Iya seperti naik motor mini, memakai payung dan masih banyak lagi, itu semua untuk meraup keuntungan."
"Ya semuanya menghalalkan cara untuk mendapatkan uang. Mereka bahkan tidak memikirkan bagaimana nasib hewan-hewan itu jika dipaksa melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak seharusnya ia lakukan."
"Apakah tidak ada cara untuk menghilangkan sikap penyiksa binatan dan merusak alam, pak?"
"Menghilangkan tidak bisa, susah adanya. Kalau memang sudah tertanam dari dulu, sukar dihilangkan."
"Terus masa kita akan membiarkannya begitu saja kalau dibiarkan maka alam ini semakin rusak dan kalau sudah terlanjur rusak susah untuk diperbaiki."
Bapak meraih segelas air, meneguknya beberapa kali lalu meletakkannya kembali dan kembali bercerita.
"Membiarkan orang-orang merusak alam itu berarti mendukung kerusakan alam itu sendiri dan itu tidak baik. Melarang mereka dengan cara berteriak-teriak memberitahukannya hanyalah menyiksa diri sendiri dan tidak ada gunanya."
__ADS_1
"Lalu bagaimana caranya, pak?"
"Jika kau tidak menemukan satu orang yang bisa melindungi lingkungan maka jadilah orang yang bisa melindungi lingkungan."
"Jika kau tidak menemukan satu orang yang bisa memulihkan lingkungan maka jadilah orang yang bisa memulihkan lingkungan."
"Kalau hanya mengharapkan orang lain maka hancurlah alam ini dan sebab itu jadilah orang yang mengembalikan alam ke bentuk semula bukan orang yang merubah."
Aku tersenyum simpul setelah mendengar semua penjelasan Bapak yang benar-benar membuka mata hatiku. Penjelasannya benar-benar membuat aku terkagum. Bangga rasanya dilahirkan oleh kedua orang tua yang masih memperdulikan kesehatan alam.
Iya mengapa aku mengatakan kesehatan alam karena sudah banyak alam yang sakit, disakiti oleh manusia sendiri padahal alam yang ada di dunia ini bertugas untuk menjaga manusia namun, manusia lupa dengan pentingnya menjaga alam sehingga mereka merusak keberadaan alam.
Kesehatan manusia diukur dengan kondisi kesehatan alamnya jika alamnya sakit maka sakit pula manusianya.
Dan jika alamnya sehat maka sehat pula manusianya.
"Jadi itu sebabnya kau dan juga teman-teman kau itu harus menjaga lingkungan alam. Jangan menjadi orang-orang yang merusak alam karena tak ada untungnya merusak alam bahkan merusak diri sendiri," jelasnya lagi.
Setelah Bapak menjelaskan semuanya kini suasana makan kami menjadi sunyi. Ya sepertinya pembahasan pokok telah habis hingga yang suara yang terdengar hanya suara kunyahan yang tidak terlalu keras, ini adab saat makan.
"Pak! Santi mau ngomong," suara Mbak Santi terdengar membuat aku, Bapak dan Mama sontak menoleh menatap ke arah Mbak Santi.
...🌏🌏🌏...
__ADS_1