
Hanya Dia, yang mampu membuat kebingungan.
Dunia bahkan tidak ingin berpihak kepada Citra,
Roy bukan lah pria yang jahat, untuk menyakiti Roy citra tidak memiliki kata - kata untuk menyakiti dia.
Roy punya segudang kata untuk membuah hati para wanita bergetar, bahkan meronta - ronta sangking kegirangan, gombalan maut nya membuat para wanita yang mendengar akan sesak nafas seketika mendengar.
malam ini Roy mulai beraksi lagi dengan kata - katanya.
yang membuat Citra mati kutu dan tak mampu berkata, bahkan akan senyum sendiri, bahkan sampai terlihat di wajahnya yang merah merona, merasa tergoda oleh gombalan yang di buat oleh Roy.
malam ini tepat malam minggu, buat para pemuda yang berpasangan pasti akan melakukan rutinitas jalan - jalan malam bersama pasangan mereka, bahkan pasangan suami istri pun juga ikut serta melakukan malam Romantis mereka.
jauh berbeda dengan Citra dan Roy, mereka hanya berada di kamar masing - masing, karena perbedaan kota yang begitu jauh.
jarak bukan berarti membuat cinta Roy luntur dari citra.
Drreeetttt
Drreeetttt
Drreeetttt
Ponsel milik Citra berbunyi, terlihat di depan layar ponselnya tertulis nama si penelpon, Roy.
" Kamu tuh iya, tiada hari tanpa menganggu saya, hidup kamu itu nggak akan tenang iya. padahal tiap hari loh kita bicara, kamu bahkan nggak kasih saya waktu buat bernafas sedikit pun." kilah citra sambil ngedumel sendiri di dalam kamarnya.
dengan berat hati citra mengangkat panggilan dari Roy.
berusaha mengatur nada suaranya selembut mungkin, menghilangkan kejengkelan saat bicara dengan Roy.
" Hai, Ada apa kamu telpon saya secepat ini?" citra bertanya.
memastikan apakah Roy sedang kurang pekerjaan sehingga harus menganggu Citra secepat ini.
biasanya Roy menghubungi Citra jam sepuluh bahkan mau jam Dua pagi dini hari.
kli ini cukup mengherankan buat Citra
" Hai, iya kebetulan saya lagi kangen sama kamu."
' Mulai deh, alasan kangen. bilang aja gak ada kerjaan, gak usah pakai kangen deh.' kesal sendiri si Citra.
" Oh iya." pura - pura terkejut
namun tidak terkejut sama sekali, bahkan citra jengkel ke Roy.
" Iya sayang, Hari ini aku sangat lelah sekali, Abang kamu itu membuat saya seperti budak hari ini."
Roy mulai mengeluh, atas perbuatan sang calon Abang ipar, menurut Roy, bukan menurut Citra.
" Emang Abang saya nyuruh kamu ngerjain apa sih."
Citra penasaran pekerjaan apa yang di berikan Abang nya ke Roy, sehingga Roy harus mengeluh gini.
" Abang kamu suruh saya buat bantu logistik, yang sedang kekurangan anggota buat ngangkat barang ke mobil box buat ngirim properti pesanan keline."
Citra yang mendengar cerita Roy, menjadi tertawa. merasa geli atas kelakuan Abang nya yang begitu jahil ke Roy.
" Terus apa hubungannya sama saya Roy."
" Saya mau di semangati kamu sayang, biar apa pun pekerjaan saya, biar saya tambah semangat dan tidak banyak mengeluh."
" Baiklah, kamu mau aku semangati seperti apa nih."
" Iya mana saya tahu sayang, mungkin kamu nyemangatin nya lewat kata - kata gitu atau lewat lagu, atau kamu bisa berpuisi gitu. boleh lah sayang."
' Mulai gila iya kamu Roy, sudah berani kamu memerintahkan saya semau kamu, bahkan belum ada yang pernah memerintahkan saya, hnya kamu uang berani memerintahkan saya. awas iya kamu.' citra ngedumel dalam hatinya.
" Baiklah, akan saya coba, tapi jika tidak enak di dengar kamu jangan tertawa iya, bahkan tersenyum pun tidak boleh."
__ADS_1
" Siap Ibu Bos."
" Hidup ini seperti mengendarai sepeda, jika kamu ingin terus berjalan, kamu harus terus bergerak, bahkan di dunia ini terlalu banyak orang baik, jika kamu ingin menjadi seperti itu, jadilah orang baik salah satu di antara mereka.
maka apa pun pekerjaan yang kamu kerjakan tetaplah bersyukur Tuhan telah merancang kebahagiaan mu di masa depanmu nanti."
Citra terdiam sejenak memikirkan kata - kata apa lagi buat di ucapkan untuk Roy.
" Kmu tahu, banyak di luar sana orang yang sedang butuh pekerjaan, bahkan mereka tidak mengeluh sedikit pun, Hidup itu seperti Roda yang sedang berputar Roy, kadang kita di atas terkadang kita di bawa, bahkan sekaya apa pun manusia itu jika tidak bijak, maka akan jatuh juga Roy. jadi kamu tidak boleh mengeluh karena pekerjaan mu hari ini. besok belum tentu seperti itu lagi kan."
bukan memberi semngat buat Roy, yang ada Citra menasehati Roy.
sudah seperti orang tua saja, tanpa memikirkan hati Roy, citra dengan Jujurnya merasa tidak suka dengan ketidak berayukuran Roy atas pekerjaannya.
Yang di berikan nasehat malah tertegun, sedang merasa kagum mendengar setiap kata demi kata yang citra lontarkan.
Roy senyum - senyum sendiri dia bahagia malam ini. dia tidak salah memilih orang.
Roy tidak salah menitipkan cintanya kepada wanita.
bahkan wanita yang sangat dia cintai ini begitu dewasa, baik hati, cantik bahkan jenius.
berbeda dengan perempuan di luarsan yang sama dengan nya sudah terlahir dengan sendok emas. dari keluarga kaya raya.
Citra adalah wanita yang tidak melihat harta jika berteman. bahkan dia seeing mengunjungi panti asuhan, memberi makan pemulung yang bekerja di tepi jalan.
dia bukanlah gadis manja, dia dididik dengan sangat disiplin oleh kedua orang tuanya.
" Apa kamu masih hidup Roy."
Akhirnya Citra memecahkan keheningan yang telah terjadi, beberapa menit yang lalu.
" Maksud kamu saya mati Citra?"
" Bukan Begitu saya kira telpon kamu terputus bukan kamu nya yang mati."
Citra tersenyum senang telah membuat Roy kesal dengan ucapannya.
" Oh, saya kira kamu mendoakan saya untuk mati muda."
" Iya sayang, saya sangat senang kamu menasehati saya, sehingga saya bertambah semangat untuk lebih bersyukur lagi, maafkan saya yang sangat memiliki kekurangan ini."
" Kamu tidak perlu minta maaf ke saya Roy, kamu tidak salah."
" Bukan karena saya salah Citra, saya minta maaf karena saya tidak sedewasa kamu."
" Semua orang butuh belajar, bahkan saya juga butuh belajar lebih lagi. sebap saya juga merasa diri saya itu belum sempurna Roy."
" Iya, kita belajar sama - sama iya sayang."
" Eeemmm"
jawaban yang begitu singkat.
" Sayang,"
" Eeemmm"
" Sayang."
" Eeemmm"
Roy merasa kesal dengan balasan Citra, hanya eemmm.
" Sayang." pangil Roy dengan lembut
Citra yang sudah senyum - senyum sendiri merasa puas telah mengerjai Roy.
Lucu hanya sebutan eeemmm saya bisa buat orang emosi.
" Iya, ada apa Roy."
__ADS_1
" Saya mau buat puisi untuk kamu, apakah kmu mau?"
' Puisi sejak kapan Roy menyukai puisi, bahkan saya tidak pernah mendengar dia berpuisi.' masih nggerutu dalam hati.
" Emang kamu bisa."
" Tentu saya bisa dong, karena saya Pernah sekolah Sastra juga."
terlintas di fikiran Citra, sebenarnya Roy ini siapa, bahkan sampai saat ini Citra belum mengetahui jati diri Roy. bahkan Roy belum pernah bercerita asal usul keluarga dia.
Citra yang sudah berpacaran dengan dia telah Tiga bulan. tidak tahu siapa Roy sebenarnya.
" Mulailah membuatkan puisi dadakan itu kepada saya, saya akan menunggu dengan sabar."
Setelah Roy dapat persetujuan dengan Citra, Roy langsung mengubah panggilan Video call.
Citra menerima panggilan itu, Roy sedang duduk di meja kerjanya tidak begitu jauh dari tempat tidurnya.
Terlihat sedang memegang gitar, mulai memetik senar gitar miliknya, terdengar suara melodi yang begitu indah.
" Pertama kali aku memandang mu, ada rasa aneh yang timbul di dadaku."
kembali Roy mengingat pertemuan mereka di bandara.
Citra yang bnyak bicara saat itu membuat Roy hanya bisa menatap wajah cantiknya, namun mulai memiliki rasa.
entah itu rasa cinta pada pandangan pertama atu bukan, entahlah.
" Setiap Mataku dan Matamu saling beradu pandang, jantungku berdetak begitu kencang."
Roy mengingat saat beradu pandang dengan Citra di dalam mobilnya, tiba - tiba jantungnya berdetak begitu kencang.
" dimulai pada saat itu, tidur malam ku mulai gelisah, hati ku mulai berkecamuk, fikiran ku hanya tertuju kepada mu oh bidadari ku."
Roy terdiam berusaha mengingat setiap momori diantara mereka.
" Bahkan aku tidak ingin menghabiskan waktu ku untuk memandang orang lain, aku hanya ingin memandang mu saja, wajah mu yang begitu cantik, senyum mu begitu menggoda ku, aku tidak ingin melewati sedetik pun untuk tidak memandang mu."
Citra yang mendengar puisi dadakan dari Roy merasa terhanyut.
" Di saat itu aku menyadari, aku telah jatu Cinta kepada mu, gadis ku yang begitu cantik."
Roy mengingat pertemuan singkat mereka berdua.
" Canda tawa mu yang begitu bahagia, di saat engkau menikmati di setiap incih keindahan yang terlihat oleh mata mu, aku bahagia, sangat bahagia sayang."
Kembali Roy mengingat perpisahan itu.
" Namun Bahagiaku terputus di saat kepulangan mu ke kota mu, aku sedih aku patah hati, ternyata permata ku telah pergi meninggalkan ku."
Roy mulai memetik gitarnya dengan begitu lembut, di setiap nada yang terdengar begitu menyentuh hati.
" Aku berjuang memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati ku, aku bahagia sayang, sangat bahagia hari itu, dimana kamu menerima cinta tulus ku. Namun kebahagiaan itu tidak seterusnya terjadi."
Dia mengingat tentang kejadian pertengkaran nya dengan Abang Citra.
" Aku tahu aku salah, tapi aku tidak mampu untuk berjuang, aku telah jahat membuat mu kecewa sayang, maafkan lah aku, aku yang sangat di butakan cinta, cinta ku yang begitu besar membuat akal sehat ku tak berpungsi, maaf hanya kata maaf yang bisa aku ucapakan kepada mu permata hati ku."
" Aku begitu sangat mencintai mu, sangat mencintai mu sayang."
Roy menangis menetes kan air mata, Puisi dadakan itu adalah gambaran dari perasaan nya. bahkan Citra yang mendengarkan puisi itu terharu, kedua bola matanya berkaca - kaca.
' Manis sekali, kamu sangat baik, namun sayang sampai saat ini cinta itu belum tumbuh juga, maafkan aku Roy, maaf kan lah aku, setelah kamu mengetahui kenyataan itu nanti.'
Tiba - tiba panggilan telepon Citra di putuskan sepihak oleh Citra, karena Citra tidak ingin Roy melihat Citra menangis.
Semakin merasa bersalah, tidak ingin menyakit hati Roy yang begitu tulus kepadanya.
Kata itu membuat relung hati ku terluka, mata ku yang begitu sendu memandang sembarangan arah dengan tatapan kosong.
Dia telah membuat ku dilema akan ketidak pastian.
__ADS_1
menimbulkan rintik - rintik hujan di hatiku, bahkan di mata ku telah membasahi wajah ku.
kata itu menjadi Rintik sendu yang Dia ucapkan, menusuk ke relung hati ku.