Teman Peria Ku Bukan Jodoh Ku

Teman Peria Ku Bukan Jodoh Ku
3. Membawa pengaruh


__ADS_3

waktu terus berjalan, rasanya jam sangat sulit untuk berputar. hari - hari ku di penuhi warna yang berbeda. masalah demi masalah terus bergulir seperti roda berputar, satu belum selesai sudah datang yang satunya lagi ' yah ampun Tuhan rasanya menelan air minum saja rasanya berubah menjadi pahit' menyeka wajah nya dengan kasar.


pekerjaan kantor yang menumpuk menanti agar untuk di selesaikan, belum juga persiapan sidang pasca sarjana saya belum selesai. di tambah lagi masalah projek yang belum kelar juga. citra memijat keningnya yang begitu terasa sakit. menyandarkan tubuhnya dengan kasar di kursi kerjanya.


Drreett


Drreett


Drreett


suara benda pipih itu, yang tidak begitu jauh dari hadapan citra sedang berdering menandakan ada panggilan masuk, terlihat di layar panggilan video call di aplikasi hp hijau itu, tertulis nama Roy. tidak butuh waktu lama aku mengeser dan mengangkat panggilan dari Roy.


" Hallo, Citra " sapa pemuda itu dari ujung telepon video call


" Iya, ada apa itu Roy jam segini kamu menghubungi saya " sapa ku dengan penuh tanya.


" Tidak, hanya ingin bicara saja sama kamu "


" Iya, bicara lah "


" boleh kah saya bercerita sedikit kepada mu "


" Iya, tentu boleh dong? " penuh dengan kelembutan


" Baiklah saya akan bercerita, saya mohon kamu sabar mendengarkan cerita saya "


" Ok, saya pasti sabar mendengar cerita kamu " saya sedang memahami ada masalah yang sedang menimpah Roy pada saat ini, dari raut wajahnya begitu masam, sesekali dia menunduk dan menekuk wajahnya.


" Saya tidak tau mau cerita sama siapa, dan cerita dari mana, intinya saya sedang sedih Citra, saya butuh teman cerita untuk saat ini. saya sangat membutuhkan kamu " tiba - tiba terhenti saat menyampaikan kalimat terakhir ' saya membutuhkan kamu'


" Kamu kenapa Roy, apa sedang ada masalah dengan pekerjaan mu " saya berusaha untuk mengajak Roy agar terbuka


" Bukan citra, pekerjaan saya lancar, tidak ada masalah, yang bermasalah itu pada hati saya Citra. "


" Terus, kamu sedang patah hati bukan? "


" Tepatnya begitu lah. "


" Jadi hubungannya dengan saya apa dong? "


" Ada hubungannya dengan kamu, karena kamu belum menjawab pertanyaan saya. tentang ungkapan perasaan saya kepada kamu. kamu berjanji untuk menjawabnya hari ini kan Citra, saya telah menunggunya sedari tadi tapi kamu tidak menelpon ku. apakah kamu lupa dengan janji mu kepadaku." dengan suara yang begitu lembut sampai menusuk ke hati.

__ADS_1


' Astaga Tuhan, kenapa aku harus lupa tentang itu. ini semua karena terlalu banyak nya masalah yang sedang terjadi kepada ku.'


keheningan pun terjadi, sehingga membuat Roy kebingungan, dia kembali melihat citra di layar ponselnya. tiba- tiba hanya kegelapan tidak ada dia di sana panggilan itu pun tidak terputus.


" Hallo citra. " pangilnya kembali " Apa kamu masih di sana, kamu baik- baik saja kan."


belum ada jawaban dari citra, masih keheningan yang terjadi.


" Apakah saya menganggu aktifitas kerja kamu, apakah saya terlalu terburu - buru meminta jawabannya sekarang, apa kamu kecewa kepada ku. apakah cinta ku yang tulus ini akan bertepuk sebelah tangan. apa pun keputusan kamu aku akan siap menerimanya citra."


pertanyaan yang begitu banyak untuk citra seakan sedang di todong dengan pertanyaan dari Roy.


" So-sorry Roy, saya sedang banyak pekerjaan. jadi tidak fokus mendengar apa yang kamu katakan." di balas dengan terbata - bata.


" Baiklah Citra, nanti malam saja kita lanjut mengobrol, saya tunggu jawaban dari mu."


" Iya, sudah dulu iya saya sedang banyak pekerjaan."


tanpa menunggu jawaban dari Roy saya langsung mematikan sambungan telepon video call itu.


' Bagaimana ini, aku gak bisa menyakiti dia, dia terlalu baik dan sebenarnya aku nyaman di saat di dekatnya, kelembutan hatinya. tapi aku belum merasakan jatuh cinta ke Roy, aku enggak tega menyakiti pria sebaik dia, Tuhan bagaimana ini. tidak mungkin aku menjalin hubungan tanpa cinta.' citra pun menyeka wajahnya dengan kasar


malam ini baik aku dan papa pulang lebih cepat dari kantor, sehingga kami bisa melakukan makan malam bersama di rumah, setelah menyelesaikan makan malam kita kembali duduk di ruang keluarga, hanya untuk saling bercerita sebelum istirahat.


" Sayang, kamu Mama lihat sering tidur larut malam, kenapa sayang kamu lagi banyak beban masalah atau gimana sayang." pertanyaan Mama memecah kesunyian yang terjadi.


"Iya Mah, akhir- akhir ini citra kurang bisa tidur cepat." balas ku dengan datar


" Emang kamu kenapa sayang kok bisa seperti itu." tanya Papa yang merasa ada yang di sembunyikan putri semata wayangnya ini.


"Gak tahu tuh Pa, citra aja bingung kok bisa kek gini." jawabku singkat agar papa dan mama tidak memperpanjang lagi untuk mengorek semua perubahan sikap ku selama tiga bulan terakhir ini.


" Iya sudah lah, kalau kamu enggak mau cerita ke Mama dan Papa tidak apa - apa sayang." balas mama dengan suara yang lembut mengerti bahwa putrinya sudah tidak kecil lagi.


" Ma, citra istirahat ke kamar duluan iya, capek nih ma, seharian kerja."


" Baiklah sayang, kamu istirahat saja duluan Papa dan Mama masih betah di sini." balas papa dengan tersenyum.


aku bergegas naik ke kamar ku yang terletak di lantai Dua, langsung mengengam hendel pitu, masuk dan menutup pintu itu langsung menguncinya, tujuan utama ku adalah kasur, ingin rasanya tidur walau untuk sebentar saja.


Drreett

__ADS_1


Drreett


Drreett


telepon gengam milik ku berdering, tandanya ada yang memanggil, dengan malas nya aku meraih benda pipih itu dari atas meja. melihat dengan samar - sama siapa yang menelpon di aplikasi hijau milik ku.


" Roy." gumamku penuh dengan kekesalan


tapi tidak butuh waktu lama aku mengeser benda pipih itu dan mengangkat panggilan dari Roy.


" Iya Roy, ada apa jam segini nelpon saya." seketika saya lupa janji saya ke Roy


" Apa kamu sudah tertidur Citra." balasnya dengan nada yang begitu lembut


" Eeemmm." hanya singkat saja


" Kamu lupa lagi dengan janji kamu Citra kepada saya, apa kamu mau mempermainkan saya citra."


Duuaarrr


bagaikan di sambar petir di siang bolong, setelah aku mengingat janji ku ke Roy, sepersekiandetik aku bangkit dari tempat tidurku. langsung duduk di meja kerja ku.


" Sorry Roy saya benar - benar lupa, akibat banyaknya pekerjaan di kantor." berusaha berkata sejujurnya


" Tidak masalah Citra, aku maklum kok kesibukan kamu di kantor." suara yang begitu sendu


" Baiklah, Terimakasih sudah mengerti tentang saya, saya tahu kamu pria yang baik, dan pria lembut. kalau bisa jujur saya suka dengan kedewasaan kamu, cara kamu bicara. cara kamu memperlakukan wanita, itu membuat saya semakin ingin tahu kamu lebih dalam lagi, jadi saya telah mengambil keputusan untuk menerima cinta kamu." aku pun memberi jawaban ku agar tidak ada yang tersakiti walau aku belum mencintainya. mungkin seiring berjalanya waktu cinta itu akan timbul dengan sendirinya, aku percaya itu.


" Sungukah ucapan mu itu, kamu menerima cinta saya." dengan auara yang gembira


" Terimakasih kamu telah menerima ku."


" Sama - sama Roy." jawabku dengan lembut


" Oh iya, boleh kah saya istirahat lebih dulu, boleh kah kita sambung besok lagi. saya terlalu kecapeaan dan kurang istirahat." rengek ku dengan manja.


" Baiklah sayang istirahat lah, aku mencintaimu."


" Nya, aku tahu itu. selamat malam."


panggilan itu langsung ku akhiri dengan sepihak, karna mata ku sudah tidak sanggup lagi untuk terbuka.

__ADS_1


__ADS_2