
Citra mengirim uang Jonatan ke rekening miliknya sesuai kesepakatan mereka.
Setelah Citra selesai mengirim uang itu, ia nggak langsung pulang. Pergi mengunjungi kantornya.
Udah berapa hari dia nggak masuk kantor, rindu dengan suasana ramai, rindu dengan anak - anak kantor yang rama.
Sebelum memasuki kantor, Citra terlebih dulu mengunjungi galeri miliknya, pas di sebelah kantornya.
Ia membuka pintu kaca yang berukuran besar itu. terlihat sedang banyak yang mengunjungi galeri miliknya, sudah ada beberapa lukisan yang telah terjual.
Namun suara Devi mengejutkan gue, terdengar dia memanggil setengah berteriak, berlari kecil menghambur ke pelukan gue.
"Gue kangen banget sama, elu."
"Hemmmm........"
"is...... kamu ini, kaku banget, sih."
Citra masih diam.
"Oh, ya. Ada yang mau ketemu sama kamu tuh, dia tertarik dengan lukisan kamu. Jadi dia mau ketemu langsung dengan orangnya."
"Siapa, Dev."
"Yang pasti di laki - laki, ganteng lagi."
"his, kalau yang ganteng mata mu langsung berbinar Dev."
"Iya, dong kalo lo nggak mau biarbuat gue aja, ya."
"Is....... gelik aku lihat kamu!"
"Udah pergi sana temu dia. Ditempat lukisan kamu, ya, Cit."
"Baik, lah." ujar Citra dengn malas nya.
Mau nggak mau yah harus di temuin, begitu malasnya Citra hari ini. Tapi dia nggak boleh egois, comstemer dalah Raja. Jadi harus dilayani dengan baik.
Sesampainya Citra di ruangan diman lukisan dia di pajang di sini semua. Ada banyak lukisan miliknya terpajang di dinding ruangan itu, bahkan jika semua mata melihat lukisan itu penuh arti dan makna.
Sehingga tidak mudah untuk membeli lukisan itu, apa lagi dengan harga yang begitu mahal.
Hanya kalangan orang Kaya raya yang bisa memiliki lukisan seindah itu.
Bahkan Citra di bayar mahal hanya untuk membuat lukisan wajah seorang terkaya di Amerika.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" ujar Citra dengan sopan.
"Siang!" sapa laki - laki yang berpostur tubuh tegap itu dengan singkat.
"Saya ingin bertemu dengan pelukis ini, bisakah kamu pangilkan beliau kemari."
Tanpa melihat, laki - laki itu telah salah memerintah orang, yang dia suru adalah pemilik lukisan itu dan seorang pemilik galeri terbesar di Eropa ini.
"Maaf, saya sendiri pemilik lukisan itu pak?" ujar Citra dengan tulus
Jika menghadapi seorang pembeli jiwa kesabaran Citra meningkat menjadi 180° derajat.
Namun jika di hadapkan pada karyawan nya citra akan berubah menjadi perempuan tergalak sedunia.
__ADS_1
Laki - laki itu terkejut, langsung berbalik ternyata yang di perintah si pemilik lukisan itu. Sangkin terpesonanya dia dengan lukisan itu.
Flhasback on
Di dalam lukisan itu terlihat sebuah pantai, memiliki pasir yang luas. terlihat banyak pohon kelapa tidak jauh dari pasir pantai itu.
jika di pandang ke depan terlihat ada sebuah gunung di tumbuhi banyak pohon. Terlihat seperti hutan.
Terlihat matahari akan tengelam di ufuk timur laut, begitu indah cahayanya terlihat kemera - merahan bercampur ke kuning - kuningan.
Di bibir pantai yang indah terlihat ada dua pasang orang dewasa. Memandang ke arah di mana ada dua orang anak kecil yang sedang bermain pasir pantai.
Jonatan sangat mengingat betul sepasang laki - laki dewasa itu adalah Ayah dan Ibunya.
sedang akan sepasangnya lagi sahabat ibunya.
Pada saat itu mereka melakukan liburan bersama, di saat itu usia Jonatan delapan tahun sedangkan gadis kecil itu berusia lima tahun.
Mereka bermain pasir pantai, layaknya seorang anak kecil yang belum mengerti apa - apa.
di saat melihat lukisan ini, Jonatan kembali mengingat pertemuannya dengan gadis kecil yang begitu manis bahkan pada saat itu Jonatan sangat menyukainya. Sampai saat ini Jonatan tidak mengetahui siapa nama asli gadis kecil itu, karena orang tuanya memanggilnya Princess.
Dia sangat rindu dengan gadis kecil itu, telah begitu lama dia mencari keberadaan gadis kecil itu. Namun tidak ada yang mengetahui dimana gadis itu sekarang.
Saat dia melihat lukisan di dalam galeri ini, dia merasa akan bertemu kembali dengan gadis itu.
Flhasback of
"Maaf, pak. Apakah anda mencari saya?"
Seketika Jonatan terkejut dari lamunannya.
"Kamu." dengan serentak mereka terkejut
Dia adalah laki - laki yang pernah menolong Citra di saat terjebak hujan di stasiun di pinggir jalan.
Berkat pertolongan Laki - laki ini Citra tidak membeku akibat kedinginan.
"Ehh........ Maaf saya kaget." ujar Citra mendahului
"Oh, nggak Apa - apa, kok."
"Kamu ada apa ingin bertemu dengan saya."
"Ini lukisan kamu, ya?"
"Ya.......... benar!"
"Kamu jual nggak lukisan ini, saya mau beli?"
"Maaf, lukisan ini tidak saya jual. Karena ini cuman ada satu saya buat."
"Jika kamu yang membuatnya kenapa harus satu, kan bisa di buat lagi."
"Maaf, ya. Pak Jonatan saya membuat lukisan itu tidak pakai duplikat, jadi jika lukisan saya laku, pemiliknya hanya dia saja di penjuru belahan dunia ini.
Jadi saya nggak pernah membuat duplikatnya pak.
Seperti yang ada di depan galeri ini. itu hanya ada satu di dunia ini.
__ADS_1
Makanya tidak saya jual Pak Jonatan?"
"Saya akan bayar berapa pun harganya, asalkan kamu jual lukisan ini."
"Maaf, Pak Jonatan saya nggak butuh uang Pak, jika tidak jual Bapak nggak bisa ngotot gitu Pak."
"Tapi, ini lukisan sangat berarti buat saya."
"Tapi. ini tetap tidak saya jual pak."
"Tolong, lah. Kamu jual aja lukisan ini, saya sudah mencarinya selama dua puluh lima tahun lamanya."
"Dua puluh lima tahun, maaf pak ini lukisan masih lima tahun belakangan ini loh saya buat. Jadi ini bukan lukisan bersejarah di galeri ini.
Lukisan yang bersejarah di galeri ini ada di depan itu Pak, usianya sudah lima belas tahun.
Walau begitu ini tidak akan di jual pak, ini akan di pajang di depan nantinya."
"Kamu nggak akan jual lukisan ini?"
"Nggak, Pak."
"Baik, lah. Kamu akan lihat nanti dengan cara bagaimana, saya akan mendapatkan lukisan ini!"
"Baik, lakukan saja seberapa mampu anda untuk mendapatkan lukisan ini.
Asal kamu tau, uang kamu tidak akan bisa membeli apa yang saya tidak ingin ia.
Dan kamu harus tau, saya tidak butuh uang kamu. sebanyak apa pun uang kamu dan sekaya apa pun kamu, saya lebih kaya dari kamu.
Uang-mu itu hanya berlaku untuk kamu bukan untuk saya.
Dengan cara apa pun kamu lakukan buat mendapatkan lukisan ini, kamu tidak akan bisa.
kamu bayar pun pencuri profesional untuk mencuri lukisan ini. Dengan sekejap mata dan dengan hitungan menit kamu bisa saya buat jadi gelandangan.
Kamu ingat itu baik - baik omongan saya.
Permisi!"
Dengan sangat begitu kesal Citra meninggalkan Jonatan, yang terpaku tetperangah dia begitu terkejut melihat kemarahan Citra.
Seperti sedang bermimpi di siang bolong, di ceramahi oleh perempuan di siang bolong.
Rasanya Jonatan berkeringat dingin, melihat kemarahan Citra yang begitu berapi - api.
*Ternyata masih ada perempuan sesempurna dia.
Dia nggak bisa di bayar Oleh apa pun
Bahkan dia nggak tertarik dengan uang banyak
Bahkan dia berani menentang saya.
Begitu beraninya dia.
Dia memiliki keberanian dan nyali yang besar.
__ADS_1
Tatapan matanya begitu menyayat ke hati, begitu tajam. Nggak ada rasa takut sedikit pun.
Masih ada perempuan seperti dia di dunia ini, udah cantik, mandiri lagi*.