
Sakit, tapi tidak berdarah.
Kepergian Citra ke Amerika masih membawa kesedihan, ya bisa di bilang sakit juga. Akibat permainan keluarga Roy yang membuat energi Citra habis, pikiran pun terpokus ke situ aja.
Amerika, Kota yang indah dimana gedung - gedung pencakar langit terlihat tersusun rapi, begitu hebatnya buatan tangan manusia.
Cahaya temarap lampu di mana - mana, banyak tempat - tempat hiburan terbuka di saat malam hari.
Di malam hari seperti ini masih banyak orang yang mencari uang, bahkan kota ini bisa di bilang Kota yang tidak pernah tidur penduduknya.
Jam terua berputar, nggak terasa sudah pukul Lima pagi, tapi mata gue masih terus terjaga akibat fokus dengan pekerjaan.
Citra selalu berusaha menjadi yang terbaik, baik di perusahaan Bokapnya maupun di perusahaan miliknya.
Di siplin, dan kerja keras itu selalu di tanamkan seorang Ayah ke Anak - anaknya.
Tidak ingin membuang - buang waktu haya untuk memikirkan Roy, Citra tahu dia punya banyak tanggung jawab yang dia pikul sendiri.
Matanya mulai terlihat hitam, suda seperti mata panda akibat jarang tidur akhir - akhir ini. entahlah apa itu karena pekerjaan dan di tamba lgi urusan pribadi.
Itu lah pemimpin, mengutamakan urusan orang banyak dari pada mengutamakan urusan pribadi. bayank tanggung jawab yang ia pikul di atas pundak nya.
Citra menghubungi Tedy, untuk membicarakan pekerjaan.
"Halo? Ted, lo udah bngun."
"Ya...... Bos, gue baru bangun nih, ada apa, Bos?"
"Lo, nanti jngan lupa ikut sama gue ketemu Klaine."
"Baik, Bos. Tapi nggak jam segini juga kali Bos, pagi amat nelepon nya."
"Maaf, gue nggak bisa tidur jadi gue hubungin lo."
"Ia...... udah kan gue matikan ya, masih ngantuk gue Bos."
"Baik."
TUT
*Punya anggota kok kaya gini ya.
Gue yang Bos, malah anggota gue yang ngatur - ngatur.
Dasar bocah gendeng*.
Tepat pukul Tujuh pagi.
Citra bergegas pergi menuju kamar mandi membersihkan tubuh.
__ADS_1
Lima belas menit berlalu, akhirnya Citra keluar dari kamar mandi, terlihat begitu segar. Ia membuka lemari mengambil gaun warna merah maron seatas lulut. Terlihat begitu indah jika dia mengunakan gaun itu.
Kulitnya yang putih mulus, bersih sangat pas sekli, terlihat manis di saat Citra memakainya.
Terlihat natural namun tidak di sangka, harga gaun ini bisa membeli speda motor satu. yah itu lah Citra jika urusan pekerjaan di tidak segan - segan merogo kocek sebesar aoa pun untuk menunjang penampilannya.
Sehingga membuat para laki - laki yang melihatnya akan kelepek - kelepek, namun bukan Citra namanya jika tidak membuat laki - laki patah hati.
Sudah banyak laki - laki yang hampir setengah sinting di buat Citra, akibat patah hati. Cintanya di tolak mentah - mentah.
Tapi banyak laki - laki yang tidak menyerah begitu saja, kalo mereka tau Citra datang ke. Mereka akan berbondong - bondong mengirim paket kepada Citra.
Maklum lah Fans nya Citra itu banyak, namun laki - laki semua.
Lki - laki mana yang tidak tertarik pada Citra, ia gadis yang mandiri, cantik, pinter, dan sukses di bidang bisnis bahkan CEO lagi.
Laki - laki mana coba yang nggak rebutan, perempuan aja iri lihat dia.
Selesai berdandan memoleskan mek- up yang sangat tipis, terkesan natural namun cantik.
Memakai sepatu hak tinggi tujuh senti, berwarna hitam. Sangat cocok dengan warna bajunya, mengambil tas selempangnya berwarna hitam, sama dengan warna sepatu. membuat penampilannya makin elegan.
Keluar dari Hotel tempat ia menginap, memakai kaca mata hitam, berjalan dengan anggun. tidak lupa membawa tas leptopnya dan berkas - berkas. Maklum Citra tidak pernah merepotkan anggotanya sama sekali jika itu menyangkut urusan Klaine.
Terlihat Tedy suda menunggu di bawa, dengan berpakai rapi setelah jas berwarna putih. Namun ada yang salah hari ini dengan nya, dia memakai kemeja dengan warna yang sama dengan Citra. membuat kesan seperti mereka telah janjian saja.
"Pagi, Bos."
"Bos, kita langsung ke kntor pak Eduward atau ke mana dulu, Bos."
"Gue mau, sarapan pagi dulu, tapi kamu ganti kemeja kamu, jangan pakai warna itu."
"Kenapa dengan kemeja saya, Bos."
"Kamu nggak lihat apa, gue pakai baju warna apa. Mata kamu taro di mana sih, di dengkul apa kata orang nanti, ibu...... datang sama suami iya?"
Tedy yang sadar langsung menoleh ke dadanya, dia melihat kemeja yang dia pakai, terus dia melihat gaun yang Bosnya pakai. Ternyata warnanya sama.
Dia langsung menepuk jidat nya pelan, merasa sial, kenapa harus bersamaan memakai baju yang sama warnanya.
"Ba - Baik...... Bos, saya akan ganti setelah saya antar Bos, sarapan pagi."
"Bagus, begitu baru patu namanya."
*Perasaan dari dulu saya patuh, deh.
kenapa baru sekarang saya di bilang patuh.
Dasar Bos gedek lo, kalo nggak Bos lo, eh...... udah gue beri lo....... Bos*
__ADS_1
"Kamu jangan maki - maki saya, ya."
"Siapa, yang maki - maki sih, Bos?"
"Kamu lah, bicara dalam hati, kan."
"Sok, tau Bos, ih, dukun ya?"
"Ia...... saya dukun, makanya lain kali kamu bicara dalam hati maki - maki saya, silahkan buat surat pengunduran diri kamu."
Tedy langsung pucat jurus andalan Citra dia keluarkan.
"Is...... cantik - cantik tapi kejam."
"Iya........ terus aja kamu katain saya, sampai restoran kamu nyerocos aja terus, lama - lama saya lihat kamu tuh seperti lambe turah deh Ted."
"Bos tuh, yang seperti lambe turah."
"Sadar lo, Ted. Gue bukan lambe turah, ya. kmu tuh makin lama makin lupa batas ya Ted."
"Ma - maaf, Bos habisnya, saya kesal Bos." ujar Tedy dengan muka yang pucat.
Sampai di restoran di mana Citra sarapan pagi dulu, baru ketemu klaine di kantornya bersama dengan Tedy, setelah Citra turun Tedy tidak langsung ikut. Namun dia pergi ke Toko pakaian terdekat untuk menganti kemejanya.
Dengan hati terpaksa, padahal itu kemeja dia sengaja beli hanya untuk di paki pertemuan ini, tapi sialnya bisa berbarengan dengan gaun Citra.
Setelah memili - Mili Tedy mengambil kemeja berwarna abu - abu, terlihat sangat cocok juga buat setelan jas nya yang berwarna hitam.
Setelah selesai membayar, Tedy pergi meninggalkan toko itu, dan menemui Citra dan mereka sarapan pagi bersama, sambil membicarakan pekerjaan bersama.
Tedy itu sudah di anggap saudara oleh Citra, Baik buruk nya Tedy bahkan Citra tau betul bibit bobotnya seorang Tedy.
Dia berasal dari mana, keluarganya bagai mana, kehidupan masa lalunya bagaimana. Tapi Tedy bisa berubah setelah bertemu dengan Citra, menjadi orang kepercayaan Citra. Bahkan sekarang Tedy memikul beban yang sama dengan Citra, Tedy di suruh memimpin perusahaan Bokap nya Roy yang telah di ambil ahli oleh Citra.
Pekerjaan Tedy semakin bertambah, bukan hanya sebagai pemimpin tapi sebagai asisten pribadi Citra juga.
Setiap pekerjaan Citra yang menyangkut Klaine, Tedy lah yang mengatur perjalanan ya bahkan dia harus ikut serta mendampingi Bosnya.
Cukup masalalu Tedy yang tak enak, tapi bukan berarti Tedy tidak bisa berubah. Tedy bukan seperti Roy yang gampang terhasut.
Roy itu nggak memiliki jiwa kepemimpinan, bahkan dia bisa terhasut Bokap nya. Akibat dendam lama sang Bokap.
Roy kini telah menggoreskan banyak luka, di hatinya bahkan di hati orang lain.
Roy tersakiti oleh permainan ya sendiri, namun sulit untuk mengobatinya.
Ia, walau citra kini masih sedih dan kecewa. Itu hal wajar, dengan semua manis dan kebaikan Roy siapa sih yang nggak sakit.
Kucing aja kalau di sayang - sayang udah habis itu langsung di buang ke tempat sampah kan sakit juga dia.
__ADS_1
Kecewa itu pasti, tapi seiring berjalanya waktu rasa sakit dan kecewa itu, terbawa arus angin juga pasti.