
Citra, ternya ia bisa galau juga, saya kira seorang Citra tidak akan bisa merasakan apa itu sepi, sakit dan kecewa. Namun saat ini dimana titik tergalaunya dia.
Putus dari Roy adalah bukan suatu keinginan darinya, namun keadaan yang memaksa.
*Huff.......ternyata saya bisa galau.
Bagaimana , jika saya mencintai dia, ya, bisa dilema sepanjang hari aku*.
Citra berdiri memandang lurus kedepan, namun kosong, ada rasa yang mulai menghimpit dada sesak namun tidak bisa dikeluarkan.
Kecewa tentu pasti, Tapi mau gimana lagi. Semuanya sudah berlalu.
Kini kembali ke awal lagi, dimana kehidupan aku semula yang nggak pernah bertemu Roy. Namun hanya tinggal kenangan manis, mungkin butuh waktu lama untuk melupakan.
*Kamu laki - laki yang baik Roy, namun sayang kamu tidak bisa tegas pada diri kamu sendiri.
Kenapa harus mempermainkan perasaan mu, kenapa nggak jujur, kamu dari awal.
Kamu menyiksa diri, Roy.
Aku tau kamu tersiksa saat ini, aku tau kamu menyesal sekarang.
Aku, nggak bisa menolong kamu lagi, aku kecewa sama kamu Roy. Sangat kecewa*.
Huhh......... Citra tarik nafas untuk meringankan rasa sesak di dada, berusaha menghilangkan pikirannya tentang Roy.
Tiba - tiba Ponsel aku berbunyi, aku bergegas pergi meninggalkan balkon dimana tempat aku merenungi nasib.
Terlihat, Tagor memanggil.
"Hai...... rintik sendu, apa kabar kamu?"
"Baik, Tagor. Kamu apa kabar di sana."
"Aku....uh.... kurang baik nih, rintik sendu."
"Kamu, sakit?"
"Ya...... aku sedang sakit, akibat mendung di kota aku."
"Apa hubungannya Tagor mendung di kota mu dengan keadaan mu."
"Tentu pasti ada dong, sedangkan di Kota lain ada rintik hujan. Namun nggak membasahi semua kota, hanya satu orang yang basah."
"Hujan apa itu namanya? Kenapa yang basah hanya satu orang, udah deh jangan mulai drama."
__ADS_1
"Ish.........kamu tuh ya, yang drama siapa? Aku nggak lagi drama Cit."
"Terus, siapa orang yang hanya dia terkena air hujan itu."
"Kamu!"
Citra terdiam.
Lima menit berlalu, panggilan dari Tagor belum terputus, dia masih setia menunggu pertanyaan yang akan memberondong dirinya.
"Kamu...... lagi kesambet apa sih, Tagoooor."
"Aku, kesambet Rintik hujan itu loh Cit, aku selalu terpikir ke dia."
"Hmm...... mulai deh kumat nggak waras kamu ya, tadi kamu panggil aku rintik sendu lah, sekarang kamu bilang ada di kota lain sedang datang rintik hujan, namun hanya satu orang yang terkena hujan itu, terus kamu bilang aku yang kenak hujan itu. Kamu lagi kesambet apa Tagor, nggak usah sok asyik kamu."
"Hahahahaha............ Ternyata hujan itu belum datang rupanya, masih terlihat mendung, namun mulai sesak. Ingin memuntahkan lupan - luapan embun yang mengelap."
"Kamu kalu ngaur ngomongnya lagi, aku matikan nih telpon kamu." ujar Citra dengan kesal
"Ya......... habisnya kamu nggak mau cerita sama aku Cit, aku tau kamu lagi ada masala."
"Kamu, tau dari mana Gor."
"Sok, kamu. Belum semua tentang aku kamu tau Tagor, jangan belagak seperti dukun kamu."
"Ya....... setidaknya aku tau kamu lagi sedih."
Citra tertegun mendengar ucapan Tagor.
*kenapa dengan semua orang saat ini.
Aku tau banget, Tagor pasti sudah menyimpan perasaan sama aku.
makanya dia sok perhatian segala lagi.
Dasar nih anak, boca sableng nih*.
"Aku, dengar berita perusahaan Papa, Roy bangkrut Cit, itu pasti kamu kan yang buat."
"Kalau ia kenapa Gor, mau kamu perusahaan bokap lo, gue bangkrutin juga."
"Is....... sadis amat lo neng, jangan gitu dong entar kalo Bokap gue bangkrut mau makan apa mereka Cit."
"Ya, lo kasih makan lah, dasar anak nggak bertanggung jawab lo." celote Citra dengan nada kesal.
__ADS_1
"Jadi, gimana hubungan kamu dengan Roy?"
"Putus udah."
"Kenapa, kok nggak di bicarakan baik- baik sih Cit."
"Nggak, ada yang perlu di bicarakan baik - baik lagi Gor, kalau dari awal dia bilang mungkin ia nggak berakhir itu hubungan."
"Jadi itu mantan lo kemana perginya, karna aku baca berita udah selesai tuh keluarganya. Alias bercerai berai akibat perbuatan lo."
"Ya...... kalo dia balik lagi ke kota R. Kerja di kantor Abang gue."
"T-tapi.."
"Tapi apa Cit."
"Kalo keluarga dia mana gue tau itu, mau hancur atau mati nggak perduli gue Gor."
"Udah, ya. Ngomong sama kamu itu buat dara gue naik Gor. Baye!"
*Sok asik kamu Gor, aku tau ujung - ujungnya kamu bawa perasaan kamu.
Dasar kadal kamu, semua laki- laki itu sama aja.
Penghibur sialan*.
Setelah panggilan terputus, ia kembali pergi menuju balokn kamarnya.
Memandang keindahan hutan yang terawat dengan baik, banyak cahaya lampu di sana.
Hembusan angin yang begitu lembut menyentuh bulu - bulu halus tangan aku, rasanya sejuk, namun lama - lama berubah menjadi dingin.
Mungkin hujan akan turun malam ini.
Citra kembali menutup pintu kaca balokn kamar. bergerak meninggalkan kamarnya menuju ruang kerja, mengingat keberangakatnya besok, dia harus membaca berkas kerja sama itu dulu.
Jam terus bergulir, Citra masih fokus pada layr Leptopnya. sampai pukul dua dini hari. Citr belum juga ngantuk. Masih pokus bekerja.
Menyibukkan diri, membuat dia tidak memikirkan masalah yang terjadi.
Ternyata seorang Citra, yang di beri predikat wanita kuat, bahkan wanita pemberani ini. Ternyata bisa menangis dan galau.
Di lihat dari sudut pandang orang yang melihat Citra akan mengatakan, dia tidak akan mudah menangis, namun semua orang salah menilai Citra.
Dia adalah wanita terlemah di penjuru bumi ini, ia mudah menangis, berhati lembut selembut sutra, mudah tersentuh. di luarnya saja dia terlihat garang namun dalamnya dia begitu muda rapuh.
__ADS_1