
Pagi, ini cuaca begitu tidak mendukung, mulai terlihat banyak awan gelap di mana - mana.
Tanda hujan akan turun.
Kenapa di saat gue nggak bawa mobil hujan harus dateng, sih.
Rintik hujan mulai jatuh satu persatu, menghitung menit mulai terlihat banyak.
Rasanya, terjebak di stasiun dengan kondisi tubuh yang nggak memakai jaket. Rasanya mimpi buruk bagi gue.
Hari mulai gelap, hujan semakin deras, entah sampai berapa lama gue akan terjebak di sini, menahan dinginnya malam.
Kebetulan hanya ada gue dan satu laki - laki asing, hanya kami berdua duduk di halte pinggir jalan sambil menunggu angkutan umum lewat. mau nelepon Tedy batray handphone habis jadi mati.
Sial banget, ih, hidup gue hari ini.
Jam terus bergulir, semakin membuat tubuh gue membeku. Rasanya bergerak pun nggak sanggup buat melangkahkan kaki.
Laki - laki di sebelah gue serasa melihat gerak - gerik gue yang semakin lama semakin terlihat kaku.
Dengan penuh rasa kasihan yang begitu teramat dalam, dia membuka jas yang ia pakai memasang kan ke tubuh gue yang suda mulai membeku.
"Kamu pakai saja jas saya, kamu suda begitu kedinginan."
"Kamu orang Indonesia?" ujar Citra dengan begitu senang nya akhirnya ketemu dengan orang Indonesia, sama dengan dia.
"Ya..... saya orang indonesia, tinggal di kota C, kalo kamu tinggal di mana."
"Oh..... gue tinggal di kota A, tapi gue sering ke kota C."
"Ya....... nggak heran kalau semua kota di Indonesia tau kota C, dimana pemandangan yang begitu indah, kota itu menjadi kota para turis berdatangan."
"Iya...... kamu bener, gue suka bnget tuh ke kota kamu."
"Kamu, sedang apa di sini, kenapa tidak bersama teman kamu, bahaya perempuan keluar sendirian loh. Udah gitu datang hujan lagi."
"Tadi, gue kebetulan jalan - jalan sore. Nggak taunya datang hujan, mau nelepon teman biar datang menjemput malah handphone gue mati karena habis batray."
"Heem.... kayak gini angkutan umum nggak ada yang lewat lagi, kamu pesan taksi online aja lewat handphone saya, nih." dia memberikan benda pintar itu ke gue, sambil tersenyum tulus.
Gue meraih benda pintar itu, memesan taksi online untuk mengantar gue pulang ke hotel.
"Terimakasih atas bantuan kamu, sehingga saya bisa segera pulang."
"Sama- sama."
Beberapa menit kemudian, taksi online yang gue pesan pun datang, begitu juga dengan mobil yang menjemput laki - laki itu, yang gue nggak tau namanya siapa.
"Gue pergi duluan, ya, ini jas kamu." Citra ingin mengembalikan jas miliknya namun di tolak.
"Nggak usah kamu pakai saja, biar tubuh kamu hangat. Saya udah di jemput."
__ADS_1
Laki - laki itu langsung masuk kedalam mobilnya, meninggalkan gue yang termenung sendiri.
Gimana, ya, cara ngembaliin jasnya. Kenal dia aja nggak, tau namanya aja nggak.
Yah, ampun, Citra begok banget sih lo.
Begok, begoook......
Citra memukul- Mukul kepalanya dengan tanganya, merasa paling bodoh sedunia. Asal ngomong sama orang nggak tanya namanya siapa dulu.
Supir taksi yang melihat Citra sedang kebingungan langsung menyapa.
"Ibu, mau pulang sekarang atu masih di sini buk." ujar supir taksi
"Iya, pak, kita berangkat."
Citra buru - buru masuk ke dalam, masih tetap memakai jas laki - laki itu.
Dua puluh menit perjalanan telah kami tempuh, akhirnya sampai juga gue di hotel.
Gue buru - buru masuk ke dalam hotel setelah membayar ongkos taksi, mencari - cari nomor pintu kamarnya.
Setelah menemukan, dia. langsung masuk, membuka jas yang ia pakai tadi, meletakanya di tepi ranjang tempat tidurnya. Menyambar handuk yang tergantung lalu masuk kekamar mandi segera membersihkan tubuh.
Nggak begitu lama terdengar suara pintu kamar mndi terbuka, Citra keluar terlihat begitu segar, nggak Citra yang terlihat kusam dan pucat seperti tadi lagi.
Citra berjalan mendekati meja rias, berkaca melihat tubuhnya yang begitu menawan, walau dengan berpakaian rumahan,. Namun tetap cantik, pakaian apa pun bila di pakai Citra pasti akan tetap cantik.
Selesai memakai krim malam dan bodylotion ke tangan dan kakinya, Citra kembali melihat jas yang terletak di tepi ranjangnya.
Ia berjalan mendekati jas itu, melihat dan membayangkan si pemakai. Begitu tampan dan gagahnya dia saat memakai jas.
Gimana, cara gue mulangin ini jas, ya.
Ada nggak, ya, nyelip gitu kartu namanya di kantong jaanya.
Citra langsung memeriksa jas laki - laki tadi, siapa tau ada kartu namanya tertinggal di saku jasnya.
"Apa ini?" ujar citra merasa heran
"Sepertinya bukan kartu nama deh, seperti kertas gitu."
Citra di buat penasaran dengan isi pada saku jas itu.
Apa sih, yang si kantongin laki - laki itu, kok tebal banget, di bilang sapu tangan nggak mungkin.
Setelah Citra mengeluarkan isi dari sku jas itu, dia di buat terperangak seperti orang yang sedang melihat setan.
Ternyata isi di dalam saku jasnya, uang dolar Amerika.
Citra bengong.
__ADS_1
Nggak bisa berkata - kata lagi.
Bukan dia nggak memiliki uang sebanyak itu, namun dia heran kenap jaman sekarang masih ada laki - laki seteledor dia.
Masa sih, uang sebanyak ini dimasukin ke dalam kantong jas, kenapa nggak pakai tas.
Citra masih terus memeriksa kantong jas itu, siapa tau ada kartu naman di sana.
Citra menemukan kartu nama di dalam jas itu, tertera di sana Namanya. Jonatan fildes seorang CEO di perusahaan Fan Group yang begitu terkenal di kota C.
Citra begitu terkejut setelah melihat kartu nama itu, Fan Group adalah perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran. Bahkan perusahaan itu telah memiliki banyak anak cabang di berbagai kota. Bahkan di luar Negeri pun ada.
Oh, Tuhan kok kebetulan begini, sih.
Udah lama banget gue mau cari tau ini perusahaan.
Ternyata jika jodoh memang nggak akan kemana, hahahaha*........
Citra langsung menghubungi Jonatan si pemilik jas yang ia pakai tadi.
Berdering tandanya masuk.
Nggak menunggu lama akhirnya di angkat.
"Halo......" sapa nya dari ujung telepon
"Halo..... ini dengan Bapak Jonatan?" ujar Citra
"Iya, dengan saya sendiri, ada apa, ya."
"Gue, yang tadi lo tolongin dan lo kasih gue pakai jas lo, maaf gue periksa jas lo. Makanya gue bisa hubungin elu."
"Oh..... Nggak apa - apa kok, santai aja."
"Tapi, gue nggak enak nih, gue nemuin uang di jas lo. Bukan jumlah yang sedikit lagi?"
"Astaga, ya, saya lupa tadi." ujarnya sambil memukul kepalanya pelan namun masih bisa terdengar.
Citra yang mendengar seorang laki - laki menyesali keteledoranya merasa lucu sendiri.
Sambil tersenyum.
"Kalau begitu, uang kamu ini apa saya kirimkan ke alamat kamu langsung apa saya transfer saja. kemungkinan saya nggak bisa bertemu dengan kamu dalam waktu dekat ini, karena saya banyak kerjaan. mengenai jas kamu akan saya laundry dulu, baru saya kirimkan ke alamat kamu, gimana?"
"Terserah kamu aja deh."
"Oke, berarti gue akan kirimkan ke alamat elu, tinggal kirimkan ke gue alamat rumah lo."
"Oke." ujarnya
Itu lah Citra, nggak ada basa - basi jika bicara dengan orang. walau itu lawan jenisnya. Terlalu kaku dia.
__ADS_1