
Sore Hari yang menyebalkan untuk hari ini.
rasanya hari ini cepatlah berlalu menjadi malam, tubuh dan jiwaku merasa lelah.
lelah bekerja, dan lelah menahan hati untuk si paksa mencintai pria.
bernafas pun rasanya tidak mampu, seperti sedang terjepit balok yang begitu besar.
seperti penyakit Asma yang sedang kambuh, sakit tapi tidak terluka.
Ting
Ting
Ada pesan masuk di ponsel pribadi ku, terlihat dati layar aplikasi hijau milik ku, Tagor pengirimnya.
Tagor
[ Hai, Mbak apakah saya menganggu ketenangan Mbak. saya ingin bercerita boleh? 😥 ]
tidak lupa mengirim pesan memaki emoji sedih.
" Dia sedang kenapa, sepertinya sedang bersedih, begitu lah remaja pasti tentang pacarnya ini." citra berusaha menebak
Tidak ingin mengecewakan Tagor, citra membalas pesan Tagor.
Citra
[ Baiklah, kamu bisa menghubungi saya. ]
tidak menunggu lama, telpon gengam milik ku berdering, Tagor yang menelpon.
Tanpa basa basi, Citra langsung mengangkat panggilan itu,tidak inggin membuat si penelpon menunggu lama.
" Hai, Tagor ada apa?" Citra langsung to the poin.
" Hai Mbak, saya lagi kecewa Mbak. nggak tahu mau cerita sama siapa Mbak."
terdengar nada suara Tagor yang bergetar begitu sedih.
" Baiklah, kamu boleh cerita ke saya, tapi tidak di sini. kamu boleh temui saya si restoran yang saya akan kirim alamatnya ke ponsel kamu nanti."
dengan senang hati Tagor langsung mengiyakannya, tanpa berfikir dulu.
Citra tanpa menunggu waktu lagi, dia bergegas mengambil handuk di dalam lemari, masuk ke kamar mandi, membersikan tubuhnya, hanya butuh waktu Limabelas menit saja untuk menyelesaikan mandinya, citra langsung memaki gaun biru tuanya, simpel elegan namun cantik dan nyaman, mengambil alat mek up miliknya, memakai mek up dengan tipis agar tidak terlihat menor.
seseau mek up, citra mengambil ponsel miliknya, mengirimkan lokaaih Restoran yang sudah si boking Citra sebelum mandi tadi.
Tagor yang menerima pesan dari Citra, langsung pergi ke restoran yang sudah di tentukan Citra.
Citra mengambil sepatu helss yang setinggi 7 cm, karena sudah terbiasa citra memakai sepatu helss setinggi itu, dia tidak merasa canggung lagi.
setelah menuruni anak tangga dengan berlari kecil, citra melihat sng mama sedang duduk di ruang tamu.
Mama sedang kedatangan tamu, masih terlihat serius berbincang.
Citra masih setia berdiri melihat apakah perbincangan mereka sudah selesai, agar citra bisa berpamitan kepada sang Mama.
sepertinya Mamanya melihat kedatangan putrinya tadi, sehingga sang Mama mengentikan pembicaraan mereka sebentar.
tanpa menunggu lama Citra langsung berjalan mendekat.
" Ma, Citra mau ijin keluar sebentar ketemu teman, kebetulan juga citra ada urusan di kantor." jawab citra dengan jujur
" Baiklah sayang, kamu hati - hati di jalan, jangan ngebut - ngebut iya." nasehat dari Mama
" Baiklah Ma, Citra pergi dulu."
citra langsung pergi meninggalkan Mama, dengan tamunya.
Perjalanan menuju Restoran yang sudah di pesan oleh Citra, untuk pertemuannya dengan Tagor, makan bersama untuk ke dua kalinya.
Hanya menempuh 20 menit saja, sesampainya Citra di parkiran mobil dengan tergesah - gesa citra berlari kecil menuju pintu masuk restoran itu.
setelah Citra sepenuhnya telah berada masuk di dalam Restoran itu, Tagor langsung melambaikan tangan ya, memberi kode bahwa dia telah berada di sini.
Agar mempermuda citra untuk menemukan Tagor.
__ADS_1
" Maaf telah membuat kamu menunggu lama"
sapa Citra dengan suara yang berat, akibat kelelahan saat berlari di parkiran tadi.
" saya juga baru sampai lagi Mbak, gak usah minta maaf. saya hanya lebih dulu lima menit dari Mbak." balas Tagor dengan tersenyum
" Baiklah, mari kita pesan makanan dulu karena saya belum makan siang." To The poin saja Citra ini.
Tagor langsung mengikuti Perintah Citra, langsung memanggil pelayan.
si pelayan Restoran itu pun datang dengan mbawa Dua menu makanan.
" Silahkan Mbak, Mas nya. mau pesan apa."
Citra dan Tagor masih pokus dengan memilih - milih makan apa yang ingin mereka makan.
si Pelayan dengan sabar menunggu para tamu nya memberi keputusan.
" Saya pesan udang saus tiram, dan sayur nya saya pesan cap cai, pakai nasi putih sedikit iya mas." pesanan Citra
si pelayan mengangguk.
" Dan minumanya saya pesan jus sirsak Iya mas." timpal citra lagi.
" Saya pesan Sop iga iya mas, dan sapo tahu lada hitamnya satu mas. pakai nasi sedikit, untuk minumnya saya pesan. jus jeruk mas."
dengan pelan - pelan si pelayan Restoran mencatat semua pesanan mereka, bahkan mengulang kembali menu pesanan mereka.
si pelayan pun pergi meninggalkan mereka.
" Kamu kenapa tiba - tiba ngajak saya ketemuan." citra mulai mengajak Tagor untuk bicara.
" Saya mau cerita Mbak."
" Terus, kamu mau cerita apa ke saya, apa kamu yakin mau cerita ke saya, bahkan kamu masih dua hari loh kenal sama saya."
" Saya sangat yakin dan percaya kepada kamu Mbak, sebab hati saya bilang Mbak itu orang yang baik."
" Emang kmu tahu dari mana saya orang baik, bahkan kamu kenal saya aja belum lagi."
" Dari Mbak menolong saya satu Tahun yang lalu, saya sudah tahu Mbaknya orang baik."
tidak ada lagi perbincangan di antara mereka, hnya ada keheningan.
mereka mulai menciptakan suasana yang mengundang banyak perhatian para tamu restoran ini.
apa lagi kalau tidak di saat mereka mulai berdoa, dengan keyakinan mereka.
tidak ada yang berani memulai berbicara, mereka hanya fokus untuk mengunyah makanan mereka, wajar saja Tagor dan Citra tidak sempat makan siang di rumah. karena tiba - tiba Tagor menelpon Citra hanya untuk bercerita.
selesai makan, dan menghabiskan minuman yang tersisa.
habis sudah di santap mereka ber dua, menu pesanan mereka, tanpa tersisa.
" Ok, karena makannya sudah habis, kamu boleh memulai apa yang ingin kamu bicarakan ke saya. saya kira kamu sudah memiliki tenaga untuk bercerita keluh kesah mu ke saya."
lagi dan lagi Citra to teh poin, tidak ingin membuang waktunya hanya untuk bercerita omong kosong saja.
" Baiklah Mbak, sepertinya Mbak sangat begitu sibuk, bahkan waktu pun tidak bisa sedikit terbuang buat Mbak."
" Kamu benar, saya hanya menghargai waktu saya, saya hanya mau waktu saya terbuang dengan tujuan yang pasti, bukan sia - sia."
" Satu hari yang lalu, saya di selingkuh in Mbak oleh pacar saya, Apa coba kurang saya mbak, tanmpan iya, dewasa iya, bahkan kaya juga di bilang iya. banyak yang suda saya korbankan ke gadis itu Mbak, bahkan materi suda saya
berikan Mbak."
Tagor berlahan menarik napasnaya dengan berat.
" Dia begitu tega mengkhianati cita saya Mbak, ternyata saya salah menilai dia Mbak."
" Terus kamu sudah cari tahu apa alasan dia buat selingkuh dari kamu, atau kamu sudah tanyakan langsung ke pacar kmu itu." balas citra
" Bukan pacar lagi Mbak, sudah jadi Mantan."
" Iya."
" Saya sudah tanya dan cari tahu Mbak."
__ADS_1
" Terus, hasilnya apa?"
" Dia bilang saya kurang perhatian ke Dia Mbak, bahkan saya tidak sering mengunjungi dia Mbak, itu lah alasan dia buat selingkuh, dia kesepian Mbak. tidak ada yang memanjakan dia."
Citra manggut - mangut mengerti apa yang di maksud dari ucapa Tagor barusan kepadanya.
" Saya hanya bisa bilang ke kamu Tagor, Wanita kalau tertawa, tawa dia lebih ikhlas dari lelaki, tapi klau lelaki itu menangis lebih jujur dari perempuan."
citra terdiam sejenak, memikirkan kata - kata selanjutnya.
" Sabar itu memang sakit, sabar itu memang capek, tapi percayalah sabar itu akan berbuah manis pada saatnya Tagor, tidak dengan dia mungkin dengan orang lain. Tuhan telah memberi rancangan bagi hubungan kamu, mungkin Tuhan telah menunjukan kepada kamu, bahwa dia bukan jodoh terbaik buat kamu."
Tagor mengangguk seakan dia dapat pencerahan dari perkataan Citra.
Memang dia tidak salah memilih Citra untuk bercerita, ini lah cara citra menyikapi persoalan teman nya, dia sabar mendengar keluh kesah dari sahabatnya.
" Kamu saya tantang untuk tebak - tebak kata, jika kamu salah, maka kamu harus ajak saya untuk belanja."
Citra memberi tawara sebuah permainan, agar menghilangkan kesedihan di hati Tagor.
" Baik, saya rajanya buat tebak - tebakan Mbak."
" Ok, Coba Kamu Tebak Iya, apa perbedaan kamu dengan matahari."
Sejenak Tagor sedang melakukan treveling di otaknya, mencari jawaban pertanyaan Citra.
" perbedaan saya dengan matahari, iya matahari terang saya tidak Mbak."
Citra tertawa dengan pelan, takut banyak yang melihat aktifitas apa yang sedang di lakukan sepasang manusia itu, sehingga menimbulkan tawa.
" Salah Tagor."
" Jadi apa dong Mbak." dengan putus asa Tagor menyerah.
" kalau matahari itu bersinar menimbulkan bayangan kamu dari belakang, kalau kamu itu selalu menimbulkan bayangan - bayangan kamu di fikiran ku."
Tagor langsung tersipu malu, wajahnya berubah mera merona, terlihat dari kedua telinganya yang berubah memera, seperti kepiting rebus.
Gombalan itu membuat Tagor lupa akan masalahnya.
Citra memang pintar mencairkan suasana, dia selalu punya cata buat orang yng si sekitarnya tertawa, tersenyum bahkan malu, seperti yang terjadi kepada Tagor saat ini.
" Kamu tebak iya sekli lagi." pintah citra kembali
" Baik kali ini tidak akan ku biarkan Mbak Menag lagi." Tagor sangat antusias.
Citra hanya tersenyum.
" Jika kamu tidak bisa menebak ini, kmu harus jadi bodigard saya untuk belanja."
" hahahaha, iya saya siap Mbak."
" Cecak Apa yang bikin mati."
Tagor kembali tereveling bahkan kepintaran ya saja pun tidak bisa menebak kata yang benar dari pertanyaan citra.
" cecak kelaparan Mbak."
" 😀🤣. kamu salah Tagor."
" Cecak kepanasan."
" salah."
Tagor makin frustasi, dia merasa pria terbodo di dunia ini, hanya berapa kata saja Tagor tidak mampu untuk menebak jawabannya.
" Apa dong Mbak Jawabnya."
" Cecak Napas saat melihat senyum kamu."
keduanya langsung tertawa terpingkal - pingkal,
mengundang banyak mata yang memandang mereka.
bahkan Tagor merasa bahagia hari ini.
dia bersyukur bisa berteman dengan Citra
__ADS_1
bahkan dia tidak menyangka masih ada gadis semenyenagkan Citra