Teman Peria Ku Bukan Jodoh Ku

Teman Peria Ku Bukan Jodoh Ku
23. Memilih pergi sendiri


__ADS_3

sedih tentu pasti, kecewa juga pasti, marah ingin rasanya Citra memukul Roy pada saat itu. tapi dia tidak mampu untuk menatapnya.


Namun rasa itu hanya sebatas teman, tapi tidak bisa di dibohongin, kalau citra itu kecewa.


Mobil sport milik Tedy melaju kencang, meninggalkan gudang tua itu.


Roy yang hanya terpaku melihat kepergian Citra, tidak mampu untuk mengejar.


Bahkan Roy membiarkan Citra untuk pergi, dia tahu citra kini kecewa kepadanya.


Roy juga menyesal atas perbuatannya, tapi dia sudah terlanjur menyakiti wanita yang sangat dia cintai.


yang ada di benak Roy hanya kekacauan, untuk berfikir mencari jalan keluar masalah nya dengan Citra Roy tidak mampu.


hanya ada kebodohan dan penyesalan saja.


*******


Citra yang masih fokus dengan mengendalikan setir mobilnya, sesekali menaikan kekencangan kilometer mobil itu.


kini hatinya sedang dilem, dia harus memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini atau bagaimana.


Citra bingung sangat dilema sekali.


Roy sebenarnya hanya di manfaatkan, namun Roy juga tetap bersalah.


Roy bukan menyelidiki terlebih dahulu, tapi Roy juga harus berbakti kepada orang tuanya.


Wajar Roy terhasut karena sang Ayah, jika itu di posisi Citra, pasti citra juga akan terhasut.


mungkin sama halnya seperti yang di lakukan Roy kepada keluarga Citra.


Deru suara mobil Citra, tidak mengusik pikiran citra yang sedang berkelana.


Namun Roda mobil itu terus melesat kencang, tidak tahu si pengemudi akan berhenti di suatu arah yang mana.


Terus maju berjalan tanpa henti, dan tidak memiliki tujuan yang ingin di tuju.


Citra mengeluarkan telepon genggamnya, membuka layarnya, mencari nama di dalam kontak telpon nya.


setelah dia menemukan Citra langsung menghubunginya.


terdengar suara berdering dari ujung panggilannya, tidak menunggu waktu lama Panggilan dari Citra di terima. Terdengar suara wanita paruh baya. tentu pasti yang sedang mengangkat panggilan dari citra adalah sang Mama.


" Hallo, Ma. Citra hanya ingin memberi tahu, hari ini citra tidak pulang karena harus menyelesaikan pekerjaan di luar kota, besok citra sudah harus menyelesaikan nya Ma."


" Kenapa tiba - tiba sekali sayang, kamu memberi tahu Mama." sapa wanita paruh baya itu


" Sorry, Ma. Citra mendadak kasih tahunya, tadi Citra lupa baru ingat sekarang."

__ADS_1


" Baiklah, kamu hati - hati, jangan ngebut - ngebut bawa mobilnya."


" Iya, Ma. "


" Sayang, kamu berapa lama di sana."


" Kira - kira Tiga sampai Lima hari lah ma, jika cepat selesai bisa cepat pulang juga Ma. "


" Oh, Baiklah sayang. kamu jaga diri baik - baik iya di sana."


" Iya, Ma. I Love You Ma."


setelah memutuskan panggilan nya, citra melemparkan ponselnya ke seberang kursi yang sedang di duduki.


Dia masih fokus untuk melajukan mobil sport milik Tedy.


Citra sangat menikmati hal ini, mungkin dia telah lama tidak melakukan hal ini.


trek di jalanan yang begitu sepi, seperti sedang balapan dengan pembalap senior.


Perbedaanya hanya tidak ada yang melihat aksi ugal - ugalan Citra.


Menempuh perjalanan 3 jam untuk menuju kota C. citra tidak merasakan lelah sedikit pun.


Namun yang lelah bukan fisiknya melainkan Hati nya, pikirannya.


di bawanya banyak hutan, dan pantai terlihat jelas jika masuk kedalam rumah itu, pantai itu tidak jauh dari hutan itu, sekitar seratus meter.


begitu indah, sehingga siapa yang berkunjung ke sana. akan merasa hangat dan nyaman.


Rumah yang begitu mewah, semua dinding terbuat dari kaca yang tebal. hanya di saat malam dinding kaca itu tertutup oleh tirai gorden saja.


ini adalah rumah impian bagi semua orang, ingin memiliki rumah yang nyaman dan hangat untuk di miliki.


namun tidak ada yang tahu rumah ini, hanya Citra yang mengetahuinya.


ini adalah aset berharga bagi Citra, Rumah ini citra lah yang membangunnya dengan tangan ya sendiri, tanpa bantuan dari keluarganya.


Rumah ini sengaja di buat tepat menggantung di atas gunung setinggi Tiga ratus meter ini.


untuk mendapatkan gunung ini, Citra banyak mengorbankan waktu dan uangnya.


semua dia lakukan hanya untuk kesenangan ya sendiri.


bahkan untuk memilki surat ijin dari kota C, citra harus menunggu waktu lama agar bisa membangun rumah impian nya.


********


Kota C. diman tempat persinggahan Citra, melepas beban berat yang dia pikul.

__ADS_1


Citra sengaja memilih kota ini, Kota yang memiliki keindahan Alam, banyak pantai di sana, bahkan banyak pulau yang tidak pernah orang kunjungi.


ada beberapa bangunan di daerah pulau ini, yang sengaja di bangun oleh citra. untuk di tempati para prajurit perangnya.


semu bangunan ini di buat hanya untuk menjaga pulau ini. ada di beberapa titik bangunan itu di buat. mungkin sekitar sepuluh bangunan.


semuanya berjumlah besar - besar, semua seisi hutan ini telah di ubah menjadi hutan buatan. tidak ada binatang buas di sana.


bahkan jika pengunjung datang ke sana hanya untuk bertamu harus memiliki ijin terlebih kepada Tedy.


Tedy adalah orang kepercayaan Citra untuk mengelola hutan ini, bahkan Tedy kepala pimpin perang di hutan ini.


setiap kali citra banyak masalah Citra akan datang ke kota ini, mungkin kota ini memiliki daya pikat tersendiri menurut Citra.


Kota ini banyak membawa pengaruh positif buat Citra.


banyak Karya lukisan citra dapat tercoret di sini, sebuah kertas putih yang kosong bahkan bisa terlihat indah di saat Citra datang ke kota ini.


Itu sebabnya citra menyukai kota ini.


saat ini Citra sedang butuh udara segar, sebab apa yang baru saja dia lalui, telah menghimpit pernapasannya.


Citra duduk di atas tepi gunung itu, masih menyalakan lamu mobilnya, membiarkan mobil itu terus menyala, menjadi penerang bagi nya.


duduk di atas tumpukan bebatuan, memandang ke dapan dengan tatapan kosong.


Lalu citra mengangkat kepalanya melihat langit yang gelap, bertabur bintang menambah keindahan malam itu, terlihat bulan yang hampir penuh. bersinar terang, menerangi seisi hutan itu.


suara angin berhembus begitu halus, menyentuh rambut citra yang terikat rapih. berhembus di selah telinganya menimbulkan sensasi dingin namun nikmat di hati.


Hembusan angin itu mampu mengurangi rasa sakit itu.


Citra masih nyaman dengan berlama - lama duduk di atas batu, sesekali dia memandang lampu - lampu di sekita hutan itu yang menyalah, menerangi jalan menuju rumah para penjaga hutan ini.


banyak buah dan tanaman yang bisa di makan di sana, Citra sengaja menanamnya, agar para prajurit itu hidup sehat.


Kota C ini adalah rumah kedua Citra untuk pulang, bahkan kota ini di sebut kota Rindu oleh Citra.


Dia selalu rindu ingin pulang ke sini, namun pekerjaannya melarangnya untuk pulang, bahkan di saat citra pergi ke Eropa kota ini akan menjadi kota yang pertama Citra rindukan.


Kota yang mampu membuat hatinya hangat, nyaman. berbeda dengan kota dimana tempat dia lahir.


kota ini yang menjadi alasan utama citra ingin pulang.


bukan dengan kedua orang tuanya.


Citra memilih pergi hanya untuk sendiri.


mungkin menyendiri pilihan terbaik bagi citra, agar dia mampu berfikir dingin, agar tidak menimbulkan kesalahan lagi.

__ADS_1


__ADS_2