
Pagi yang indah, hari yang berbeda.
berbeda dari hari biasanya, jika Bang Herman datang dari kotanya mengunjungi Mama, papa. pasti ada keributan yang terjadi.
tapi kini hanya keheningan entah apa yang barusan terjadi aku bahkan nggak tahu.
Mereka semua telah berkumpul di meja makan, sedang menikmati sarapan pagi ini.
" Pagi semuanya." Citra menyapa dengan penuh bahagia
" Pagi sayang." balas mama
tapi berbeda dengan Bang Herman yang hanya terdiam, senyum pun tidak.
' Yah ampun kecut banget tuh wajah, bisa senyum kah nih Abang Herman nih. tegang amat.' Citra hanya bisa mengumpat dalam hati
selesai sarapan, Bang herman tanpa basa - basi memulai pembicaraan.
" Dek, Abang mau bertanya sama kamu."
" Iya, aku tahu apa yang mau Abang tanyakan ke Citra, sabar dulu citra lagi sarapan. nanti kita bahas berdua aja di ruang kerja." balas citra
seakan tahu apa maksud dari tujuan pertanyaan Abang nya.
" Baiklah, ternyata kamu tahu itu."
" Eeemm"
selesai sarapan pagi, citra langsung bangkit berdiri meninggalkan meja makan pergi meninggalkan Bibi yang sedang memberesin meja makan.
Tiba sampai di ruangan keluarga, terlihat Abangnya dan Papa nya sedang berbincang, citra tak ikut serta melangkah menuju mereka, melainkan naik ke atas menaiki anak tangga, membuka ruangan yang tidak jauh dari kamarnya.
Ruangan ini di buat khusus untuk Citra, yang begitu luas sama luasnya dengan kamarnya.
Dia bilang ini ruang perpustakaan impiannya, banyak rak buku di dalamnya. bahkan buku- buku apa pun ada di sini.
terdapat satu meja kerja, yang begitu nyaman, ada sofa di depannya. bahkan semua isi ruangan ini Citra sendiri yang dekor. pakai uangnya sendiri loh.
Herman mengetahui Adik nya telah selesai sarapan, sudah berlalu meninggalkan mereka beberapa menit yang lalu.
setelah berpamitan dengan sang Papa, Herman bergegas menaiki anak tangga, menuju ruangan kerja Citra.
CEKLEK
Ruangan itu terbuka, di sorongnya pintu itu dengan hati - hati, Herman masuk dan menutupnya pun dengan hati - hati. takut yang punya marah.
Tercengang Herman melihat isi dari ruangan adiknya Itu, Interior yang begitu bagus, bahkan di setiap selah- selah bangunan ini sangat menakjubkan. rasanya nyaman berada lama di ruangan ini.
__ADS_1
matanya tertuju dengan semua buku yang tersusun rapi di raknya, bahkan bersih dari debu.
" Bagus banget Dek ruangan kerja kamu, dapat ide dari mana kamu buat kek gini."
" Gak dapa ide dari mana - mana Bang, iya ide sendiri."
" Abang aku deh kamu memang hebat dalam bidang interior. gak salah Papa percayakan kamu sebagai Eksekutif Direktur, habisnya setiap desain kamu akan mengalahkan semua desain - desain para lawan mu." puji Herman
" Biasa aja Bang, itu hanya sebagai hobby saya saja, hobby yang di tuangkan dalam bisnin sendiri."
" Oh iya, Abang baru tahu loh kamu hobby nya di dunia seni begini, kenapa kamu kuliahnya ngambil bisnin, kok tidak ngambil sastra saja." ungkapnya
" Semua itu berkaitan kali Bang, sastra dengan bisnis itu sejalan."
" Iya sih, kamu benar, tapi kamu gak ada niatan gitu buat memperdalam dunia sastra kamu ini."
" Sudah di perdalam kali bang, tuh coba lihat, aku sekolah di Eropa ngambil sekolah apa Coba, iya sekolah ini lah Sastra, jadi udah selesai."
" Emang kamu ngambil jurusan itu papa kasih ijin emang?"
" Papa kasih ijin, asalkan selesai dari sana Citra mau masuk kerja ke kantor dan melanjutkan kuliah di indonesia, iya aku terima perjanjian itu dari Papa, asalkan keinginan ku tersalurkan, kebetulan perusahaan Papa kan di bidang Properti dan instruktur gitu, iya pas banget kan di setiap projek yang ada citra hanya mengoprek - ngoprek sedikit agar lebih menarik di mata kelaen."
" Pantesan Papa selalu menang tender."
" Bukan Papa tapi Aku Bang." bntahku dengan kesal
" tou the poin aja Bang, kedatangan Abang ke sini mau ngapain."
" Abang mau tanya tentang Roy ke kamu Dek?"
" Roy, apa yang mau Abang tanyakan, Sok atuh aku siap menjawabnya."
" sejak kapan kamu pacaran dengan nya."
" Sejak Dua minggu yang lalu Bang"
" Kenapa kamu menutupinya dari kami sih."
mulai serius dan sinis sekali wajahnya.
sepertinya Bang Herman tidak ingin Citra menjalin hubungan dengan Roy.
nampak dari raut wajahnya, yang tidak bersahabat.
" Bang, boleh kah Citra jujur, tapi Abang harus berjanji ke Citra jangan kasih tahu siapa - siapa bahkan kakak ipar sekali pun, cukup hanya kita berdua yang tahu rahasia ini."
" Baik lah, Abang berjanji tidak akan memberi tahu siapa pun bahkan kakak kamu sekalian."
__ADS_1
" Sebenarnya Citra tidak ada persaan sedikit pun ke Roy, tapi Dia sudah berani mengutarakan perasaannya ke aku, aku lihat betul Bang dia tulus, orangnya baik, karna aku sempat janji ke Roy buat berikan aku waktu 1 x 24 jam biar aku menjawabnya. dia memberikan itu. " diam sejenak
kembali Citra mengingat pembicaraannya dengan Roy, yang memicu terjadinya kesalahpahaman itu terjadi.
" Terus, kamu terima cintanya Roy Dek."
" Bang nasi telah menjadi bubur, aku tak sampai hati menyakiti Roy Bang, karna ini semua kesalahpahaman saja."
" Ha, kesalahpahaman apa maksud kamu."
kembali Citra mengingat ponselnya pada saat itu berdering sebelum Roy menelpon ponselnya yang satu lagi.
Citra memiliki Dua ponsel, karena Citra tidak ingin ada yang tahu nomor pribadinya.
panggilan Dari Dea masuk sekretaris Citra ingin memberi laporan, tapi Citra menjedanya terlebih dahulu, karna ponselnya yang lain berdering.
citra mengangkatnya dengan bersamaan.
" Dek, " suara Herman memanggilnya membuyarkan lamunan Citra.
" Iya Bang."
" Kok bengong sih, lanjut ceritanya." di to dong Herman yang masih setia menunggu cerita sang Adik.
" Kebetulan Dea pada saat itu Nelpon ke ponsel kerja ku, ingin memberi laporan seputar kerjaan, tiba - tiba Ponsel pribadi ku berdering Roy yang menelpon pada saat itu, sebentar aku bicara dengan Roy, kebetulan Roy menagi janji ku, Aku bilang tunggu sebentar. mungkin dia tidak mendengar ucapan ku, karna aku masih fokus mendengar ucapan Dea sekretaris ku, aku memberi jawaban iya aku menerimanya nanti aku buka email mu yang maauk, ternyata dia hanya mendengar kata aku menerimanya Bang, setelah telepon Dea terutus, aku mendengar sorakan dari Roy dia kegirangan Bang."
" Terus, Dek"
"Terus aku tanya Dia Bang, kamu kok Kegirangan gitu Roy, dia bilang tentu saya girang kamu telah menerima cinta ku."
" hahahaha, jadi apa kamu bilang ke dia"
" Kapan aku bilang kek gitu, citra tanya Bang dia bilang barusan kamu bilang aku menerimanya. setelah aku lihat dia senang banget Bang, aku langsung terdiam tidak ingin menyakiti perasaannya Bang."
" Iya Abang tahu siapa Adek bang ini, udah cantik baik lagi. pantesan Roy tergila - gila sama kamu Dek."
" Tapi iya Bang, setelah aku di anggap menerima cinta nya Roy makin hari makin aneh tau Bang."
" Iya jelas lah aneh, kebanyakan kaum pria itu kalau udah punya pacar, maunya sayang - sayangan tahu Dek."
" Entah lah Bang, aku jadi pusing, tapi Abang janji iya jangan kasih tahu siapa - siapa. awas aja kalau ada yang tahu aku pecat jadi Abang."
" Widih bakal amat Neng."
Citra berusaha untuk jujur, karena memendam itu sendiri begitu sakit.
rasanya mempertahankan rasa orang buat kita yang tidak punya perasaan itu sangat sulit.
__ADS_1