Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Nayla Kerasukan?


__ADS_3

Sundari merapatkan tubuhnya pada Nayla, wajahnya terlihat pucat pasi ketakutan. Keenam anggota kepolisian saling memandang begitu juga dengan dokter Putra. 


"Korban kelima datang," 


Gumaman Nayla cukup membuat penasaran anggota kepolisian. Budi menggeser duduknya mendekat pada Nayla. 


"Maksud mbak Nayla gimana ini? Korban gantung diri jelas tiga orang kenapa mbak bilang empat?"


"Karena yang keempat hanya sebagai pelengkap, tapi mereka saling berkaitan. Bu Mirah mengetahui apa yang dilakukan korban-korban itu." Nayla kembali menjawab dengan sikapnya yang aneh.


Dokter Putra yang merasa Nayla bersikap aneh, memperhatikan Nayla. Tak biasanya Nayla berbicara tanpa memperhatikan lawan bicara.


Dokter Putra mendekati Nayla, "Nay?"


Nayla tak merespon ia terus menunduk, Sundari yang semula merapat pada Nayla kini ketakutan dan mendekat pada Anton. Ia sengaja menarik tangan Anton hingga bagian dadanya menyentuh lengan polisi muda berpangkat Ipda.


Anton sontak menggaruk kepalanya, ia melirik ke arah Sundari yang sengaja menggesekkan perabot depannya pada lengan sang polisi. Siulan tanpa suara dari rekan lainnya membuat Anton kesal. Fokusnya pada Nayla terganggu dengan ulah Sundari yang kini melirik ke arahnya dengan tatapan menggoda.


"Mbak, pegang sih megang tapi please jangan gerak-gerak bisa? Saya gemetar ini mbak, takut khilaf!" kata Anton disambut kekehan tertahan dari rekan lain.


"Ssst, Ton bisa diem nggak sih lu!" Budi protes karena perkataan Anton mengganggunya.


"Sori Bud, amin gue kagak nahan juga kalo begini caranya!"


"Ehem!" Dokter Putra berdehem keras hingga Anton dan Budi berhenti bicara.


"Nay, kamu kenapa?" Dokter putra kembali bertanya, ia setengah berjongkok dan melihat mata Nayla yang terpejam.


"Astaghfirullah," 


"Kenapa dok, kok nyebut gitu?" Budi penasaran.


Dokter putra menghela nafas berat. "Dia kambuh lagi."


"Maksud dokter, Nayla sakit?" Lelaki muda berkaos coklat yang bertuliskan anggota kepolisian itu kembali bertanya.


"Nayla itu sedikit berbeda mas, di sepertinya … kembali kemasukan." terang dokter Putra.


Budi dan anggota lain saling memandang begitu juga dengan Sundari.

__ADS_1


"Ehm, saya panggilkan mas dukun Joko gimana?" Sundari menawarkan diri untuk membantu Nayla.


"Nggak perlu biasanya Nayla bisa lepas sendiri kok. Kita tunggu saja." Dokter putra menolak halus.


Sundari cemberut usahanya untuk pergi ke rumah mas dukun Joko tersayangnya gagal, padahal tadinya ia berencana mengajak salah satu dari polisi muda itu untuk mengantarkannya. Lumayan bisa berduaan sejenak, begitu pikir mesum Sundari.


"Nay, udah suruh dia pulang!" Dokter putra menyentuh tangan Nayla yang terasa dingin.


"Temukan sumbernya, jika tidak akan semakin banyak korban berjatuhan. Dendam harus diselesaikan, api harus dipadamkan." Nayla kembali berkata dengan jelas, ia memberi petunjuk pada para petugas.


"Hati manusia penuh dendam bersembunyi di balik topeng pemiliknya. Berhati hatilah dan waspada akan musuh dalam selimut."


Semuanya saling memandang dalam diam. Dokter Putra membantu Nayla untuk bisa menguasai dirinya.


"Ayo Nay kembali, jangan biarkan mereka menguasai mu terlalu lama. Badan kamu bisa sakit nanti."


Nayla terdiam sejenak, menarik nafas panjang lalu perlahan menegakkan punggungnya. Matanya perlahan terbuka, dan menatap sang ayah.


"Ada apa, Yah?" 


Dokter putra tersenyum dan menggelengkan kepala. Nayla menatap yang lain, lalu bertanya pada ayahnya. "Hmm, apa Nayla kambuh lagi Yah?" Kali ini dokter putra mengangguk. "Maaf." sesal Nayla.


"Mbak Nay kok bisa kerasukan gitu? Apa punya six sense?" tanya Budi setelah Nayla berhasil mengontrol dirinya.


"Kamu nggak sadar beneran?" Budi bertanya lagi karena dibuat sangat penasaran dengan apa yang baru terjadi.


Nayla menggeleng, "Taunya kepala berat, kayak didorong aja gitu terus udah deh, denger omongan tapi aku nggak bisa bicara, semuanya diluar kendali."


"Tapi kamu denger kita ngomong?"


"Denger, tapi badan aku nggak bisa di kontrol. Kalo bergerak ya bergerak dengan sendirinya." Nayla menjelaskan sedikit.


"Siapa memang yang masuk ke badan kamu? Kamu tahu?" xecar Budi.


Nayla menghela nafas panjang, "Yang tadi mirip banget mukanya sama aku, masih muda cuma wajahnya dingin pucat nggak ada ekspresi. Kalau diperhatikan serem meski berwajah normal."


Sundari mengulurkan segelas air pada Nayla, "Minum dulu mbak!"


Nayla menerimanya dan meminumnya perlahan, ia mendengar perkataan sosok yang beberapa kali menguasai tubuhnya. "Dendam harus dituntaskan, api harus dipadamkan." gumamnya lirih.

__ADS_1


"Apa kamu tahu artinya?" Budi bertanya dan Nayla menggeleng.


Nayla kembali meminum air yang diberikan Sundari hingga tak bersisa. Dokter muda itu menoleh ke arah wanita berbadan sintal yang masih betah berdiri disampingnya.


"Mbak, tiga korban ini kan sama-sama kerja di Wak Dadan apa ada yang naruh dendam sama mereka? Mbak Sundari kan pacarnya mas Sukir, pernah nggak dia cerita tentang keluarga Wak Dadan?"


Sundari mengingat ingat perkataan Sukir yang sempat membuatnya bingung.


"Hhm, semalam sebelum dia gantung diri …,"


Sundari kemudian bercerita tentang Sukir yang sangat gelisah malam itu hingga pergumulan basah mereka pun harus berakhir cepat. Sukir terlihat aneh dan sesekali mengintip dari balik jendela. Setiap Sundari bertanya jawabnya selalu sama, ada yang mengikuti dan memperhatikan dirinya.


Sukir juga sempat menceritakan jika dia dan beberapa karyawan Wak Dadan memiliki rahasia besar. 


"Rahasia besar gimana? Apa berhubungan dengan istri ketiga Wak dadan?" cecar Nayla tak sabar.


"Hhm sepertinya sih begitu mbak, istri ketiga Wak Dadan itu orangnya aneh. Cantik sih tapi seperti yang saya bilang dia punya ritual khusus biar cantiknya awet. Dibalik sifat baik dan pemalu itu dia sebenarnya berbahaya mbak!" jawabnya berapi api.


"Berbahaya gimana?"


"Tukang main santet!" Sundari menjawab tegas.


"Hah!" semua yang ada di ruangan terperangah.


"Dia munafik, nggak cinta sama juragan Dadan tapi menjalin hubungan sama lelaki lain. Mana dukun lagi mbak, saingannya mas dukun Joko!"


"Lelaki lain? Kamu kenal?" tanya Nayla penasaran tapi Sundari menggelengkan kepala.


"Sukir nggak pernah bilang siapa namanya, dia cuma bilang dukun itu salah satu pemuda desa ini. Mereka gila katanya mbak, main gituan dimana aja!"


"Eeh, gituan itu gimana sih maksudnya?" Nayla bingung sementara yang lain cengengesan menahan tawa.


"Ccck, mbak dokter belum kawin jadi nggak paham kalo aku jelasin juga! Beginian ini lho mbak!" Telapak tangan Sundari saling menempel dan bergerak pelan seperti orang menepuk.


Nayla mengerutkan kening membuat Budi tertawa. "Masa kamu nggak paham juga Nay?"


Nayla berdecak kesal, ia pun mengabaikan informasi itu ia lebih tertarik bertanya hal lain. "Bu Mirah, apa hubungannya sama yang lain?"


"Bulek Mirah ya, dia kakak kandung Adi. Dulu dia bekerja sebagai pembantu istri Wak Dadan yang pertama."

__ADS_1


Nayla menatap Budi dengan senyuman, "Mereka saling terkait bukan?"


"Aku rasa kalian lebih baik menunda keberangkatan. Besok bakal ada kehebohan luar biasa yang terjadi. Aku yakin korban selanjutnya sudah menjadi mayat!"


__ADS_2