Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Tegar 2


__ADS_3

Tegar duduk termenung dalam gelapnya malam di tepian sungai berbatu. Ia tak peduli dengan dinginnya air sungai yang menyentuh kulitnya. Ia juga tak peduli dengan tubuhnya yang mulai menggigil kedinginan. Temaram sinar bulan menyinari Tegar yang meratapi kehidupannya.


Ditinggalkan sang ayah sejak kecil membuat Tegar harus berjuang lebih dibandingkan dengan anak seusianya saat itu. Mbok Dar kala itu bekerja serabutan demi menghidupi mereka. Menjadi buruh cuci, pekerja lepas di kebun kentang milik juragan Dadan, hingga akhirnya dipercaya untuk menjadi abdi ndoro putri.


Tegar merantau ke kota saat berusia tujuh belas tahun. Ia nekat bekerja karena tak tega melihat ibunya terus menerus bekerja demi dirinya. Tegar ingin membuat ibunya bahagia, ia pun mengubur dalam-dalam keinginannya untuk meneruskan ke perguruan tinggi.


Sesampainya di kota Tegar berjuang sekuat tenaga untuk mendapatkan pekerjaan. Berbekal ulet, jujur dan keinginan kuat untuk membahagiakan sang ibu, Tegar akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai buruh pabrik. Disanalah ia bertemu dengan kekasih hatinya, Najwa.


Kebahagiaan yang ingin diberikan Tegar pada sang ibu nyaris sempurna dengan rencana dirinya yang akan menikahi Najwa, sayang gadis pujaannya itu mengkhianati janji mereka di detik terakhir Tegar akan melamarnya. Najwa memilih menerima pinangan sahabat Tegar yang jauh lebih mapan dengan sokongan kedua orangtuanya.


Tegar yang sakit hati dan frustasi memilih berhenti dan pulang ke desanya. Mbok Dar dengan sabar membesarkan hati putranya yang hancur karena cinta. Ia pun mengenalkan Tegar pada juragan Dadan. Melihat keuletan Tegar lambat laun pemuda itu dipercaya menjadi mandor. Tegar bahkan dibekali kemampuan berdagang oleh Juragan Dadan.


Begitu percayanya juragan Dadan pada Tegar hingga akhirnya lelaki pemilik separuh lebih perkebunan desa itu memberitahukan pada Tegar rahasia dibalik kesuksesannya.


Juragan Dadan menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengabdi pada Nyai Kembang. Setiap bulan purnama ketujuh, juragan Dadan harus menyiapkan tumbal ayam jantan hitam untuk sang nyai. Ritual khusus yang selalu dilakukan di sebuah goa tersembunyi di dalam hutan.


Pada malam yang sudah ditentukan, Tegar mengantar juragan Dadan untuk melakukan ritual. Malam itu, untuk kali pertama Tegar ikut melakukan ritual bersama Juragan Dadan. Tegar terbujuk rayu oleh juragan Dadan untuk mengabdi pada Nyai kembang. Keinginan untuk sukses dan mendapat kekayaan demi mbok Dar, membuat Tegar rela mengabdi pada sang Nyai.


Bukan hanya Tegar, orang-orang disekitar juragan Dadan pun akhirnya terpengaruh. Sukir, Adi, dan juga Eka adalah tiga dari beberapa pengikut juragan Dadan. Pemilik ratusan hektar kebun sayur mayur itu akhirnya membentuk satu kelompok pengabdi setan yang memuja Nyai Kembang. 


Sayangnya ketika manusia mendapatkan apa yang menjadi keinginannya mereka seringkali lupa dengan janji yang telah terucap. Dari sekian banyak pengikut hanya Tegar yang masih setia memberikan sesembahan untuk sang Nyai. 


Nyai Kembang murka, ia mengutus Tegar untuk memberikan peringatan pada juragan Dadan tapi tak diindahkan. Tegar juga memperingatkan Sukir, Adi dan Eka sebelum mereka akhirnya tewas gantung diri. 


Setelah menikahi Kumalasari, Juragan Dadan perlahan tapi pasti mengalami kemunduran. Nyai Kembang tak terima jika pengikutnya mengkhianati. Sosok lelembut berusia ratusan tahun itu mulai menarik satu persatu penjagaannya di kebun milik Juragan Dadan. Sukma sang juragan pun perlahan digerogoti oleh makhluk hitam besar berbulu sebelum akhirnya ia tewas setelah mengkonsumsi obat yang diresepkan dokter Arini.


Tegar meratapi nasibnya, meski dirinya sukses menjadi pengusaha muda dan dipercaya sebagai ketua kelompok tani hidupnya tak pernah bahagia. Tegar tak pernah tenang setiap malam, ia mengalami insomnia yang disembunyikan dari mbok Dar.


Pertemuannya dengan Nayla membuat hatinya kembali menghangat setelah lama membeku. Tapi Nyai Kembang tak pernah membiarkannya mendapatkan cinta. Tegar telah mengikatkan diri pada sosok sang Nyai. 


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

__ADS_1


Tegar menatap jasad pak Agus yang tergeletak kaku di tepi sungai. Ia menarik tubuh kaku pak Agus lalu menghanyutkannya ke sungai. "Maaf, semua harus berakhir seperti ini."


Tegar membasuh tubuhnya dengan air sungai, membersihkan cipratan noda darah yang menempel di tubuhnya. Dengan hati tak karuan Tegar berjalan masuk menuju hutan Pinus. Ada sebuah pondok kecil disana, pondok yang biasa digunakan Sundari dan Slamet bertemu dengan orang-orang suruhannya.


Tegar mengetahui pondok itu saat ia mengikuti kawanan penyerang mas dukun Joko. Ia juga mengetahui ada wanita misterius lain yang mengawasi komplotan Sundari dari kejauhan. Tegar diam-diam mengamati setiap pergerakan di desanya. Nyai Kembang selalu menuntunnya untuk bertindak. Begitu juga dengan malam ini, bisikan tanpa wujud membimbingnya kembali ke pondok kecil di hutan Pinus.


Tegar sengaja tidak menyalakan lampu pondok, ia tak ingin siapa pun mengetahui keberadaan dirinya malam ini. Tegar ingin memeluk dirinya sendiri dalam sepi. Ini kali kedua ia membunuh orang dengan tangannya sendiri. Untuk beberapa saat lamanya Tegar duduk terdiam dan memejamkan mata. Menikmati keheningan malam, bunyi serangga dan binatang nocturnal lain. Tegar masih ingin berdiam diri di dalam pondok tapi pilihan harus dibuat.


Tegar, pemuda berkulit eksotis itu dimasa lalu pernah melakukan satu kesalahan. Dengan tangannya sendiri Tegar membunuh seseorang yang seharusnya ia lindungi, dan kini hal itu terulang. Pak Agus meregang nyawa ditangannya, meski dalam pengaruh Nyai Kembang tetap saja Tegar lah pelaku utamanya.


Tegar melepas pakaiannya yang kotor dan basah. Ia menemukan kaos dan juga celana pendek di dalam lemari kayu. Untuk sesaat dia berdiri dan termangu ditempatnya berdiri.


"Pakaian ini harus dimusnahkan, meski pada akhirnya aku juga akan berakhir tragis tapi setidaknya aku bisa mengulur waktu sejenak."


Ia keluar pondok menata potongan ranting Pinus dan membuat api untuk menghangatkannya. Setelah api cukup besar pakaian kotor milik Tegar tadi pun dibakar. Ia juga menambahkan minyak ke dalam api agar kobaran membesar dan membiarkan api menjilat pakaiannya yang basah hingga hangus terbakar.


Tegar menatap berkas ditangannya, rekam medis milik juragan Dadan yang dicuri pak Agus saat dokter Putra masuk ke dalam kamar. Tegar mengetahui rencana pak Agus saat ia melihat suster Indah membawa berkas rekam medis itu. Kedatangan pak Agus yang membawa makanan dijadikan alasan untuk mencuri rekam medis itu.


"Ini adalah kunci untuk menyeret dokter Arini, juragan Dadan mati karenanya."


Tegar membuka lembaran kertas itu, membacanya sejenak lalu kembali merapikannya. "Haruskah aku memakainya untuk menyelesaikan semua masalah rumit ini?"


Tegar menatap lidah api yang terus menjilat ranting Pinus yang kembali ditambahkan Tegar. Ia menghela nafas berat, dimatanya terus membayang wajah dua orang yang terbunuh olehnya. Ada rasa bersalah dan kecewa pada dirinya sendiri.


"Aku lelah," ia bergumam seraya mengusap kasar wajahnya.


"Lelah?" 


Suara lembut wanita yang sangat dikenalnya terdengar, wangi bunga khas tercium. Tegar tahu siapa yang datang, bulu halusnya meremang seketika saat sapuan halus tangan menyentuh bahunya. Dua tangan berjari lentik kini mencengkeram Tegar dari belakang.


"Lelah katamu?" 

__ADS_1


Wajah Nyai Kembang muncul dan berbisik di telinganya. "Jika kau lelah, berarti kau memilih jalan kematianmu sendiri."


Tegar menahan diri, ia memejamkan mata sejenak. Nyai kembang berjalan memutarinya lalu berdiri tepat dihadapannya. Sosok ayu Nyai Kembang dengan kebaya merah ketat hingga menonjolkan bagian depan tubuhnya yang membusung sempurna menyeringai pada Tegar.


"Bukankah sudah terlambat untuk menyadari kesalahanmu Tegar?"


Tegar menelan ludah, ia menatap sosok lelembut ayu didepannya itu. "Ya Nyai, aku tahu."


Nyai Kembang menunjuk berkas ditangan Tegar. "Berikan berkas ini pada dokter itu, biarkan dia menyelesaikan masalah dokter Arini. Anggap saja ini hadiahku padanya, dia berhasil menembus penjagaanku padamu. Sesuatu yang … mengejutkan." 


Nyai Kembang tersenyum misterius pada Tegar. Ia kembali berbisik pada pemuda berdada bidang itu. "Peringatkan dia untuk tidak mencampuri tugasmu, jika tidak aku tidak akan segan untuk … membunuhnya!"


"Jangan nyai, tolong jangan bunuh Nayla!" mata Tegar beradu dengan Nyai Kembang sesaat.


"Waah apa ini? Kau mencintainya?" Nyai kembang membaca isi hati Tegar, "Sudah kuduga ini akan menjadi sangat menarik!"


Nyai kembang menjauh dan tertawa untuk beberapa saat. "Permainan yang semakin menarik, apa aku harus mengambilnya juga untuk menemanimu?"


"Tidak, jangan Nyai!"


Sang Nyai kembali tertawa melihat wajah Tegar yang memucat. 


"Kenapa sekarang Nyai? Kenapa setelah lima tahun?" Tegar memberanikan diri untuk bertanya pada sosok lelembut di depannya.


Nyai kembang berhenti tertawa, ia berbalik dan menatap tajam Tegar. "Karena batas waktunya telah berakhir, dan aku telah menemukan manusia yang akan aku jadikan pengikut baru ku."


"Pengikut baru? Siapa?"


Nyai kembang mengulum senyum, "Lakukan saja tugasmu, dan aku akan melakukan tugasku." tawanya kembali terdengar memecah kesunyian hutan.


Nyai kembang kembali menghilang dalam kelamnya malam. Tegar termangu dan kembali menatap catatan rekam medis milik juragan Dadan.

__ADS_1


"Semoga ini bisa menebus kesalahanku dimasa lalu. Aku tak berharap untuk dimaafkan tapi setidaknya, sebelum aku mati ada satu kebaikan yang bisa ku perbuat."


__ADS_2