
Nayla tergolek lemas tak berdaya di dalam kamar mas dukun Joko. Budi yang panik segera menggendongnya keluar ruangan. Nayla membutuhkan udara segar untuk mengembalikan kesadarannya. Mbok Parmi yang tergopoh gopoh mendekat segera membantu Budi, memberikan minyak kayu putih di pelipis dan juga hidung Nayla.
"Walah, mas polisi ada apa ini kok mbak dokter semaput (pingsan)?"
"Nggak tau juga mbok, mungkin nyium bau-bau ajaib dikamar sana!" jawab Budi khawatir sambil menepuk nepuk pipi Nayla.
"Nay, bangun Nay! Yaelah dokter satu ini demen bener pingsan sama kemasukan setan! Udah kek apa aja, tapi dilihat lihat kok cantik bener ya." Budi mengoceh sendiri, mendengar itu mbok Parmi hanya menggelengkan kepala.
"Mas polisi iki yo aneh, wong semaput malah disenengi. Lha mbak dokter kan yo pancen ayu mas polisi!"
(Mas polisi ini aneh, orang pingsan malah suka. Lha mbak dokter kan memang cantik mas polisi!)
Budi cengengesan apalagi mbok Parmi memukul lengannya dengan kain lap yang selalu ada di bahu kirinya.
"Mbok, itu kamar kok masih ngebul asapnya? Apa ya ada yang pakai ruangan itu selain mas dukun Joko? Mana ada sesajen baru lagi, buat apaan sih mbok?"
Mbok Parmi menoleh ke arah kamar khusus yang masih terbuka. "Oh itu, tiap hari simbok yang kasih menyan buat jagain mas dukun, biar hantu-hantu nggak pada ngamuk. Semalam ada yang minta dibuatkan sesajen sama simbok. Ya udah tadi pagi simbok bikinkan itu."
"Oh gt, kamarnya selalu gelap mbok? Kenapa?" Budi pura-pura tak mengerti.
"Mas polisi ini pinter tapi bodo, ya dinyalakan kalau ada pasien kalo nggak ada yo kamar'e mati. Kalo tetep nyala sing nunggoni iso ngamuk mas polisi. Mas polisi mau, njenengan gendong demit sewayah wayah (setiap waktu)?"
Budi terkekeh geli, melihat ekspresi mbok Parmi yang menggerutu. "Memang yang nunggu siapa? Mbok pernah liat?"
"Pernah, bulunya banyak sebadan, tinggi gede, ambune mas persis koyo cemceman banyu kumbahan seminggu, buadheg tenan!"
Budi pun tersenyum masam, membayangkannya saja ia ngeri untung di dalam kamar tadi Budi tak melihat sosok mengerikan itu. Nayla mulai bergerak lemah, kepalanya terasa berat dan pusing.
"Alhamdulillah, pusing nggak?" Budi bertanya setelah membantu Nayla duduk.
"Sedikit, maaf ya jadi ngerepotin." Nayla meminum air yang diberikan Budi. "Aku udah bilang kan jangan ke sini."
Mata Nayla mengedar ke segala arah, ia takut sosok berbulu yang menyukainya itu kembali menampakkan diri.
"Mbak dokter takut kenapa? Sama si gondrong itu ya, yang kemarin pegang kaki?" tanya mbok Parmi dengan senyum misterius.
__ADS_1
Nayla terkejut, "Lho kok mbok bisa lihat?"
"Saya ini jadi pembantu mas dukun dah lama, mata batin saya dulu dibuka sama mas dukun biar bisa bantuin kerjanya."
"Kalo gitu mbok tahu kenapa sosok itu deketin saya?" Nayla penasaran.
Mbok Parmi tiba-tiba saja terdiam, wajahnya terlihat serius menatap Nayla membuat dokter muda itu merasa tak nyaman. Mbok Parmi mendekatkan wajahnya pada Nayla, mengamati dan mengendus bak hewan yang membaui mangsanya. Nayla bergeser dari duduknya, ia panik.
"Mbok, kenapa gitu ngeliat saya?"
Mbok Parmi mulai bertingkah aneh, mengeluarkan geraman lirih. "Wangi, kowe wangi!"
"Mas Budi!" Nayla ketakutan, ia segera berdiri dibalik tubuh mas Budi menyembunyikan dari makhluk yang sedang merasuki mbok Parmi.
"Mbok, eling mbok! Sadar, kita kesini mau cari informasi aja. Nggak pake kerasukan segala lho request-nya mbok."
Budi pasang badan melindungi Nayla yang semakin erat memegang lengannya. Nayla tak berani melihat ke arah mbok Parmi, kelebatan makhluk itu terasa menekannya dalam energi aneh. Mbok Parmi menggeram sejenak lalu ia menarik nafas panjang sebelum kembali normal.
"Maaf, dia pengen ketemu mbak dokter. Dia ini yang suka bantuin mas dukun, dia ditarik dari pohon besar di kebun rumah Wak Dadan." Mbok Parmi mengatur nafasnya sejenak.
Budi dan Nayla saling memandang, "Dokter Arini?" Nayla memberanikan diri bertanya.
"Iya, mas dukun Joko dulu suka sama dokter Arini. Entah gimana dokter Arini itu bisa buat mas dukun jatuh hati. Otak mesumnya berhenti pas liat dokter Arini. Simbok baru kali ini liat mas dukun matanya gak jelalatan lihat cewek." terang mbok Parmi.
"Terus kenapa mas dukun nggak pake pelet aja buat menaklukkan dokter Arini? Kan bisa, nggak repot, langsung jadi lagi?"
"Saya juga tadinya nyaranin gitu, wong dukun kok ora iso melet iku piye? Tapi mas dukun menolak mentah-mentah, dia mau dokter Arini jatuh cinta apa adanya nggak dibuat buat."
"Mas dukun itu memang playboy, mesum, penjahat kelamin, semua janda sama gadis yang jadi kembang kembangan desa sudah pernah di cobain. Tapi pas ketemu dokter Arini, mas dukun kayak kethek di tulup mbak. Jegeger meneng wae malah sawane metu!"
(Berdiri diam saja malah penyakitnya keluar)
"Eh, semua janda sama gadis? Widih enak dong, saya juga mau tuh!" celetuk Budi sambil cengengesan.
"Iish, mas Budi!" Nayla memukul ringan tangannya. "Pencitraan dikit kenapa sih!"
__ADS_1
"Maaf, terus mbok gimana ceritanya sampai mas dukun kena serang orang-orang itu?" kini Budi ganti bertanya.
"Mbok juga kurang paham, tapi pas mbok denger salah satunya bilang 'salam dari ndoro putri' saat itu juga mbok tahu itu pasti suruhannya Mbah Anto!"
"Kenapa nuduh Mbah Anto?" Budi bertanya lagi.
Mbok Parmi menghela nafas berat, ia lalu bercerita bahwa dulunya Mbah Anto dan mas dukun Joko sama-sama menuntut ilmu perdukunan di salah satu padepokan ilmu kanuragan. Mereka bersahabat, tapi kemudian pecah gara-gara wanita. Mereka sering kali menyukai gadis yang sama.
Puncak keributan terjadi sewaktu mereka hendak lulus dari padepokan. Mbah Anto menyukai anggota baru yang sedang didekati mas dukun Joko. Keributan besar terjadi hingga akhirnya Mbah Anto bersumpah tidak akan membiarkan mas dukun hidup dengan cinta.
"Sebentar mbok, Mbah Anto itu masih muda?" tanya Nayla mengerutkan dahi.
"Masihlah, seumuran mas dukun Joko baru tiga puluh tahun mbak!"
Jawaban yang sangat mencengangkan, "Masih muda dipanggil Mbah? Lucu bener."
"Buat penggiat ilmu begitu panggilan Mbah kesannya lebih mumpuni aja Nay." terang Budi yang sedari tadi berdiri sambil menatap satu persatu wajah dalam foto di dinding.
Budi berhenti di satu foto lalu bertanya pada mbok Parmi, "Ini foto siapa mbok?"
"Oh itu foto kepala desa sebelah, dia pernah minta bantuan mas dukun buat lancarin pemilihan kades. Tapi sayang, dia udah mati!"
"Hah, mati? Kenapa?"
"Bunuh diri, mas dukun Joko sampai stres kasian dia karena dituduh bikin orang mati. Tapi untungnya memang si kades gableg itu bunuh diri bukan dibunuh pake santet dan yang lainnya." jawab mbok Parmi.
"Mbok belum jawab apa hubungan ndoro putri sama Mbah Anto dan juga mas dukun Joko." Nayla menyela, ia penasaran bagaimana bisa ndoro putri atau nyi melati terbawa dalam kisruh dua dukun kesohor di desa.
"Ndoro putri itu pacar gelap Mbah Anto, dan dia dendam karena mas dukun Joko sempat kirim guna-guna untuk ndoro putri."
Budi dan Nayla saling memandang, mereka tak menyangka jika kasus kematian misterius warga desa terus melebar. Nayla lalu menghubungkan semua peristiwa yang berkaitan dengan Mbah Anto dan juga mas dukun.
"Jangan-jangan dokter Arini menghilang juga karena dendam Mbah Anto sama mas dukun Joko? Kan mereka bersaing, Mbah Anto dendam, dan dia tahu kalo dokter Arini adalah orang yang dicintai mas dukun Joko."
__ADS_1