
Seorang lelaki muda duduk bersila di sebuah ruangan, matanya terpejam, sesekali dadanya naik turun teratur dan terkadang menarik nafas panjang lalu dihembuskan pendek. Dialah lelaki yang dikenal dengan sebutan Mbah Anto.
Usianya baru menginjak tiga puluh tahun tapi jangan tanyakan sepak terjangnya di dunia gaib. Sejak berumur belasan tahun Mbah Anto sudah bergelut dengan hal berbau mistis. Kemampuannya dinilai sebagai bakat alam oleh gurunya yang juga sama dengan guru mas dukun Joko.
Jika dilihat lihat wajahnya tampan rupawan, berkulit bersih dengan alis tebal dan kumis tipis menghiasi bibir tipis merah mudanya. Meski diberi gelar dukun tapi Mbah Anto tetap menjaga pola makan sehat dan tidak merokok. Ia tetap menjaga kebugaran tubuhnya dan itu terlihat dari dada bidang dan tegap serta bobot tubuh idealnya.
Siapa pun tak ada yang mengira jika Mbah Anto adalah seorang praktisi supranatural. Dandanannya terlalu metropolis untuk seseorang yang bergelar dukun. Rambut cepaknya tertata rapi dengan medium wax. Mbah Anto membuka mata perlahan, ia mengatur nafasnya sejenak.
"Sial, dia lepas!" tangan Mbah Anto mengepal, meski beberapa malam ia selalu memanggil Arini untuk kembali tapi usahanya tak juga berhasil.
"Jo, Paijo!"
"Nggih ndoro!" sahut seseorang diluar sana dan segera masuk dengan terburu-buru. "Ada apa ndoro?"
"Coba kamu cari informasi di desa, siapa tahu Arini pulang ke desa sana!"
"Ehm, maaf ndoro sejauh ini saya nggak melihat ada warga yang menemukan den ayu. Tapi kemarin saya bertemu Slamet, katanya dia ketemu den ayu di sungai." jawab Paijo takut-takut.
"Apa?!" Mbah Anto berdiri dengan terbelalak, "Terus dimana dia?"
"Nganu ndoro … den ayu, hhm dia … hanyut terbawa sungai ndoro. Kata Slamet den ayu, mati."
"Aaargh! Slamet kurang ajar, kenapa dia nggak bantuin Arini dan bawa dia kemari lagi!" hardiknya pada asisten bertubuh ceking itu.
Paijo mengkerut ditatap bengis oleh Mbah Anto. Tak ada lagi wajah tampan nan rupawan, ia mendadak berubah menakutkan. Wajahnya memerah menahan amarah.
"Maaf ndoro, saya juga nggak paham. Apa mau saya panggilkan Slamet kesini?" suara Paijo gemetar ketakutan.
"Ya, panggil dia kesini sama wanita gatal itu! Mereka harus bertanggung jawab! Sudah aku bayar mahal eh malah semua gagal!"
Yah, Mbah Anto memang mengetahui usaha pembunuhan mas dukun itu gagal. Mbah Anto menyimpan dendam pada mas dukun Joko karena mengirimkan guna guna pada kekasih gelapnya ndoro putri alias Nyi Melati.
Lalu bagaimana Nyi melati mengenal Mbah Anto hingga dirinya bisa menjalin hubungan tak biasa?
Nyi Melati alias Kumalasari alias ndoro putri berkenalan tanpa sengaja dengan Mbah Anto saat Nyi melati duduk termenung di sebuah perkebunan teh saat berlibur ke puncak. Mbah Anto menemukan ndoro putri terisak dan meratapi nasibnya. Ia yang iba pun bertanya pada wanita cantik dan muda itu.
Nyi Melati yang rapuh akhirnya bercerita panjang lebar tentang nasibnya. Terpaksa melarikan diri dari pacar gilanya, dan dijadikan istri ketiga Wak dadan sungguh tak pernah disangka Nyi melati. Apalagi ia mendapat kabar dari Sukir jika kedua orang tuanya tewas terbunuh si pacar gila yang masih memburunya.
Nyi Melati alias Kumalasari tak terima dengan kematian kedua orang tuanya ia ingin membalas dendam dan Mbah Anto dengan senang hati membantunya. Hubungan keduanya pun berlanjut dari sekedar pengguna jasa menjadi pengisi hati. Mbah Anto jatuh hati pada ndoro putri dan mereka pun nekat menerobos pagar pembatas.
Jika ada waktu luang dan kesempatan Ndoro putri selalu menyempatkan bertemu dengan Mbah Anto. Biasanya mereka akan bertemu di sebuah villa di kota yang disewa khusus untuk memadu kasih. Sayangnya perbuatan nekat mereka akhirnya diketahui oleh juragan Dadan.
__ADS_1
Lelaki beristri tiga itu tak terima dan meminta bantuan mas dukun Joko untuk mengirimkan teluh. Tapi entah apa yang dikirimkan mas dukun yang jelas ndoro putri menjadi begitu benci dan tersiksa siang malam, hingga akhirnya pergi meninggalkan Mbah Anto. Hal inilah yang kembali memicu api dari bara yang hampir padam.
Mbah Anto mengirim beberapa anak buah untuk mengawasi gerak gerik mas dukun Joko. Dengan iming-iming sejumlah uang besar, tak ada yang bisa menolak titah Mbah Anto. Termasuk membeli kaki tangan dan juga kekasih mas dukun Joko. Slamet dan Sundari.
Mbah Anto menunggu dua orang suruhannya dengan hati geram tak karuan. Ia tak terima dokter Arini yang di sekapnya selama lima tahun itu lolos dari jeratannya. Sambil memberi makan biawak kesayangannya, Mbah Anto menanti kedatangan mereka. Tak berselang lama Slamet dan Sundari pun datang.
Wajah keduanya memucat saat Mbah Anto melirik kan mata dengan tajam. Tatapannya bak bilah pedang yang langsung menghunus ke dada masing masing. Slamet dan Sundari saling memandang, saling senggol dan saling berbisik.
"Maju Sun!"
"Iish, pie sih mas Slamet aja yang maju duluan! Aku belakangan aja."
"Wedi aku, jeruk purut Sun!
"Jeruk nipis mas, podo asem'e!" timpal Sundari dengan senyuman masam.
"Duduk!"
"Nggih ndoro!" sahut keduanya kompak.
"Kalian minta aku bunuh disini, hah!" mbah Anto membentak keduanya dengan mata melotot.
Slamet dan Sundari gemetar keduanya menunduk dalam. "Duit yang keluar buat kalian itu sudah banyak, tapi mana hasilnya! Mana?!"
Slamet mengikuti perintah Mbah Anto, ia berdiri dengan kepala menunduk.
PLAAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Slamet, diikuti dengan tamparan dan pukulan lain yang dilayangkan Mbah Anto ke tubuhnya. Slamet babak belur tak berdaya, sementara Sundari ketakutan dengan apa yang terjadi di depan matanya.
"Beraninya kamu membiarkan Arini hanyut! Kenapa, apa alasanmu?!"
"Ampun ndoro, ampun! Saya benci liat dia ndoro, gara-gara Arini juragan Dadan meninggal dan gara-gara dia juga ndoro putri harus pergi. Padahal ndoro putri baik sekali sama saya dan juga keluarga," sesalnya dengan kalimat terbata.
Mbah Anto menarik kerah baju Slamet dan menyeringai, "Kamu aku bayar untuk membunuh si Joko bukan Arini! Dia pengganti Kumalasari, aku cinta sama dia!"
"Ampun ndoro, ampun … saya pikir ndoro benci sama Arini jadi waktu dia ada di sungai saya nggak berniat untuk nyelamatin dia!"
"Aaargh, goblok!" Mbah Anto berteriak frustasi, mengumpat dan memakai Slamet sepuasnya.
"Kau tahu, Arini selamat! Aku bisa merasakan keberadaan Arini!"
__ADS_1
"Di-dia selamat? Di-dimana ndoro biar saya jemput." tanya Slamet takut.
"Aah, nggak perlu! Kamu bisa bongkar semuanya nanti! Tugas kamu yang utama bunuh si Joko itu, dan pastikan kali ini si Joko mati!"
"Nggih, ndoro. Saya janji kali ini akan berhasil. Saya permisi ndoro!" Slamet pun undur diri.
Melihat Slamet pergi, Sundari pun segera mengikuti. Ia tak mau kena apes dipukuli Mbah Anto.
"Mau kemana kamu?!" tanya Mbah Anto pada Sundari, wanita seksi itu pun berhenti lalu perlahan berbalik dengan kepala tetap menunduk.
"Yang selesai urusannya dia, bukan kamu!"
Sundari semakin menundukkan kepala, tangannya gemetar dan semakin kencang mere-mas ujung kaosnya.
"Informasi apa yang kamu dapat?"
"Ehm, dokter Nayla ndoro … dia mulai ikut campur sama urusan polisi-polisi itu."
"Terus?"
"Tenang ndoro, saya sudah bikin cerita lain supaya mereka nggak mencurigai kita."
"Maksud kamu?"
Sundari yang awalnya ragu mendekat karena takut kini berbisik pada Mbah Anto. Lelaki tampan yang semula memasang wajah bengis akhirnya melunak. Senyum pun tersungging di bibir tipisnya.
"Bagus! Terus lakukan, dan buat mereka bingung dengan informasi yang kamu berikan."
Sundari pun tersenyum tipis dan mengangguk. "Siap ndoro, pokoknya demi ndoro saya siap lakukan apa aja!"
Sundari sengaja tak menjauhkan wajahnya setelah berbisik, ia ingin menatap wajah sang dukun tampan dari dekat. Wajah yang membuatnya berfantasi liar, jemari nakalnya mulai beraksi dengan menyentuh dada bidang berotot milik sang dukun.
Mbah Anto terpancing, ia menangkap jemari Sundari dan menarik tubuh janda montok itu merapat kepadanya. "Jangan memulai, kalau nggak mau menanggung akibatnya."
"Saya nggak mulai Mbah, cuma lagi ngitungin berapa centi lebarnya dada Mbah." Kerlingannya nakal menggoda.
"Mau dipasang susuk dimana lagi? Ayo, masuk kedalam."
"Simbah memang tahu apa yang saya mau, gratis kan?"
"Gratis asal … kamu tau kan maksudku?"
__ADS_1
Mata Mbah Anto menyusuri lekuk tubuh Sundari yang indah. Jakunnya bergerak naik turun berusaha menahan hasrat yang mulai memanas. Sundari mengerling dan mengikuti langkah Mbah Anto masuk ke ruangan sakralnya.