Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Dimana Nayla?


__ADS_3

"Nayla!"


"Tegar!"


"Pak Agus!"


Warga desa bersahutan memanggil nama ketiganya secara bergantian. Motor milik Tegar ditemukan masih utuh di tempatnya.


"Apa mungkin mereka hanyut dibawa sungai?" tanya pak Tarmiji pada Budi.


Budi tak menjawab, ia memeriksa keadaan sekitar. Tak ada yang mencurigakan. Motor masih utuh dan tak ada kerusakan sama sekali, ia kemudian berjalan perlahan mencari petunjuk dengan penerangan seadanya.


Sesuatu menarik perhatiannya diantara bebatuan sungai. 


"Menemukan sesuatu?" tanya dokter Putra, Budi menunjuk ke arah bebatuan besar.


Ada patahan kayu disertai noda darah. Budi mengikuti noda darah yang tercecer. "Ada perkelahian, tapi bisa juga ini jejak dari melawan binatang buas."


"Sepertinya nggak mungkin mas. Seumur umur saya nggak pernah dengar ada binatang buas turun dari hutan. Anjing hutan aja nggak ada." Pak Tarmiji mementahkan perkiraan kedua Budi.


Budi terdiam, ia kembali berjalan menyusuri tepian sungai mencari jejak yang tersisa dari perkiraan perkelahian. Bisa jadi jejak darah, alat yang digunakan, potongan tubuh, atau bisa jadi mayat. Tapi yang lebih diharapkan dari Budi adalah menemukan ketiganya dalam keadaan selamat.


"Woooy, disini!" suara salah satu warga terdengar menggema di sela bunyi aliran sungai.


Budi dan yang lainnya segera mendekat. "Ada apa? Menemukan sesuatu?" Budi bertanya cepat, adrenalinnya meningkat saat menemukan tubuh bersimbah darah dalam posisi tertelungkup.


Dengan hati-hati pak Tarmiji membalik tubuh kaku itu, "Ada yang kenal ini siapa?" tanya nya pada yang lain, warga berbisik dan menggelengkan kepala.


"Dia bukan warga desa sini mas, kalo desa sebelah kami kurang paham juga." Pak Tarmiji menegaskan.


"Disini ada satu lagi!" teriak warga lagi.


Budi bergegas memeriksa, tubuh pria bertubuh besar kali ini terlihat seperti dicabik-cabik, mengerikan. Wajahnya penuh luka cakaran, dan di dadanya ada luka tusuk tembus dari belakang.


"Astaghfirullah Al adzim, siapa yang melakukan hal ini!" bisik warga dengan ekspresi penuh kengerian.


"Apa yang sebenarnya terjadi di desa ini, Bud?" Anton bertanya menatap dua jasad tak bernyawa itu.

__ADS_1


"Aku juga nggak paham, feeling ku mengatakan kalo Nayla mungkin dalam bahaya!"


"Aku rasa juga begitu, tapi dimana dia?" 


Anton kembali mengedarkan pandangan ke sekeliling. Malam tak memberikan cahaya sedikitpun untuk mempermudah pencarian. Bisa jadi petunjuk penting terlewatkan atau malah rusak tanpa disengaja karena terinjak atau terhapus oleh warga yang sedang menyisir lokasi.


"Mas Budi, mas Anton!" Dokter Putra memanggil keduanya, mereka pun segera mendekat.


"Lihat ini! Ini kan sepatu Nayla!" Dokter Putra panik, Budi meraih sepatu itu dan memperhatikannya dengan baik.


"Aku rasa Nayla masuk ke hutan sana," Budi menunjuk ke arah seberang, ia kembali berjalan dan menemukan pasangan sepatu tadi. 


"Kamu yakin Nayla kesana?" Anton kembali memastikan.


"Yakin nggak yakin sih, tapi patut kita coba kan? Kita bagi dua tim, aku dan dokter Putra ke arah hutan dan tim kedua menyisir lokasi ini."


Anton mengangguk, "Bantuan satu jam lagi sampai, semoga bisa lebih cepat!"


Mereka pun bergerak cepat, waktu adalah hal yang sangat berharga. Mereka tidak mengetahui keadaan Nayla, apakah dia dalam kondisi aman atau justru terancam.


"Mas Budi, saya takut Nayla akan _,"


Budi membawa timnya dan warga desa memasuki hutan. Mereka memanggil nama Nayla dan Tegar secara bergantian. 


"Tunggu, berhenti!" Budi menghentikan langkah timnya.


"Ada apa mas Budi?" Dokter Putra bertanya dengan was-was.


Budi berjongkok dan menemukan goresan baru disertai tetesan darah di batang pohon Pinus. "Goresannya unik, ini bukan senjata tajam biasa? Ini semacam … cakar? Ah nggak mungkin, pak Tarmiji bilang tidak pernah ada binatang buas."


"Gimana mas polisi? Lanjut?" seorang warga menghampirinya.


"Kita lanjutkan, cari batang kayu atau apa pun yang bisa digunakan untuk membela diri!"


Budi mengarahkan warga untuk mengambil apa pun yang bisa digunakan untuk melawan ranting besar, batu, atau batang kayu yang ada disekitar mereka. Situasi mendadak tegang, mereka memasang mata dan telinga memperhatikan pergerakan mencurigakan di sekitar mereka.


"Waspada, dan saling melindungi!" seru Budi yang semakin membuat suasana semakin mencekam.

__ADS_1


Hutan itu terasa begitu gelap dan menakutkan, kabut yang turun semakin memperburuk jarak pandang. Mereka tak peduli lagi dengan dinginnya udara yang menggigit. 


"Nay, bertahanlah!" Budi mengucapkan selarik harapan untuk dokter muda yang telah mencuri perhatiannya.


...----------------...


Nayla meringkuk sendirian dalam gelap, ia kedinginan, ketakutan dan juga kesakitan. Wajahnya memar dan tubuhnya juga dipenuhi luka gores. Matanya awas mengamati pergerakan sekitar. Ia bersembunyi di balik semak, menanti seseorang atau siapa pun yang datang menyelamatkan dirinya. 


Apakah ada? Entahlah, pikiran Nayla berkecamuk. Ia menyesal tidak membawa serta ponselnya, ia menyesal berniat memancing Tegar untuk berbicara tentang masa lalunya. Nayla juga menyesali kebodohannya yang terlalu ikut campur dengan kasus kematian warga. Andai ia mengikuti nasihat ayahnya, andai dan andai, dan semua sudah terlambat.


Kini Nayla bahkan tak tahu ada dimana, ia hanya mengikuti suara yang menuntunnya untuk bersembunyi di balik semak. Suara yang berbisik lembut di telinganya, untuk mengikuti kunang-kunang yang entah darimana muncul.


Nayla terisak sambil menutup mulut. Ia mengingat kengerian yang terekam dalam memorinya. Sungguh Nayla tak mengira jika Tegar bisa berubah beringas bak binatang liar. Sesaat setelah Nayla berhasil menyeberangi sungai, orang suruhan Mbah Anto mengejarnya. Dua lelaki berbadan tegap mengejarnya cepat. Begitu juga dengan lelaki bernama Mbah Anto.


Nayla yang ketakutan terus berlari, tapi kekuatan Nayla tidaklah sebanding dengan kekuatan anak buah Mbah Anto. Nayla tertangkap. Mereka memperlakukan Nayla dengan kasar. Mbah Anto pun sempat menghadiahinya tamparan demi mendapatkan informasi tentang Arini dan ndoro putri.


Tentu saja Nayla tidak mengetahuinya, ia hanya melihat kilasan masa lalu ndoro putri dan tentang Arini ia sama sekali tidak mengerti apalagi mengetahui keberadaannya. Saat Mbah Anto dan kedua anak buahnya menyekap Nayla, saat itulah keanehan terjadi. Satu lelaki berbadan tegap yang sedang memegang tangannya, tiba-tiba terangkat dan terhempas begitu saja menghantam pepohonan.


Nayla terperangah, ia bingung. Rasa terkejutnya belum usai ketika Nayla melihat Tegar muncul bersimbah darah. Awalnya ia tersenyum lebar dan mengira Tegar akan menyelamatkan dirinya tapi suara geraman aneh Tegar membuat Nayla ciut nyali. Pemuda eksotis yang selalu menemani dan bersenda gurau dengannya itu berubah.


Ia menghabisi nyawa dua anak buah Mbah Anto dengan sadis. Nayla mual melihat Tegar mencabik, menggigit dan mencakar kedua pria berbadan tegap itu. Hanya dalam hitungan menit. Tegar bertingkah layaknya binatang buas yang kelaparan dan haus darah. Sejatinya Tegar telah dimasuki sosok makhluk penjaga Nyai Kembang.


Nyai Kembang muncul saat Tegar memanggil dan Sang Nyai pun membantu dengan mengirim pengawalnya untuk merasuk ke dalam tubuh Tegar. Itu sebabnya Tegar dengan mudah menghabisi nyawa pengikut Mbah Anto meski dilihat dari segi fisik dan kekuatan Tegar kalah. Nayla berhasil melarikan diri saat Mbah Anto dan Tegar bertarung.


"Siapapun tolong selamatkan aku!" humamnya lirih, ia semakin membenamkan wajah dalam pelukannya sendiri.


SREEK!! 


KRAAK!!


Suara ranting terinjak membuat isakan Nayla berhenti. Matanya mengedar ke sekitar berusaha melihat dalam keremangan malam. Langkah kaki terdengar jelas mendekati Nayla. Jantung Nayla berdegup kencang, ia pasrah dan tak tahu lagi harus bagaimana selain hanya diam membeku dan bersembunyi dalam semak.


"Kau bersembunyi disini rupanya!" suara serak dan parau terdengar dari belakang tubuhnya.


Nayla hendak menjerit tapi tertahan dengan tangan berkuku tajam yang membekapnya. Mata Nayla terbelalak tapi sejurus kemudian berubah menjadi kengerian tak terkira. Tubuh Nayla diseret paksa keluar dari dalam semak. Tak ayal duri tajam pun merobek jaringan tipis di permukaan atas tubuhnya.


Nayla meronta tapi kalah tenaga. Sosok itu terus membawanya paksa tak peduli dengan jeritan tertahan Nayla dan pukulan tak berarti dari dokter muda itu.

__ADS_1


"Ayah, tolong! Selamatkan aku!"


 


__ADS_2