Temani Aku Mati

Temani Aku Mati
Ada apa dengannya


__ADS_3

Nayla berjalan dengan gemetar, ia sangat berharap semua baik-baik saja dan mimpinya tak menjadi nyata. Tubuhnya ditarik kuat oleh tangan yang Nayla tak tahu siapa.


"Cepetan dok, mas dukun darahnya banyak banget!" Slamet terlihat panik.


Nayla segera masuk ke dalam rumah mas dukun Joko dan mendapati pria itu mengerang kesakitan di lantai. Luka menganga jelas terlihat di bahu kanannya.


"Kita harus bawa ke klinik! Saya nggak bawa alat-alat untuk luka sebesar ini!" serunya setelah memberikan penanganan sementara.


Slamet dibantu warga lain segera membawa mas dukun yang kehilangan banyak darah menggunakan mobil salah satu warga desa. Nayla merapikan tasnya dan bergegas menyusul, tapi ketika ia melangkah kakinya terasa begitu berat. Nayla mencoba mengerakkannya tapi tak juga berhasil. 


Rasa tak nyaman mulai menyerangnya, dengan gemetar dan jantung yang berdegup kencang Nayla menatap kebawah. Ia mendapati jemari pucat kebiruan dan berkuku hitam menahan kedua kakinya. Suara Nayla tercekat, ia perlahan menoleh ke belakang.


"Ikut aku cah ayu, jangan pergi!"


Sosok yang sama yang Nayla lihat saat Bowo kerasukan itu ada dibelakang menyeringai dengan gigi kehitaman serta taring mencuat. Nayla terbelalak, ingin berteriak tapi tak sanggup. Ia berusaha melepaskan diri tapi tak juga bergerak. 


"Pergi! Jangan ganggu aku!"


"Aku suka baumu, ikutlah denganku cah ayu!"


Nayla menggeleng kaku, semua persendiannya terasa sulit digerakkan. Sosok itu menegakkan tubuhnya dari posisinya yang merangkak terbalik, sosok tinggi besar berbulu yang menyeramkan. Nayla memejamkan mata, berharap semua itu hanya mimpi.


'Ibu, tolong Nay!' yeriaknya dalam hati.


"Nay, kamu kenapa?" satu tepukan keras menyadarkannya, perlahan ia membuka mata.

__ADS_1


"Tegar?!"


Tegar memiringkan kepalanya, heran melihat Nayla yang memejamkan mata dengan ekspresi ketakutan. "Ada apa sih?" Tegar celingukan melihat sekitar.


Nayla dengan takut-takut memperhatikan sekitar dan memastikan sosok itu menghilang."Nggak, ayo kita susul mas dukun ke klinik!" ia bergegas pergi dan menarik tangan Tegar untuk mengikuti.


Nayla tak ingin sendiri, ia takut sosok itu akan kembali datang. Beberapa meter setelah berjalan Nayla menoleh ke belakang, sosok mengerikan itu berdiri tepat di teras rumah mas dukun menyeringai padanya. Ia pun segera mempercepat langkah kaki, Tegar yang mengikutinya dibuat semakin heran dengan tingkah Nayla.


"Kamu kenapa sih Nay, kayak liat hantu gitu?!"


"Emang liat hantu! Udah cepetan jalannya!" Nayla tak lagi menengok ke belakang ia segera pergi berboncengan sepeda motor dengan Tegar.


Sesampainya di klinik, mas dukun Joko sudah ditangani dokter Putra. Beberapa luka terpaksa mendapat jahitan. Nayla membantu ayahnya membersihkan dan mengobati luka lain. 


Mas dukun Joko meringis saat lukanya diberi larutan sodium klorida. "Saya juga manusia biasa yang punya apes mbak dokter," 


"Ooh, kirain. Lagian ada masalah apa sampai begini kejadiannya? Trus yang bacok mas dukun kemana larinya?" Nayla kembali bertanya, tangannya masih cekatan menutup luka dengan perban.


Mas dukun Joko tidak menjawab, ia terlihat bingung dan menyembunyikan sesuatu. Nayla melirik ke arah dukun muda yang selalu menatapnya mesum itu. Tegar pun melakukan hal yang sama, tatapan tajam ditujukan pada pria yang bergelar dukun itu.


"Mas Dukun! Duh, saya kok ditinggalin sih mbak dokter!" Sundari muncul ke dalam ruangan dengan keringat bercucuran.


"Lah, mbak darimana tadi? Saya nyariin nggak ada lho!" elak Nayla yang memang tidak melihat Sundari saat di rumah mas dukun Joko.


"Laaah mbak Nayla nggak tahu apa saya pingsan di depan!" sungutnya dengan bibir mencebik.

__ADS_1


"Eeh, pingsan? Maaf saya fokus sama mas dukun sampai nggak lihat kondisinya mbak Ndari."


Sundari melengos kesal, pandangannya beralih pada mas dukun kekasihnya. "Kamu nggak apa-apa kan sayangku?" tanyanya manja sambil duduk disebelahnya.


Dokter Putra dan Nayla hanya tersenyum masam dan saling memandang. Mas dukun Joko terlihat tak suka dengan kedatangan Sundari, ia mengerjapkan mata seolah ingin mengusir Sundari keluar.


"Kok diem aja sih, malah matanya gitu? Kenapa, kangen ya sama aku? Nanti malam deh aku temenin tidur disini." 


Sundari menatap dokter Putra, "Boleh kan pak dokter, Sun disini? Kasian mas dukun nggak ada yang ngelonin!"


"Eeh, ehm iya … boleh!" Dokter putra tergagap saat menjawab karena tangan Sundari meraih tangannya.


Rengekan manja Sundari membuat Nayla mual, wanita berusia lebih tua lima tahun darinya itu benar-benar seperti ulat gatal yang tak peduli situasi dan tempat.


"Nama panggilannya siapa sih Sun apa Ndari?!" tanya Nayla kesal.


"Yayang juga boleh mbak Nayla." sahut Sundari sambil mengerlingkan mata sebelah pada Tegar, Nayla menggelengkan kepala.


"Nay!"


Tegar yang sedari tadi diam memperhatikan di dalam ruangan memanggil Nayla memintanya keluar ruangan sejenak.


"Ada apa?"


"Kayaknya kamu nggak perlu tahu deh siapa yang jadi lawan tanding mas dukun!" 

__ADS_1


__ADS_2